Rubrik
Surat Pembaca
Berita Utama
International
Naper
Foto dan Komik
Keluarga
Olahraga
Hiburan
Seni & Budaya
Nasional
Somah
Aksen
Kehidupan
Perjalanan
Desain
Konsumen
Berita Yang lalu
Jendela
Otonomi
Audio Visual
Rumah
Teknologi Informasi
Dana Kemanusiaan
Makanan dan Minuman
Pustakaloka
Otomotif
Furnitur
Agroindustri
Musik
Muda
Fokus
Esai Foto
Sorotan
Ekonomi Rakyat
Swara
Pergelaran
Ekonomi Internasional
Teropong
Wisata
Perbankan
Pengiriman & Transportasi
Investasi & Perbankan
Pendidikan Dalam Negeri
Pendidikan Luar Negeri
Bahari
Didaktika
Ilmu Pengetahuan
Pixel
Bingkai
Bentara
Telekomunikasi
Kesehatan
Properti
Pendidikan
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi

 

 

Somah
Minggu, 07 Maret 2004

Tarlen Handayani
Sempat Bersepeda Keliling Menyewakan Buku

IMAJINASI masa kanak-kanak mungkin sebaiknya tidaklah sekadar ditertawakan jika mengingatnya ketika dewasa. Andai imajinasi masa bocah itu senantiasa diposisikan lebih terhormat di antara realita hidup, niscaya kehidupan akan terasa lebih menggairahkan.

Begitulah yang dirasakan Tarlen Handayani (26), pendiri Toko Buku Kecil atau akrab disebut Tobucil di Jalan Kyai Gede, Bandung. Memiliki sebuah tempat pribadi dengan koleksi buku, dikelilingi teman-teman, dan berbagi kegiatan dengan suatu komunitas yang menyenangkan, telah menjadi imajinasinya sejak lama.

Menempati sebuah rumah mungil yang asri bernomor delapan, Tobucil benar-benar pas menggambarkan toko buku yang kecil, mungil, dan akrab.

"Waktu kecil dulu, saya senang lihat-lihat majalah tentang rumah yang ada perpustakaan pribadinya, tetapi waktu itu belum terpikir punya toko buku sendiri," tutur Tarlen, lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung tahun 2001.

Berkunjung ke Tobucil tidaklah seperti mengunjungi toko buku umumnya. Tak ada senyum artifisial pramuniaga yang siap melayani. Pengunjung seperti "pulang" ke rumahnya sendiri, santai.

Beberapa pengunjung sore itu tampak menggelesot di lantai teras toko yang resik sambil membaca-baca buku. Buku-buku yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari karya sastra, buku filsafat, hingga jurnal komunitas, dan berbagai terbitan dari penerbit alternatif. Harga buku dari penerbit besar di Tobucil pun lebih murah sekitar 10 persen dibanding toko buku besar.

"Kalau mereka enggak punya uang, tetapi ingin baca buku di sini sampai habis juga enggak apa kok. Semua yang datang diperlakukan sebagai teman," ujar Tarlen.

Tobucil sebenarnya bukanlah toko buku an sich, melainkan menjadi wadah komunitas penggemar baca yang dilengkapi kehangatan "perpustakaan" rumah. Di samping toko buku mungil itu tersedia sebuah ruang yang disebut common room, tempat berbagai kegiatan berlangsung. Mulai dari putar film, bedah buku, pameran foto, karya seni, melukis, merajut, sampai menulis, yang semuanya dijadwalkan bergantian setiap hari. Berbagai kegiatan itu terbagi dalam klab-klab, seperti klab baca, klab menulis, dan seterusnya. Meskipun terbuka bagi segala kalangan, peminat umumnya dari kalangan mahasiswa.

GADIS kelahiran Bandung, 30 Maret 1977, ini sejak kecil sangat menggemari buku, mulai dari komik Asterix, Tintin, hingga buku-buku Enid Blyton. Di masa bocahnya, Tarlen juga sangat menyenangi cerita Drakula Cilik yang mengisahkan persahabatan tulus antara seorang anak kecil yang kesepian dan seorang drakula yang juga kesepian.

Ketika duduk di kelas III hingga kelas V sekolah dasar, Tarlen kecil bahkan kerap berkeliling dengan sepeda di kompleks rumahnya menyewakan buku-buku koleksinya. Puluhan bukunya itu dimasukkan ke dalam kardus yang diboncengkan di sepedanya. Hal itu dia lakukan setiap siang sepulang sekolah.

"Saya keliling-keliling saja sepedaan sama teman. Bukunya disewakan Rp 25 setamatnya orang yang baca. Tetapi, buku saya waktu itu malah banyak yang diilangin teman," tutur Tarlen.

Tarlen mengaku hal itu dia lakukan karena terinspirasi melihat seorang bapak-bapak yang melakukan hal yang sama, menyewakan buku dengan bersepeda di sekitar rumahnya. Kisah petualangan dalam buku Enid Blyton, Asterix, dan Tintin juga diakuinya memberi pengaruh besar dalam "menuntun" arah hidupnya.

Ketika memutuskan memilih jurusan jurnalistik di Unisba, keinginan Tarlen hanya karena ingin menjadi seperti Tintin. "Kayaknya asyik lihat kehidupan Tintin, wartawan, penuh petualangan," ujarnya. Belakangan, ilmu komunikasi yang dipelajari di bangku kuliah ternyata sangat bermanfaat untuk diaplikasikan dalam berbagai bidang, tidak semata harus menjadi wartawan di sebuah media massa.

Awal mendirikan Tobucil sebenarnya hanyalah bermula dari kegiatannya kumpul-kumpul bersama teman-temannya di sebuah kafe di Jalan Tubagus Ismail, Bandung. Kumpul-kumpul itu menjadi tidak sekadar diisi obrolan tak jelas untuk membuang waktu. Di tempat itu Tarlen bertemu berbagai teman baru yang ternyata sama-sama penggemar buku.

Pembahasan seru berbagai buku akhirnya membawa Tarlen bersama sepuluh temannya membuat semacam klab baca pada tahun 1999. Layaknya pengajian keliling, klab baca itu pun diadakan berkeliling, bergiliran di setiap rumah anggotanya. Buku-buku yang dibahas pun beragam, mulai dari karya sastra lokal, asing, ataupun buku-buku filsafat.

DARI aktivitas itulah, putri ketiga dari empat bersaudara pasangan (alm) JB Sudharno dan Ifnaini Widarti ini menemukan arah mimpinya. Tahun 2001, seorang kenalan bernama Wien Muldian, perintis Pasar Buku di Jakarta, menawarinya membuka Pasar Buku di Bandung. Ketika itu Tarlen baru saja lulus sidang skripsi. Temannya itulah yang membantunya mengenal jaringan dengan berbagai penerbit.

Seorang teman akhirnya menawari tempat di Jalan Dago untuk dijadikan toko buku yang ketika itu masih bernama Pasar Buku Bandung. Suplai buku pun diperoleh dari Pasar Buku di Jakarta dengan sistem titip jual.

Awal usahanya itu relatif nyaris tidak membutuhkan modal uang berarti. Bersama dua temannya yang lain, Tarlen hanya bermodal masing-masing Rp 500.000 untuk membuat rak buku dari batako.

Baru pada tahun 2003, seorang kenalan menawarkan rumah pribadinya di Jalan Kyai Gede untuk berbagi tempat. "Dia ingin rumahnya itu dijadikan semacam ruang publik. Wah, tentu saja saya senang bukan main," ujarnya.

Ketika pindah ke Jalan Kyai Gede itulah nama Tobucil dipakai, sekaligus sebagai awal mula eksistensinya yang telah independen dari Pasar Buku. Tarlen tetap menjalin relasi dengan berbagai penerbit dengan sistem titip jual di penerbitnya. Sebagian besar hasil dari Tobucil itulah yang menghidupkan berbagai kegiatan klab.

Pada umumnya penerbit besar memberi diskon sekitar 30 persen kepada toko buku. Tarlen memanfaatkan itu untuk berbagi diskon bagi konsumen Tobucil. Artinya, Tobucil hanya mengambil keuntungan diskon sebesar 20 persen. Itulah yang membuat buku di Tobucil menjadi lebih murah 10 persen dari toko buku besar pada umumnya.

Keterlibatan Tarlen dengan berbagai komunitas membuatnya mengenal berbagai macam orang yang kemudian menjadi jejaring kehidupannya. Tobucil pun kini tidak hanya ada di Bandung, namun telah berdiri pula di Balikpapan dan Bali. Keduanya dibiarkan berkembang sendiri secara otonom, tanpa keterikatan manajemen.

"Tobucil di Bandung hanya membimbing dan membina serta membantu suplai buku. Senang saja kalau di tempat lain bisa ada komunitas yang senapas, berbasis lingkungan baca," kata Tarlen. Sesuai dengan situasi lingkungannya, Tobucil Balikpapan dan Bali lebih mengakomodasi kegiatan untuk komunitas anak-anak kecil, mulai dari mendongeng hingga kursus bahasa Inggris gratis bagi anak kecil.

Tarlen pun tidak punya libido ekspansi usaha, layaknya hasrat pebisnis. Baginya, Tobucil meskipun tetap kecil, akan selalu orisinal dan hangat…. (Sarie Febriane)

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Sempat Bersepeda Keliling Menyewakan Buku

·

KONSULTASI PSIKOLOGI

·

DAPUR KITA



 

 

Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS