DUNIA PENDIDIKAN
DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN

Dalam proses tinggal landas, Bangsa Indonesia harus benar-benar mampu membebaskan dirinya dari buta huruf ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan itu harus kita awali secara sadar dengan mengembangankan sisi pembudaya- an dan sisi pengajaran sebagai dua unsur pendidikan yang perlu seimbang satu dengan lainnya, di dalam setiap jenjang dan semua jenis pendidikan.

Dengan mempertimbangkan kadar dan jenis potensi negara kita dari daerah-daerah serta variasi dalam pemanfaatan potensi tersebut, strategi pendidikan di masa depan harus mengurangi pola generalisasi dan mulai mengarah pada penumbuhan potensi lokal. Sambil mengupayakan adanya kerjasama dan partisipasi dari semua unsur yang terkait dengan masalah pengembangan pendidikan.

Pendidikan harus berorientasi pada kebutuhan perusa- haan-perusahaan yang melaksanakan Pertumbuhan Produktivitas Prestasi Perorangan/ Perusahaan (P4) dan Pertumbuhan Produktivitas Prestasi Nasional (P3N).

(B.J. Habibie)

Upaya pengembangan sumberdaya manusia tidak mungkin dipisahkan dari persoalan pendidikan. Bahkan dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan inti dari proses pengembangan sumberdaya manusia.

Karena hal ini merupakan bantalan yang amat vital dalam kerangka pengembangaan pontensi-potensi energi manusiawi Indonesia, maka dalam uraian terdahulu telah kita katakan bahwa masalah pendidikan adalah masalah yang sangat kritis, dan untuk itu kita tidak boleh ber-eksperimen. Sebaliknya kita juga tidak boleh hanya terpaku pada pakem-pakem yang telah baku, tanpa upaya revisi dan reformasi bagi kemungkinan penyempurnaannya di masa depan. Cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah mecoba bercermin dari pengalaman masa lalu, sambil belajar dari cara-cara yang ditempuh oleh bangsa-bangsa lain yang telah berhasil dalam bidang ini untuk disesuaikan dengan dinamika yang terjadi dalam konteks dan situasi Indonesia.

Bila kita bercermin pada masa lalu, segera akan kita sadari betapa besarnya peranan pendidikan dalam upaya transformasi bangsa Indonesia. Sejarah mencatat, misalnya, kendatipun Politik Etis-nya Belanda yang memberi peluang bagi warga Bumiputera tertentu untuk mengenyam bangku sekolahan tidak secara tulus dimaksudkan untuk mencerdaskan warga tanah air ini, tetapi terbukti sangat besar peranannya dalam menumbuhkan kader-kader pergerakan dan kesadaran kebangsaan di kalangan inlander. Sejarah juga mengabarkan, Kebangkitan Nasional Indonesia tanggal 20 Mei tahun 1908, yang mencanangkan pemberantasan buta huruf, secara nyata telah berhasil menggerakkan perjuangan nasional bangsa Indonesia; yang di kemudian hari berturut-turut menelorkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober tahun 1928, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, terwujudnya Orde Baru mulai tahun 1966, serta dilaksanakannya Pembangunan Jangka Panjang 25 tahun tahap pertama mulai tahun 1969.

Tapi hendaknya perlu disadari bahwa pada setiap zaman ada tantangannya sendiri-sendiri. Dan itu membawa implikasi pada perubahan orientasi dan titik berat dalam dunia pendidikan. Tantangan kita dalam era Pembangunan Jangka Panjang Kedua adalah keinginan untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang maju dan mandiri, sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju. Untuk mencapai tujuan ini, telah menjadi komitmen bangsa Indonesia, bahwa tumpuan utamanya terletak pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tersedianya sumberdaya manusia yang bermutu tinggi.

Maka dari itu, di dalam proses tinggal landas selama PJP II, Bangsa Indonesia harus benar-benar membebaskan dirinya dari buta huruf ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia pendidikan ditantang untuk mempersiapkan putra-puteri Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu mengaplikasikannya di dalam segala bidang kehidupan, utamanya untuk meningkatkan nilai tambah dalam proses produksi barang dan jasa, dalam rangka memperbaiki kesejahteraan rakyat.

Meskipun demikian, ada hal yang tak boleh dilupakan. Bahwa setiap upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia haruslah berpijak pada landasan nilai yang menjadi penuntun dan pedoman hidup bangsa Indonesia sendiri. Dalam kerangka ini pendidikan nasional mendapatkan peranan yang sangat penting. Orientasi pendidikan di Indonesia tidak hanya diarahkan untuk menciptakan manusia-manusia terampil dalam bidangnya masing-masing, tetapi sekaligus memperlengkapi mereka dengan kesadaran etis serta keinginan kuat untuk membaktikan karyanya demi kepentingan orang banyak (baca: pembangunan). Dengan kata lain, pendidikan nasional bukan saja menangani masalah peningkatankecerdasan dan keterampilan, tetapi juga harus menitikberatkan usahanyauntuk membentuk kelengkapan-kelengkapan yang menjangkaau jauh pada konstelasi sikap, kepribadian dan kepemimpinan seseorang.

Di sini terlihat bahwa masalah pendidikan menyangkut persoalan yang bersifat multi dimensional. Dengan berbagai keterbatasan, fokus perhatian tulisan ini akan lebih diarahkan pada upaya-upaya pragmatis untuk mencari relevansi dunia pendidikan dalam rangka mempersiapkan proses transformasi bangsa menuju masyarakat industri.

Menyeimbangkan Sisi Pembudayaan dan Pengajaran

Membangun kualitas bangsa yang berpengetahuan, berketerampilan dan bertanggung jawab itu ternyata harus kita awali secara sadar dengan mengembangkan sisi pembudayaan dan sisi pengajaran sebagai dua unsur pendidikan yang perlu seimbang satu dengan lainnya, di dalam setiap jenjang pendidikan dan di dalam semua jenis pendidikan umum.

Berdasarkan pandangan ini, perlu ditempuh kebijaksanaan untuk melaksanakan pendidikan formal dan non-formal di dalam suatu jalur yang bersifat dwitunggal, yang merupakan sisi tidak terpisahkan dari keping pendidikan yang sama, yang terdiri dari aspek pendidikan dan pengajaran. Dan dengan menggunakan metafor demikian, dengan sendirinya pembudayaan dan pengajaran perlu seimbang pada setiap keping pendidikan yang dimiliki seseorang, seberapa pun besar keping itu. Pengajaran yang lebih tinggi menuntut pembudayaan yang lebih tinggi pula; demikian juga sebaliknya.

Atas dasar itu, kita harus berani menilai dan bertanya: apakah Bangsa Indonesia sudah dipersiapkan, diarahkan, dan diberi kemampuan untuk berkembang melalui pendidikan formal dan non-formal yang mengandung unsur-unsur pembudayaan dan pengajaran sebagai sisi-sisi keping pendidikan yang seimbang?

Kita harus berani bertanya sekaligus berani memberikan jawabannya. Kita harus berani melakukan penyesuaian yang diperlukan. Dan arah penyesuaian itu adalah memberikan takaran yang seimbang pada pembudayaan dan pengajaran pada setiap jenis dan jenjang pendidikan. Seandainya dirasakan kurang unsur pendidikan agama (humaniora) pada kurikulum sekolah-sekolah dasar, menengah dan tinggi, maka hendaknya ditambahkan. Demikian juga, jika dirasakan masih kurang memadai, penga- jaran matematika, fisika, biologi dan ilmu-ilmu sosial pada kurikulum pendidikan di lembaga-lembaga keagamaan (seperti pesantren), maka perlu ditingkatkan. Kita perlu mengupayakan agar, pada setiap jenjang pendidikan, kedua unsur tersebut berada di dalam keseimbangan. Dan hal itu perlu kita lakukan pada keseluruhan mata rantai kurikulum dalam setiap jenjang pendidikan yang kita berikan pada manusia Indonesia.

Kedua hal itu perlu mendapatkan perhatian secara seksama, sebab sejarah dan teori ekonomi menunjukkan bahwa untuk meningkatkan produktivitas secara nyata diperlukan keseimbangan di antara keduanya, yaitu keseimbangan antara pembudayaan dan pengajaran sebagai dua sisi dari keping pendidikan yang sama. Untuk menghasilkan produktivitas yang tinggi perlu masukan yang bersifat budaya berupa kesediaan bekerja keras, naluri ketelitian dan kecermatan, wawasan jangka panjang, kebanggaan akan pe-kerjåan yang bermutu dan motivasi budaya lainnya.

Hanya dengan masukan budaya ini maka produktivitas multifaktor akan dapat ditingkatkan menjadi produktivitas prestasi, baik produktivitas prestasi perorangan, maupun secara kelompok berupa produktivitas prestasi perusahaan, atau lebih agregat lagi, berupa produktivitas prestasi nasional.

Akan tetapi, aspek pembudayaan saja tidaklah memadai. Kita harus menyempurnakan produktivitas prestasi suatu bangsa lewat proses pengajaran secara sistematis dan tepat guna. Dikatakan sistematis berarti bahwa proses pengajaran itu harus ditempuh melalui prosedur dan tahap-tahapan tertentu yang tertata secara teratur, seiring dengan tingkat perkembangan peserta didik serta perkembangaan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri. Sedangkan yang dimaksud dengan tepat guna berarti bahwa materi dan metode pengajaran yang diberikan harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi masyarakat serta mampu mengantisipasi berbagai dinamika dan tantangan di masa depan.

Dalam hal yang terakhir ini, tantangan mendesak yang kita hadapi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rak-yat dan tumbuh sebagai bangsa yang bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju adalah tantangan untuk menciptakan berbagai produk barang dan jasa yang dapat bersaing di pasar dalam dan luar negeri.

Tantangan ini hanya bisa dihadapi jika kita benar-benar memiliki sistem kapabilitas ilmu pengetahuan daan teknologi nasional yang tangguh. Membangun sistem kapabilitas teknologi nasional berarti, membina dan membekali manusia Indonesia dengan materi pengetahuan dan keteram-pilan yang relevan dengan tuntutan zaman yang dapat memperkokoh daya saing bangsa ketika berhadapan dengan persaingan ekonomi dunia yang kian ketat. Tugas ini ditumpukan ke dalam dunia pendidikan. Dan dunia pendidikan ditantang untuk memberikan jawaban yang tepat.

Salah satu tantangan pendidikan di masa depan adalah upaya untuk mencari komposisi yang lebih proporsional antara luaran bidang-bidang sains dan teknologi dengan bidang-bidang sosial dan humaniora.

Sebuah studi M.I.T mengenai daya saing ekonomi Amerika Serikat berkesimpulan bahwa salah satu sebab lebih rendahnya PPN Amerika Serikat dibanding dengan Jepang dan Jerman Barat adalah karena jumlah lulusan bidang rekayasa perguruan tinggi Amerika Serikat hanya sekitar 6 persen dari jumlah lulusan keseluruhan. Sedangkan lulusan rekayasa di Jepang adalah 20 persen dari total jumlah lulusan, sementara di Jerman Barat 37 persen.

Selain perlunya peningkatan jumlah lulusan jurusan-jurusan eksakta, yang tak boleh dilupakan juga adalah upaya untuk memperluas pengajaran mata kuliah (pelajaran) eksakta pada semua jenjang dan berbagai ju-rusan studi, termasuk bidang sosial. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa dewasa ini, tidak ada satu disiplin ilmu pengetahuan pun yang tidak memanfaatkan perangkat-perangkat keras elektronik di dalam analisis permasalahan serta dalam pengumpulan dan transmisi data. Pemanfaatan alat-alat ini membutuhkan pengetahuan dan bahasa tersendiri. Karena itu, dewasa ini tidak ada satu disiplin ilmu pengetahuan pun yang tidak menggunakan cara berpikir analitis, matematis dan numerik. Trend perkembangan ini akan berlangsung terus di masa depan. Oleh karena itu merupakan hal yang penting sekali bahwa anak didik kita sedini mungkin dipersiapkan dan dilatih untuk berpikir secara rasional, secara logik, analitis dan numerik. Karena itu, rasanya tidak berkelebihan jika porsi pelajaran eksakta di masa-masa mendatang harus lebih ditingkatkan.

Masukan Teknologi Pendidikan

Kendati demikian, tekanan pada bidang-bidang sains dan teknologi bukanlah satu-satunya jalan keluar. Problema selanjutnya yang kita hadapi adalah bagaimana meningkatkan efektivitas proses belajar-mengajar agar dapat memenuhi tuntutan di atas secara baik. Dalam hal ini, dunia pendidikan dituntut untuk melakukan suatu reformasi. Perlu ada pengkajian ulang baik mengenai visi, orientasi, bahkan strategi dan metodik yang dikembangkannya agar dunia pendidikan kita benar-benar mampu memfasilitasi berbagai tantangan dan dinamika yang terjadi.

Ada banyak cara yang bisa ditempuh. Pada tingkat yang paling pragmatis, bisa ditempuh dengan cara mengintegrasikan dan meningkatkan pemanfaatan teknologi pendidikan secara optimum. Yang dimaksud dengan teknologi pendidikan di sini memiliki lingkup yang amat luas, baik yang menyangkut perangkat lunak seperti, perbaikan kurikulum, sillabus, metode pengajaran dan sebagainya; maupun pe-rangkat keras, yaitu penggunaan seperangkat peralatan teknis (seperti penggunaan radio, TV, kaset dan sebagainya), tanpa mengubah inti dari sistem itu sendiri.

Bila kita melihat situasi pendidikan dan status sosial dari sebagian besar anak didik dewasa ini, kita dihadapkan pada berbagai masalah yang berkaitan dengan penerapan teknologi. Kompleksnya masalah yang menyangkut anak didik itu sendiri, staf pengajar, faktor lingkungan, biaya fasilitas pendidikan dan sebagainya.

Teknologi pendidikan dapat menciptakan adanya keseimbangan anak didik: antara pembinaan nilai, sikap, pe-ngetahuan, kecerdasan, keterampilan dan komunikasi serta ekologi. Setidak-tidaknya hal itu bisa berguna untuk hal-hal sebagai berikut:

  1. Bahwa konsep pendidikan umum yang selama ini diterapkan, yang menghasilkan kurikulum pada bentuk-bentuk abstrak dari ilmu pengetahuan (teori-teori), dapat diintrodusir dengan pengalaman-pengalaman belajar yang berasal dari perbuatan-perbuatan praktis, sehingga anak didik dikenalkan dengan dunia kerja;
  2. Menemukan dan mengembangkan bakat, sikap dan minat anak didik yang terpendam;
  3. Mengembangkan sepenuhnya sumberdaya insani yang berbakat, tidak terikat oleh kelahiran, status sosial atau tempat berdomisili;
  4. Menyangkut efisiensi dan pembiayaan pendidikan; yaitu memungkinkan pembiayaan peran anak didik yang lebih rendah, penggunaan tenaga pengajar lebih efisien, begitu juga prasarana dan sarana pendidikan, dan
  5. Menyangkut alasan demokratisasi; dengan penerapan teknologi pendidikan, upaya-upaya mencerdaskan dan menggali potensi bangsa diharapkan bisa menyentuh lapisan masyarakat yang lebih luas; dapat menjangkau daerah terpencil sekalipun.

Untuk memprogramkan langkah-langkah itu, tentunya tidak dapat dilakukan secara sempurna dalam waktu yang singkat. Namun secara berangsur-angsur usaha ini perlu direalisasi dan dikembangkan secara nyata. Misalnya, kesempatan kerja waktu libur dalam lingkungan yang searah dengan bidangnya, harus ditingkatkan sejauh mungkin. Program ini dilangsungkan di luar acara kerja wajib. Dan dalam rangka itu, para peserta didik (siswa/mahasiswa) tidak mempunyai tugas khusus kecuali mencoba mengenal lingkungan.

Oleh instansi-instansi penampung, mereka ini hendaknya dianggap sebagai pekerja biasa agar dapat mendalami masalah sosial maupun teknis di tingkat yang rendah. Kepada perusahaan-perusahaan, instansi-instansi sipil maupun mili-ter, lembaga-lembaga kenegaraan maupun kemasyarakatan dan lain-lain, dihimbau untuk secara periodik melakukan "buka pintu" untuk kunjungan sekolah bagi siswa-siswa sekolah tingkat menengah.

Demikian juga kunjungan ke obyek-obyek kemasyarakatan seperti, daerah pertanian, instalasi pengairan, proyek-proyek pembangunan dan sebagainya dapat merangsang peresapan terhadap problema lingkunyan dari kecil. Di samping itu acara-acara ceramah oleh para tokoh masyarakat, para pejabat, para ahli dan cerdik cendekiawan dan lain-lain yang dilakukan di sekolah-sekolah secara teratur dapat merupakan dorongan yang kuat untuk menghayati masalah pembangunan lingkungan.

Usaha meningkatkan efektivitas pendidikan ini harus dibarengi dengan penciptaan suasana yang menunjang. Pertama-tama yang harus dilakukan adalah menanamkan kesadaran yang tinggi di kalangan masyarakat, bahwa usaha pendidikan merupakan urusan dan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. Terutama sekali partisipasi perusahaan-perusahaan, badan-badan, organisasiorganisasi dan sebagainya harus dapat ditunjukkan dengan nyata melalui pemberian fasilitas kerja praktek untuk para siswa/mahasiswa, penyediaan dana secara periodik untuk tujuan pendidikan, membuka dirinya untuk acara kunjungan para pelajar, menyebarluaskan teknologinya melalui ceramah-ceramah dan sebagainya.

Di samping itu hendaknya mulai ditinggalkan sebuah sikap yang sering terjadi, seperti perusahaan-perusahaan hanya mendapatkan tenaga-tenaga terdidik melalui jalur iklan saja. Seyogyanya peranan partisipasi dalam pendidikan ini dapat ditingkatkan melalui penyediaan beasiswa, pemberian insentif pada program riset di perguruan tinggi, menyediakan hadiah-hadiah keberhasilan bagi pelajar, menggalakkan riset di kalangan perusahaan sendiri, memberi kesempatan peningkatan keterampilan bagi pegawainya sendiri dan sebagainya.

Guna lebih menunjang suasana peningkatan efektivitas pengajaran, secara khusus perlu digalakkan partisipasi para ahli dan cerdik-cendikiawan kita melalui penulisan buku-buku pelajaran yang memang searah dengan pembangunan Indonesia. Hal ini tidak berarti bahwa kita tidak mengindahkan terbitan-terbitan buku pelajaran yang berasal dari sumber-sumber asing. Tidak demikian. Sekali lagi, ilmu itu universal. Namun, dalam penjabarannya untuk kurun kebutuhan kita perlu ditangani oleh para ahli kita sendiri agar aplikasinya ke arah tepat guna lebih dapat berhasil.

Berkaitan dengan itu, masalah cetak-mencetak buku serta penerbitan lain yang menunjang pendidikan harus mendapat perhatian khusus agar terjangkau oleh yang membutuhkannya. Selain itu harus ditunjang pula eksistensi dan pengembangan usaha yang secara khusus memproduksi alat-alat yang dipergunakan dalam bidang belajar mengajar.

Akhirnya, semua itu hanya bisa berlangsung dengan baik, jika dibarengi penyediaan tenaga pendidik yang cukup banyak dan cukup bermutu. Dengan demikian tidak saja proses belanjanya sendiri harus ditingkatkan, tetapi kita juga bisa menghemat banyak melalui pengurangan jumlah drop-out dari sekolah-sekolah.

Untuk memungkinkan banyak orang dapat memenuhi prasyarat tingkat pendidikan yang diperlukan, dapat pula digalakkan adult education yang membuka kesempatan bagi orang dewasa untuk mencapai tingkat tertentu tanpa harus mengikuti jadwal kelas secara formal dan panjang. Sementara itu, untuk menggairahkan keinginan pening-katan dari profesi-profesi tertentu, perlu diadakan sistem pengkelasan sertifikat keterampilan yang sekaligus memiliki efek sipil. Misalnya, sertifikat montir, sertifikat tukang jahit, sertifikat sopir traktor dan sebagainya.

Pengadaan sertifikat ini serta penertiban pengkelasannya, di samping merupakan sarana motivasi yang positif untuk meningkatkan gairah belajar dan efektivitas per-baikan keterampilan di luar kerangka pendidikan formal, sekaligus merupakan masukan data yang nyata dalam me-ngevaluasi kebutuhan kita terhadap tenaga-tenaga terampil.

Dengan upaya-upaya tersebut, diharapkan efisiensi dan efektifitas pendidikan akan tercapai, terutama di dalam memeratakan masalah-masalah pendidikan dan usaha pemerataan pendidikan itu sendiri.

Pemerataan Pendidikan dan Penumbuhan Potensi Lokal

Ditinjau dari sudut keadilan dan penumbuhan potensi pembangunan, masalah pemerataan pendidikan merupakan salah satu prioritas dalam kebijakan kependidikan di Indonesia. Strategi pendidikan Indonesia ditujukan untuk mencerdaskan bangsa melalui pemberian kesempatan belajar kepada warganya yang tersebar di seluruh pelosok tanah air.

Kondisi yang ada saat ini memperlihatkan bahwa relatif lebih banyak tenaga terdidik terkumpul di Pulau Jawa dibandingkan dengan daerah lainnya. Sesuatu yang sebenarnya menyulitkan upaya pengembangan pendidikan dan penggalian potensi-potensi lokal.

Sehubungan dengan itu, pada Repelita-Repelita mendatang kegiatan di bidang pengembangan wilayah harus lebih ditingkatkan. Dan untuk itu, diperlukan sekali penyebaran tenaga ahli ke berbagai daerah sekaligus berusaha menumbuhkan pusat-pusat keunggulan sumberdaya-sumberdaya insani di daerah.

Di sini kehadiran universitas (daerah) menjadi sangat penting. Universitas merupakan pusat keunggulan yang sangat tepat untuk mendidik para sarjana di daerah. Para sarjana tersebut adalah manusia-manusia Indonesia yang mempunyai disiplin untuk mengadakan riset, sebagai tenaga ahli yang dapat berpikir sistematis, kritis dan rasional, yang mampu mengolah ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dapat disumbangkan untuk memperlancar pembangunan sesuai dengan situasi dan kondisi derahnya masing- masing.

Peranan universitas sangat besar. Karena dari sini awal kemajuan teknologi dimulai. Universitas sebagai lembaga pendidikan dan penelitian dapat menjadi tempat pemusatan tenaga-tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, yang akan mengurangi kemungkinan para sarjana dan te-naga ahli berpandangan sempit dan terbatas pada disiplin masing-masing. Pengetahuan dan pandangannya akan di-perluas dan diperkaya oleh rekan-rekannya yang melihat dan meneliti materi yang sama dari sudut pandangan yang berlainan sehingga akan terbuka kemungkinan untuk mendorong terjadinya inovasi yang lebih tinggi. Sebaliknya, materi penelitian yang sama merupakan landasan berpijak bersama yang pokok bagi disiplin-disiplin yang berdekatan. Dalam hal ini berlaku teori kesamaan (theory of similarity). Dengan demikian kita dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang ada, baik berupa tenaga ahli, dana maupun sarana penelitian dan pengembangan.

Pada masa yang akan datang, peranan universitas di daerah harus lebih menonjol dalam proses pengembangan wilayah. Universitas-universitas tersebut seharusnya aktif turut serta membantu Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam melakukan perencanaan maupun dalam implementasi perencanaan pembangunan, utamanya dalam usaha pemanfaatan sumber daya alam setempat.

Tentu hal ini tidak semudah sebagaimana dikatakan. Proses tersebut akan mengalami beberapa kendala dan kesukaran, karena suatu universitas merupakan suatu lembaga akademik. Tetapi biar bagaimanapun harus diupayakan untuk dapat mengatasi kendala tersebut agar tenaga akademik yang ada di universitas dapat dimanfaatkan.

Dalam hal ini, universitas di daerah perlu mengadakan penyesuaian-penyesuaian seperlunya agar di samping menangani masalah-masalah akademis, universitas juga perlu mengorientasikan diri pada masalah riil yang ada di sekelilingnya. Yang sangat perlu di sini adalah bahwa universitas benar-benar dapat mengkhususkan diri pada satu atau sekelompok daerah problematik dan benar-benar memperkuat diri dalam bidang-bidang tersebut. Misalnya, kehutanan dan pertanian, pertanian pasang surut, peternakan, pertam-bangan timah, batubara, pertambangan minyak dan gas bumi, marine farming dan sebagainya.

Secara lebih khusus, mungkin akan menjurus lagi misalnya pada masalah peternakan daerah pantai, pertanian kelapa atau cengkeh dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, perlu pula ditekankan bahwa untuk mencoba menyelesaikan masalah secara ilmiah dikenal dua cara penyelesaian: penyelesaian bersifat umum dan penyelesaian bersifat khusus dengan nilai-nilai batas tertentu. Dalam hal ini kita harus benar-benar dapat memisahkan apakah masalah yang dihadapi memerlukan penyelesaian umum atau penyelesaian khusus dengan nilai batas tertentu.

Masalah fisika, thermo dinamika, kimia, geologi, biologi dan sebagainya yang bersifat umum tetap sama dimana-mana, tetapi lingkungan suatu masalah dapat berbeda. Misalnya, masalah-masalah dalam pertambangan, geologi dan biologi di suatu daerah tertentu dipengaruhi oleh lingkungan setempat, dan masalah-masalah yang timbul memintakan penyelesaian-penyelesaian khusus.

Oleh karena itu, untuk masalah yang timbul di wilayah Indonesia adalah tepat jika dipecahkan oleh putra Indonesia sendiri. Sekalipun metoda pemecahannya bisa saja menggunakan metoda yang pernah dipelajarinya di suatu lembaga pendidikan di AS, Eropa, Jepang, Jerman dan sebagainya. Mereka lebih mengenal daerahnya karena dilahirkan dan dibesarkan di sini.

Hal ini dalam batas-batas tertentu juga berlaku untuk berbagai hal di Indonesia yang mempunyai lingkungan alam dan lingkungan sosial yang sangat berbeda dari satu daerah ke daerah lainnya. Dengan demikian, untuk menangani masalah-masalah kehutanan di Kalimantan, misalnya, akan lebih baik jika ditangani oleh suatu universitas di Kalimantan, tanpa menjurus ke arah eksklusivisme dan kedaerahan yang bersifat negatif.

Pada saatnya, jika ada suatu temuan yang dikemukakan dari satu universitas yang sangat menonjol dalam kehutanan di Kalimantan misalnya, kami yakin bahwa di waktu-waktu mendatang akan berdatangan sarjana-sarjana dari universitas lain ke universitas tadi untuk melakukan penelitian dengan rekan-rekannya dari Kalimantan. Bahkan tak tertutup kemungkinan para ahli dari Luar Negeri pun akan datang ke universitas tersebut untuk melakukan penelitian bersama dalam jangka waktu tertentu.

Dari proses pertukaran pikiran dan pertukaran pandangan tersebut khasanah pengetahuan kita tentang hutan akan bertambah. Yang untung nantinya ialah bangsa Indonesia, kita juga. Tetapi apa yang kita ketahui dari hutan Kalimatan sekarang adalah penebangan hutan secara liar dan penyeludupan kayu. Yang benar-benar kita ketahui tentang upaya pengembangan dan pemeliharaan hutan Kalimantan sendiri sangat sedikit. Dan hal demikian dapat menjurus pada malapetaka.

Contoh lain ialah Kepulauan Ambon dan sekitarnya. Di sana ada Universitas Pattimura. Melihat kekayaan alam laut yang banyak dan beraneka ragam adalah ideal bagi Universitas tersebut untuk lebih memperdalam/menspesialisasikan diri dalam bidang oceanology/marine science.

Berlandaskan pada konsepsi tentang pola pengem-bangan wilayah seperti yang digambarkan di atas lahirlah beberapa gagasan tentang kebijaksanaan pengembangan teknologi yang berorientasi pada pengembangan wilayah.

Dari sudut tertentu, teknologi dapat dibayangkan terdiri dari dua macam. Yang satu adalah teknologi yang penerapan dan pengembangannya tidak tergantung pada lokasi sumber daya alam. Seperti misalnya, teknologi uji konstruksi, teknologi thermodinamika dan lain-lain bidang teknologi yang bersifat teknis universal. Instalasi-instalasi penerapan dan pengembangan teknologi semacam ini pa-ling ekonomis dibangun di pulau Jawa yang telah memiliki jaringan prasarana yang relatif sudah lebih maju. Sebaliknya kita juga mengenal teknologi yang instalasi penerapan serta pengembangannya lebih tepat dibangun di lokasi-lokasi terdapatnya sumber daya alam yang menjadi obyeknya, seperti stasiun-stasiun percobaan berbagai jenis tanaman, atau laboratoria dan instalasi ilmiah yang berhubungan dengan ilmu dan teknologi kelautan, ataupun laboratoria yang meneliti logam-logam tertentu.

Atas dasar itu akan lebih logis jika di sekitar kota Ambon didirikan kompleks-kompleks pendidikan, penelitian dan pengembangan teknologi yang berhubungan dengan ilmu-ilmu kelautan, dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya laut setempat. Akan masuk akal pula jika di universitas-universitas di Kalimantan didirikan kompleks-kompleks pendidikan, penelitian dan pengembangan teknologi kehutanan. Pendirian kompleks ilmiah yang ber-orientasi pada sumber daya serta potensi-potensi ekonomi yang khas di wilayah ini merupakan konsekuensi logis dari konsepsi pengembangan wilayah yang dilukiskan tadi.

Berfikir dengan pola pengembangan potensi wilayah ini juga perlu memperhatikan bahwa dalam wilayah kepulauan Tanah Air ini, lokasi sumber dan jenis kekayaan alam yang diperkirakan akan mempunyai arti besar di masa depan tidak selalu cocok dengan pola penyebaran penduduk. Dalam jangka menengah, katakanlah sampai menjelang tahun 2000, akan terdapat perbedaan pada pola, sifat dan corak perkembangan industri di pulau Jawa/Madura dan di pulau-pulau luar Jawa/Madura. Perkembangan industri di luar Jawa harus memanfaatkan penggalian dan pengolahan bahan dasar, sedangkan pengembangan industri di Jawa harus berdasarkan pada penggunaan tenaga kerja secara produktif. Dengan lain perkataan pola pengembangan industri di pulau Jawa/Madura harus lebih menitikberatkan pada teknologi padat karya. Sedangkan pola pengembangan industri di daerah luar Jawa lebih menitik-beratkan pada teknologi padat modal.

Lepas dari persoalan pengolahan dan pemanfaatan sumber-sumber alam secara khusus, Pemerintah sedang merencanakan dan melancarkan program transmigrasi secara besar-besaran. Pekerjaan tersebut mempunyai ruang lingkup amat luas, karena masalah transmigrasi tidak terbatas pada kegiatan memindahkan sejumlah penduduk dari satu tempat ke tempat lain, tetapi menyangkut pengem-bangan wilayah. Dan ini menyangkut pemukiman, pertanian, peternakan, pendidikan, irigasi dan prasarana-prasarana lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut juga dapat melibatkan universitas setempat agar dapat memperoleh pengalaman serta dapat menyumbangkan baktinya secara riil pada proses pengembangan wilayahnya.

Bagi daerah-daerah di mana terdapat sumber daya alam yang bersifat tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources), seperti minyak dan gas bumi di Kalimantan Timur, biji nikel di Sulawesi, perlu kiranya dari sekarang dipikirkan masa purna mineralnya (post mineral period) yang dikaitkan pula dengan program pengembangan wila-yah. Hal demikian menyangkut perencanaan dan pemikiran jangka panjang. Oleh karena itu sangat pantas dan wajar apabila universitas ikut atau diikutsertakan. Kami percaya bahwa melalui pengembangan program wilayah, lambat laun akan tercipta sarana untuk pemerataan pendidikan.

Sementara itu, dengan mempertimbangkan kadar dan jenis potensi negara kita dari daerah-daerah serta variasi dalam pemanfaatan potensinya, maka di masa depan kita harus mengurangi pola generalisasi dalam pengelolaan Pendidikan Nasional dan lebih memberikan peluang bagi penumbuhan muatan lokal.

Kaitan Lembaga Pendidikan dan Dunia Usaha

Dalam merealisasikan ide-ide yang telah diutarakan di atas, perlu adanya suatu kerjasama yang baik antara lembaga pendidikan, dunia industri dan juga dengan lembaga-lembaga penelitian, sehubungan dengan banyaknya keterbatasan yang kita punyai. Kerjasama yang baik tersebut berupa perpaduan perencanaan, program secara nasional, serta penanganan bersama berbagai upaya pemecahan masalah oleh tenaga-tenaga ahli yang ada di ketiga institusi tersebut.

Peranan lembaga pendidikan (universitas), industri dan lembaga penelitian sangat besar dalam memajukan dan memperlancar pembangunan nasional, karena rangkaian tersebut merupakan suatu rangkaian yang dapat menciptakan adanya added value dan penerapan teknologi yang sa-ngat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Oleh sebab itu rangkaian tersebut harus selalu dirangsang dan digalakkan oleh Pemerintah, dengan diberikan dukungan politik baik moral maupun material serta fasilitas yang memungkinkan rangkaian tersebut berhasil dan berdaya guna dalam melaksanakan tugasnya masing-masing maupun secara bersama-sama.

Kerjasama antara ketiga institusi tersebut perlu dirangkaikan karena antara lain: (1) terbatasnya sumber-sumber riset; (2) kebutuhan untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi; (3) kebijaksanaan riset harus lebih didasarkan pada permintaan (demand) daripada penyediaan (supply); (4) luasnya obyek riset dan teknologi.

Dengan adanya kerjasama diharapkan: (1) jalur komunikasi yang lebih baik, yang memungkinkan selarasnya sumber dan kebutuhan; (2) keterlibatan personal dan tanggung jawabnya, ditunjang oleh sistem balas jasa yang sesuai; (3) mobilitas personal antara universitas, lembaga riset, dan industri; (4) mendapatkan manfaat dari proyek-proyek pembangunan.

Sejauh yang menyangkut kerjasama antara lembaga pendidikan dan dunia usaha (industri), pihak universitas akan memperoleh manfaat berupa: pengetahuan yang lebih mendalam tentang industri-industri yang spesifik dan pengertian tentang masalah-masalah praktis yang dapat memperkaya pengetahuan dan riset; kontak-kontak konsultasi dan pendidikan keterampilan yang dibutuhkan; dan ahli teknologi dari lembaga-lembaga riset perusahaan.

Dengan mengikutsertakan para ilmuwan Indonesia dalam industri, maka akan diperoleh dua hal yang sangat menguntungkan, yaitu pengalaman kerja yang menambah keterampilan dan pengetahuan baru. Oleh karena itu perlu adanya kesempatan melaksanakan praktek industri bagi para calon sarjana baru dalam segala bidang kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga benar-benar kita dapat menghayati situasi dan kondisi kita, kemampuan kita, serta sumber-sumber daya kita yang terbatas dan kebutuhan-kebutuhan kita yang makin meningkat.

Hambatan yang ada antara Universitas dan Industri harus dapat dipecahkan melalui konsultasi dan evaluasi yang terus menerus, dengan berorientasikan pada tujuan adanya industri nasional dan tujuan pendidikan.

Dengan cara demikian, pendidikan dan pengembangan ilmu di perguruan tinggi tetap relevan dan menunjang ke-perluan pembangunan nasional, dan di lain pihak, bahwa proses belajar mengajar di perguruan tinggi berlangsung dengan seproduktif mungkin untuk dapat memenuhi keperluan masyarakat pelaksana pembangunan, yaitu tenaga kerja yang langsung dapat bekerja di dalam pelaksanaan proses-proses nilai tambah dalam arti yang luas dengan tingkat PPN yang tinggi. Pandangan ini didasarkan atas pengalaman sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa lampau dan trend perkembangannya di masa depan.

Dalam mengembangkan SDM "kunci" terpenting sebenarnya terletak pada program Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang disebut dengan "link and mach". Link berarti adanya kaitan dengan industri dan ekonomi, sedangkan match adanya kaitan dengan produksi.

Sebagai contoh, pengalaman Bagian Dirgantara yang didirikan pada awal tahun 1960 di ITB. Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1974, secara makro saya melihat ada link antara industri IPTN dengan ITB. Kalau saja 19 tahun lalu tidak ada kerjasama antara IPTN dan ITB yang waktu itu diwakili oleh almarhum Bapak Prof. Dr. Doddy Tisna Amidjaja, maka link itu ada tetapi match-nya tidak ada. Oleh karena itu, pada tahun 1975 saya dan Prof. Doddy membuat persiapan dengan menandatangani match-nya. Kenapa ? Dasar pemikirannya adalah bahwa apabila Bagian Dirgantara di ITB tidak direkayasa khusus untuk "commercial aeroplane", maka anggapan yang keluar mungkin diarahkan untuk pesawat tempur atau pesawat latih atau untuk hal lain yang sebenarnya mubazir.

Berbeda dengan persyaratan pesawat tempur, persyaratan pesawat komersial pertama adalah keamanan (safety), kedua biaya (cost), dan ketiga misi (mission). Hal yang sederhana ini ternyata mempengaruhi mata pelajaran dalam bidang aerodinamika, stabilitas kontrol, unjuk kerja, pelenturan udara dan lain-lain. Karena saya menyadari hal itu, maka saya tanda tangani kerjasama dengan ITB. Rahasia link and match-nya adalah bahwa setelah penandatangan- an dosen-dosen muda dan guru besar dalam bidang apa saja yang diperlukan diperkenankan bekerja di IPTN dengan diberikan gaji penuh, tetapi tidak boleh dia "ngobyek" di tempat lain. Mereka harus bekerja dalam bidangnya yang diarahkan untuk pesawat komersil dan pesawat angkut militer, dan harus mengajar pelajaran tersebut di ITB. Hasilnya adalah mereka menjadi orang-orang yang unggul karena full-time. Prasarana dan sarana seperti buku, laboratorium, dan lain-lain disediakan, karena ada orientasi jangka panjang untuk membuat Tetuko, Gatotkoco dan sebagainya dengan visi yang saya berikan itu. Sebagai akibat dari hal itu, dosen-dosen memberikan kuliah dengan the-latest-state-of-the-art. Demikian pula mahasiswanya dalam ujian akhir atau kerja praktek diberikan penugasan yang ada manfaatnya.

Link and match seperti diuraikan di atas, harus diciptakan pula dalam bidang-bidang ilmu kedokteran, ilmu pertanian, elektronika, fisika, ilmu hukum, ilmu sosial politik, ilmu kedokteran, dan seterusnya.

Sebelum Prof. Dr. Wardiman Djojonegoro merintis program link and match, saya sering mengatakan bahwa kita harus membuat kebijakan dunia pendidikan yang bersifat "market oriented", tetapi kemudian dipersepsikan seolah-olah saya menganggap manusia seperti komoditi, bisa diperjual-belikan. Sebenarnya persepsi itu tidak tepat, karena saya memanfaatkan perkataan yang saya anggap harus dimengerti oleh ekonom. Tetapi yang lebih tepat adalah istilah yang disebut link and match tadi. Oleh karena itu, sekali lagi saya mohon agar program link and match itu harus diamankan dan disukseskan karena di situ letak "kunci" semuanya.

Dengan sendirinya yang bisa mengamankan link and match adalah pakar-pakar dalam bidangnya masing-masing secara terinci. Karena perbedaannya terletak pada detil, maka kualitas seluruh produk tergantung pada detil dan kualitas detil. Saya ingin menegaskan lagi, bahwa dalam hal kita berorientasi pada SDM saya mohon agar diciptakan kerjasama yang terpadu.

Pada permulaan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan pada awal industrialisasi di dunia, pemikiran-pemikiran yang besar memang lahir di lingkungan perguruan tinggi. Kenyataan ini tidak mengherankan karena lingkungan perguruan tinggi dengan pakar-pakarnya yang terpelajar memang merupakan lingkungan yang subur bagi pelaksanaan riset dan pengembangan ilmu pengetahuan dasar dan terapan. Namun dewasa ini dan di masa mendatang, pusat-pusat keunggulan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin tidak lagi berada di lingkungan perguruan tinggi tetapi semakin berpindah ke dunia usaha, khususnya perusahaan-perusahaan besar dan kuat di dalam teknologi maju. Benar bahwa pada awalnya, pengembangan kawasan industri elektronika terkemuka di California, Amerika Serikat yang kita kenal dengan nama Silicon Valley (Lembah Silikon) sangat ditentukan dan diberi inspirasi oleh Stanford University, Palo Alto di dekatnya. Namun setelah perusahaan-perusahaan elektronika, baik di dalam maupun di luar Silicon Valley, seperti Apple Computer, INTEL, Hewlett-Packard dan IBM berkembang maju dan menjadi kuat dan besar, maka perkembangan lebih lanjut di dalam industri elektronika semakin banyak ditentukan tidak oleh perguruan tinggi tetapi oleh perkem- bangan di dalam kemampuan ilmu pengetahuan dan penelitian di dalam perusahaan-perusahaan itu sendiri, baik secara sendiri-sendiri maupun secara berkelompok.

Perkembangan ini berkaitan erat dengan keharusan perusahaan untuk bertahan hidup dan bahkan unggul di dalam persaingan, tidak saja di dalam pasar nasional atau regional, tetapi bahkan di pasar dunia (global market). Perusahaan-perusahaan yang unggul di dalam teknologi, yang mampu menyediakan produk-produk sesuai dengan tuntutan pasar, dapat memperoleh volume penjualan yang cukup besar untuk membiayai penelitian dan pengembangan teknologi. Semakin ketat dan semakin semestanya persaingan, semakin besar skala lingkaran sebab-akibat antara volume penjualan dan anggaran perusahaan untuk penelitian dan pengembangan; baik untuk menghasilkan teknologi-teknologi perangkat keras dan perangkat lunak yang dituntut oleh pasar, maupun untuk mengembangkan ilmu-ilmu dasar yang diperlukan untuk mendukung perkembangan teknologi tersebut. IBM misalnya, mampu membiayai sejumlah 30.000 ilmuwan yang bekerja di bidang fisika, ilmu material dan bidang-bidang yang berkaitan secara langsung atau tidak langsung dengan produk-produk IBM. Untuk itu, IBM perlu menyisihkan 5 sampai 10 persen dari volume penjualannya bagi penelitian dan pengembangan.

Pelaksanaan penelitian dan pengembangan pada skala sebesar itu tidak mungkin dilakukan oleh perguruan tinggi. Terlebih lagi jika melihat fenomena yang terjadi belakangan ini. Kian ketatnya persaingan di dalam pasar semesta, telah mendorong semua perusahaan multinasional untuk menjadikan dirinya lebih besar dan lebih kuat. Hal itu ditempuh, antara lain, dengan menggabungkan diri dengan atau mengambil alih perusahaan-perusahaan sejenis dan atau dengan bekerja sama dengan pesaing-pesaingnya di dalam mengembangkan produk-produk tertentu. Seperti kerjasama yang terjadi di dalam industri permobilan antara Daimler-Benz dengan Mitsubishi, dan di dalam industri elektronika antara American Telephone dan Telegraph (AT&T) dengan Nippon Electric Company (NEC) dan antara IBM dan Hitachi, serta penggabungan perusahaan di dalam industri energi antara Asea (Swedia) dan Brown Boveri (Swiss) yang kemudian mengambil alih Combustion Engineering (Amerika Serikat).

Penggabungan serta kerjasama ini semakin meningkatkan trend perkembangan ke arah pertumbuhan pusat-pusat keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi di luar perguruan tinggi. Berbeda dengan perguruan tinggi, pusat-pusat keunggulan ilmu dan teknologi ini lebih enggan berbagi hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya dengan dunia luar, kecuali jika dapat didukung oleh penjualan perangkat lunak dan perangkat keras yang dapat dihasilkan dengan hasil-hasil pengembangan ilmu dan teknologi tersebut.

Sejalan dengan perkembangan ini berlangsung pula perkembangan lain. Pusat-pusat keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi industri yang semakin berkembang tadi semakin memerlukan manusia-manusia yang unggul di dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Oleh karena itu, peru- sahaan-perusahaan yang ingin mempertahankan keunggul- annya di dalam persaingan di pasar semesta, sangat berkepentingan bahwa materi yang diajarkan di dalam sistem pendidikan baik secara umum maupun secara terperinci, selalu sesuai dengan keperluan dan pemikiran strategi jangka pendek, menengah dan jangka panjang perusahaan-perusahaan itu. Tidak hanya itu. Perusahaan-perusahaan unggul tersebut akan pula berusaha membantu perguruan tinggi agar dapat melaksanakan proses pndidikannya dengan seproduktif dan seefektif mungkin. Semua ini dilakukan dengan cara memberikan sumbangan-sumbangan pada pergu- ruan tinggi, baik untuk pendidikan dan pengajaran secara umum dan untuk pengajaran di bidang-bidang tertentu, maupun di dalam hal-hal tertentu, untuk peningkatan metoda-metoda pendidikan, sehingga perguruan-perguruan tinggi dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi proses pendidikannya.

Keuntungan Kerjasama antara Lembaga Penelitian, Universitas dan Industri

Masalah ini sebenarnya sangat luas dan mempunyai ka-itan yang mendasar, di satu pihak kita perlu menengok ke belakang lagi tentang fungsi dan tugas universitas serta hasil dan pengabdian yang disumbangkan untuk pemba-ngunan negara, sedangkan di pihak lain kita perlu menelusuri bagaimana industri kita tumbuh serta berkembang dalam negeri ini untuk memegang peranan dalam pembangunan serta kesejahteraan nusa bangsa. Apabila kita analisis semua itu, maka kita akan menemukan beberapa titik singgung yang saling membutuhkan dan saling menguntungkan baik untuk universitas maupun untuk industri dalam negeri.

Perlu saya tegaskan bahwa universitas adalah tempat yang paling tepat untuk mendidik para sarjana, yaitu manusia-manusia Indonesia yang mempunyai disiplin untuk mengadakan riset, sebagai tenaga ahli yang dapat berpikir sistematis, kritis dan rasional, yang mampu mengolah ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga dapat disumbangkan untuk memperlancar pembangunan sesuai dengan situasi dan kondisi di Indonesia. Peranan universitas sangat besar, karena dari sinilah awal dari kemajuan-kemajuan teknologi itu dimulai. Universitas sebagai lembaga penelitian dapat menjadi tempat pemusatan tenaga-tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, yang akan mengurangi kemungkinan para sarjana berpandangan sempit dan terbatas, maka diperlukan pandangannya diperluas dan diperkaya oleh rekan-rekannya yang melihat dan meneliti materi yang sama dari sudut pandangan yang berlainan. Dengan demikian kemungkinan akan terjadi inovasi-inovasi yang akan lebih tinggi, karena kemungkinan mendapatkan inspirasi akan bertambah besar. Sebaliknya, materi penelitian yang sama merupakan landasan berpijak bersama yang pokok bagi disiplin-disiplin yang berdekatan.

Peranan lembaga penelitian, universitas dan industri sangat besar dalam memajukan dan memperlancar pembangunan nasional, karena yang dapat menciptakan rangkaian tersebut merupakan suatu rangkaian adanya added value dan penerapan teknologi yang sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Oleh sebab itu rangkaian tersebut harus selalu dirangsang dan digalakkan oleh Pemerintah, dengan diberikan bantuan politik baik moral maupun material serta fasilitas-fasilitas yang memungkinkan rangkaian tersebut berhasil dan berdaya guna dalam pelaksanaan tugasnya masing-masing maupun secara bersama-sama.

Rangkaian ikatan antara lembaga penelitian, universitas dan industri sangat dibutuhkan, karena antara lain:

Dengan adanya kerjasama dengan lembaga riset, maka industri mengharapkan memperoleh antara lain:

Dari adanya kerjasama dengan Lembaga Riset, maka Universitas mengharapkan untuk memperoleh antara lain:

Keuntungan yang diharapkan oleh Lembaga Riset dari adanya kerjasama dengan industri adalah antara lain:

Dari adanya kerjasama dengan Universitas, maka Lembaga Riset mengharapkan antara lain:

Beberapa faktor yang mendorong diadakannya kerjasama antara Lembaga Riset, Universitas dan Industri antara lain adalah:

Di samping faktor-faktor yang mendorong tersebut, ada juga beberapa faktor yang menghambat adanya rangkaian kerjasama itu, antara lain adalah:

Industri dalam negeri harus dapat menjadi tulang punggung dari kegiatan riset dan teknologi yang dilaksanakan oleh tenaga-tenaga ahli yang trampil, hasil dari pengolahan Universitas. Semuanya ini harus berorientasikan pada sasaran-sasaran perjuangan Bangsa Indonesia dan Pem-bangunan Nasional.

Industri nasional harus dapat digalakkan dengan memanfaatkan teknologi-teknologi yang berkembang di Indonesia untuk memproduksikan barang-barang kebutuhan pokok Bangsa Indonesia, baik kebutuhan primer maupun kebutuhan untuk pembangunan. Dengan mengikut-sertakan para ilmuwan Indonesia dalam industri, maka akan diperoleh dua hal yang sangat menguntungkan, yaitu pengalaman kerja yang menambah ketrampilan dan pengetahuan baru dalam proses implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka penelitian dan pengembangan. Oleh karena itu perlu adanya kesempatan melaksanakan praktek industri bagi para calon sarjana baru dalam segala bidang kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga benar-benar kita dapat menghayati situasi dan kondisi kita, kemampuan kita, serta sumber-sumber daya kita yang terbatas dan kebutuh- an-kebutuhan kita yang makin meningkat.

Ketrampilan ilmuwan-ilmuwan Indonesia harus kita tingkatkan bersama-sama dari hari ke hari, dari Repelita yang satu ke Repelita berikutnya menuju ke tingkat ketrampilan yang sesuai dan setaraf serta berlaku di dunia pada umumnya. Ketrampilan ini hanya dapat ditumbuhkan kalau kita bekerja secara terus-menerus secara konsisten, sesuai dengan program nasional dan dengan mengusahakan sarana-sarana yang dibutuhkan. Ini merupakan suatu konsekuensi yang mutlak dan harus dipahami oleh mereka yang berwenang mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ketrampilan yang kita tuju tidak dapat dicapai dengan begitu saja hanya karena lulusan sekolah, hanya karena mendapat gelar sarjana, hanya mendapat gelar doktor. Orang yang lulus sekolah baru mengetahui aturan-aturan permainan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia baru masuk ke ambang pintu medan permainan. Ia bagaikan seorang yang baru masuk lapangan golf, lengkap dengan pakaiannya, lengkap dengan sepatunya, dengan alat-alat pemukulnya dan dengan pengetahuan tentang bagaimana cara bermain golf. Belum tentu ia mahir main golf. Kepandaiannya main golf bukan ditentukan oleh pakaiannya, sepatunya, peralatannya dan sebagainya, tetapi ditentukan oleh faktor apakah dia secara terus menerus mengembangkan kemahirannya dengan bermain secara konsisten dan teratur.

Demikian pula dengan seorang ilmuan. Seorang akan menjadi ilmuwan yang baik bukan karena dia mendapatkan gelar doktor, bukan pula karena peralatannya yang serba lengkap, tetapi karena dia berhasil menyelesaikan problema-problema dengan baik, berhasil menjawab setiap tantangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang maupun yang akan datang. Artinya penilaian sebagai seorang ilmuwan yang berhasil, sebagai seorang ahli yang terkemuka dalam bidangnya, bukanlah dilakukan berdasarkan jumlah gelar-gelar kesarjanaan yang diperolehnya, bukanlah ditentukan oleh berapa banyaknya pelajaran yang diperolehnya, tetapi terutama ditentukan oleh keberhasilannya memecahkan problema-problema yang sulit dan sekaligus mempu-nyai arti dari sudut kepentingan masyarakat dan pembangunan nasional. Untuk dapat berhasil seperti itu, setiap ilmuwan, baik yang masih ada di Universitas maupun di luar Universitas, harus banyak praktek mengamalkan ilmunya dan juga menambah ilmu baru serta ketrampilan baru dalam wadah industri.

Oleh karenanya industri dalam negeri sangat menguntungkan dilihat dari berbagai sudut, dan tentunya juga dari sudut pandang peningkatan ketrampilan para ahli Indonesia sendiri. Faktor-faktor pendorong untuk mengadakan kerjasama antara Universitas dan Industri harus dilihat dari motivasi yang saling menguntungkan ke dua belah pihak, dan lebih jauh lagi menguntungkan pembangunan nasional. Oleh karena itu, perlu adanya hubungan yang baik antara investor dan industri.

Perkembangan sektor industri nasional di masa yang akan datang akan menjadi sangat penting, karena mempunyai fungsi yang makin luas dan makin kompleks, antara lain:

  1. Industri nasional akan menjadi tulang punggung pengolahan sumber sumber daya alam Indonesia.
  2. Industri nasional merupakan suatu alternatif penyediaan lapangan pekerjaan, sebagai akibat pertambahan penduduk.
  3. Industri sebagai penggerak Pembangunan Nasional.
  4. Industri tempat pengujian dan penerapan teknologi.

Lembaga Pendidikan dan Tantangan Masa Depan

Menghadapi tantagan seperti itu, apa yang dapat dilakukan perguruan tinggi kita terutama dalam kaitannya dengan upaya mengembangkan industri dan ekonomi Indonesia menyongsong era industrialisasi dan tahap tinggal landas?

Dari gambaran tentang konsep produktivitas prestasi nasional (PPN) sebagaimana telah kita uraikan, jelaslah bahwa perguruan tinggi mempunyai peran yang sangat besar di dalam penentuan tingkat PPN dan pertumbuhan PPN. Dalam hal ini, pembangunan ekonomi dan industrialisasi tidak hanya memerlukan keahlian di dalam menyelesaikan masalah-masalah teknologi dan rekayasa tetapi juga kemahiran di dalam bidang ekonomi makro, ekonomi industri, perdagangan internasional, moneter, pemasaran, pembelanjaan, akuntansi manajemen, masalah psikologi, kepemimpinan, masalah sosiologi, masalah kesehatan, bahkan masalah yang berhubungan dengan hukum, termasuk hukum kontrak. Dalam perkataan lain, pembangunan ekonomi dan industri memerlukan ilmu pengetahuan dalam keseluruhan spektrum yang diberikan di dalam sebuah perguruan tinggi. Melalui penyelenggaraan proses pendi-dikan dan pengajaran, perguruan tinggi dapat melahirkan tenaga-tenaga yang secara langsung dapat bekerja dengan produktif di dalam masyarakat karena dibekali dengan ma-teri ilmu pengetahuan yang relevan dan dengan nilai-nilai dan sikap hidup yang diperlukan untuk perkembangan dan kemampuan daya saing suatu bangsa di dalam kancah kerjasama dan persaingan semesta yang merupakan tanda-tanda zaman di masa sekarang dan di masa mendatang.

Bagaimanakah sebaiknya peran penting perguruan tinggi ini dilaksanakan? Bagaimanakah sebaiknya hubungan antara perguruan tinggi dan dunia pelaksana pembangunan khususnya dunia industri swasta?

Untuk menjawab pertanyaan itu, baiklah kita membedakan antara dua aspek dalam setiap sistem pendidikan. Aspek pertama adalah aspek paedagogi, yaitu aspek yang menyangkut cara-cara dan metoda-metoda belajar-mengajar dalam rangka pengalihan pengetahuan dan nilai-nilai dari pengajar kepada anak didik. Aspek kedua menyangkut substansi yang diajarkan atau dialihkan. Sejak semula kita perlu melakukan pembedaan yang jelas antara kedua aspek tersebut serta peranan perguruan tinggi dan dunia pelaksanaan pembangunan di dalam kedua aspek pendidikan tadi.

Dalam hal ini saya berpendapat agar perguruan tinggi Indonesia memberikan perhatian lebih banyak pada aspek-aspek paedagogi pendidikan; yaitu pada masalah-masalah yang berhubungan dengan bagaimana proses pendidikan dan pengajaran di perguruan tinggi dapat berlangsung de-ngan seefektif dan seefisien mungkin. Bersamaan dengan itu, agar dunia pelaksana pembangunan baik swasta maupun pemerintah diberikan peranan yang sebesar-besarnya di dalam penentuan materi atau substansi ilmu pengetahuan yang diajarkan dan diteliti di kalangan universitas. Menurut hemat saya, harus dibatasi keterlibatan para ahli paedagogi dalam menetapkan materi yang perlu diajarkan. Jauh lebih tepat jika substansi dan susunan mata kuliah ilmu pengetahuan yang diberikan di perguruan tinggi ditentukan oleh mereka yang di dalam hidup sehari-harinya berhadapan langsung dengan persoalan pemecahan masalah yang menyangkut perkembangan atau pun kelangsungan hidup perusahaan atau negara, baik masalah yang dihadapi sekarang, nanti atau jauh di masa depan.

Di dalam beberapa tulisan saya sejak akhir tahun tujuh puluhan dan awal tahun delapan puluhan, saya selalu menganjurkan agar pengembangan teknologi di Indonesia menggunakan falsafah "mulai dari akhir dan berakhir pada awal". Dalam arti bahwa pengembangannya harus dilakukan dengan membangun industri-industri mulai dari puncak-puncak piramida industri, yaitu dari perusahaan yang membuat produk akhir yang langsung dapat dipasarkan, dan kemudian disusul dengan upaya mengembangkan perusahaan di bawahnya yang membuat material dan komponen.

Pengembangan pendidikan tinggi perlu disesuaikan de-ngan pola pengembangan ini. Karena terbatasnya dana, prasarana dan tenaga terampil di dalam perguruan tinggi, maka sebaiknya, untuk sementara waktu, kita harus berani melakukan pemusatan-pemusatan tertentu. Tidak perlu semua keahlian dimiliki oleh hanya satu universitas. Hal itu tidak realistik dan tidak optimum dipandang dari sudut pemanfaatan dana, dari sudut pengembangan prakarsa, dari sudut kreativitas, dan dari sudut produktivitas dalam melaksanakan tugas perguruan tinggi. Seperti halnya di dalam dunia usaha dan dunia industri, juga di dalam dunia perguruan tinggi diperlukan adanya persaingan sebagai pemacu peningkatan diri. Namun sebaliknya tidak dapat dibenarkan pula pengembangan semua universitas ke arah keunggulan di dalam semua bidang ilmu.

Di mana pun di dunia ini, terdapat beberapa bidang ilmu yang tidak mungkin diajarkan di semua tempat dan perlu dikonsentrasikan pada beberapa pusat saja, karena memerlukan prasarana dan biaya operasional yang sangat besar. Di Amerika Serikat, Eropa Barat dan Jepang, misalnya, fisika energi tinggi hanya dapat dilaksanakan di beberapa tempat saja. Untuk seluruh Eropa, misalnya, hanya dibuat satu akselelator saja yaitu pada CERN di Swiss.

Demikian pula halnya di Indonesia, terdapat beberapa bidang ilmu pengetahuan yang karena besarnya prasarana, biaya operasional dan personalia yang diperlukan, perlu dipusatkan di satu tempat saja. Contohnya adalah bidang ilmu dan teknologi dirgantara, bidang ilmu dan teknologi kelautan, mikro elektronika, dan bidang biologi molekuler. Sebaliknya, di dalam bidang-bidang lainnya seperti falsafah, pertanian, biologi, kedokteran, hukum dan ekonomi beserta beberapa sepesialisasi khusus di dalamnya, seperti penyakit dalam, jantung, bedah syaraf, ekonomi pertanian, manajemen internasional, hukum perdagangan dan paten dan sebagainya, dapat dan perlu dikembangkan pusat-pusat keung- gulan di berbagai universitas dengan tingkat persaingan dan kerjasama yang sehat di antara mereka.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa materi dan praktek ilmu-ilmu tadi sangat dipengaruhi oleh kebudayaan, dalam arti perkembangan mental-rohani manusia yang tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai dan sikap hidup masyarakat sekitarnya. Mempertimbangkan hal ini, ilmu-ilmu tersebut perlu dikembangkan di beberapa tempat dan perlu melakukan interaksi yang erat dengan kebudayaan masyarakat sekelilingnya.

Mengingat semakin mendesaknya keperluan para pelaksana pembangunan, baik swasta maupun pemerintah, akan tenaga-tenaga terampil, termasuk untuk keperluan pengembangan ilmu dan teknologi di luar perguruan tinggi, maka substansi ilmu pengetahuan dan rekayasa yang diajarkan di dalam perguruan tinggi harus memperhatikan program-program pembangunan nasional yang dilaksanakan di dalam dunia nyata, baik yang sedang maupun yang akan dilaksanakan atau bahkan yang baru merupakan kemungkinan jauh di masa depan. Dalam kaitan ini, materi ilmu pengetahuan yang diberikan di dalam berbagai strata di perguruan tinggi harus berkaitan dengan materi yang di-berikan di dalam pendidikan keahlian di berbagai jenjangnya.

Selain itu, universitas perlu mengembangkan metoda-metoda pendidikan dan pengajaran sehingga dapat menjalankan fungsinya secara lebih efektif dan efisien, dan dapat menghasilkan lebih banyak lulusan dengan mutu yang lebih tinggi dan yang langsung dapat bekerja serara efektif dan produktif di dalam pembangunan.

Seperti dilakukan di negara-negara maju, industri swasta perlu meningkatkan penyediaan dana bagi perguruan tinggi baik berupa sumbangan dana, peralatan serta bahan-bahan pendidikan, maupun dalam bentuk pesanan penelitian. Jika hal itu terjadi, benar-benar merupakan langkah maju ke arah pengembangan hubungan baik antara dunia perguruan tinggi dan dunia usaha yang patut kita hargai.

Akhirnya, perlu kiranya dipikirkan masalah khusus yang disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia dewasa ini dan di masa-masa mendatang.

Globalisasi produksi dalam bentuk kerjasama dan penyatuan perusahaan-perusahaan besar, dan globalisasi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui terbentuknya pusat-pusat keunggulan yang tidak dibatasi dalam satu negara tetapi bersifat antar negara, akan terus berlangsung. Akibatnya adalah bahwa daya tarik pusat-pusat keunggulan industri serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat multi-nasional di Seattle, New York, Frankfurt, Osaka, dan pusat-pusat lainnya akan semakin besar. Daya tarik itu akan mempengaruhi manusia-manusia unggul, tidak saja di negara-negara maju tetapi juga di negara-negara sedang berkembang termasuk Indo- nesia.

Agar Bangsa Indonesia dapat tumbuh menjadi negara industri maju pada abad mendatang, terserapnya putra-putri Indonesia ke dalam pusat-pusat keunggulan internasional tadi perlu kita hindari. Oleh karena itu di samping perlu memberikan perhatian yang lebih besar pada kebudayaan dalam arti nilai-nilai dan sikap hidup tertentu, se-perti kerja keras, disiplin, kejujuran, prakarsa dan kewiraswastaan, dalam rangka peningkatan produktivitas prestasi nasional, sistem pendidikan Indonesia, termasuk perguruan tinggi di dalamnya, perlu mengembangkan pendidikan dalam nilai-nilai kebangsaan, kesadaran nasional dan perjuangan bangsa.