Rubrik
Politik & Hukum
Berita Utama
Olahraga
Metropolitan
Naper
Nusantara
Bisnis & Investasi
International
Finansial
Opini
Humaniora
Sumatera Bagian Utara
Sumatera Bagian Selatan
Pilkada 2005
Jawa Barat
Berita Yang lalu
Perbankan
Pustakaloka
Otomotif
Furnitur
Agroindustri
Musik
Muda
Swara
Dana Kemanusiaan
Esai Foto
Rumah
Investasi & Perbankan
Pendidikan Dalam Negeri
Pendidikan Luar Negeri
Pendidikan
Pixel
Makanan dan Minuman
Fokus
Audio Visual
Ilmu Pengetahuan
Teropong
Wisata
Bingkai
Telekomunikasi
Otonomi
Bahari
Ekonomi Internasional
Properti
Interior
Sorotan
Bentara
Pendidikan Informal
Teknologi Informasi
Didaktika
Jendela
Tanah Air
Ekonomi Rakyat
Pergelaran
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi
Metropolitan
Selasa, 12 April 2005

Menteng dan Kebayoran Baru, Nostalgia Kota Taman Tropis

Pada tahun 2004, untuk kesekian kalinya, Kota Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan meraih penghargaan Bangun Praja kategori Kota Terbersih dan Terindah di Indonesia (dulu populer dengan sebutan Adipura). Tak dapat dimungkiri, salah satu faktor penentu keberhasilan kedua kota itu meraih predikat tersebut adalah keberadaan kawasan Menteng di Jakarta Pusat dan Kebayoran Baru di Jakarta Selatan.

Menteng merupakan kota taman tropis pertama di Indonesia, yang dirancang arsitek Belanda, PAJ Mooejen dan FJ Kubatz (1913), (Adolf Heuken dan Grace Pamungkas, 2001). Sedangkan, Kebayoran Baru adalah kota taman tropis pertama di Indonesia karya arsitek lokal, Moh Soesilo (1948).

Kota Jakarta sebenarnya identik dengan pohon, sunda kelapa (Cocos nucifera). Kemudian dikenal kawasan Cempaka Putih (Michelia alba) dan Karet (Ficus elastica) di Jakarta Pusat, Kemang (Mangifera caecea) di Jakarta Selatan, Kelapa Gading (Cocos capitata) dan Kapuk (Ceiba petandra) di Jakarta Utara, Kayu Putih (Eucalyptus alba), Kebon Pala (Myristica fragrans) di Jakarta Timur, dan Kosambi (Schleichera oleosa) di Jakarta Barat. Begitu pula dengan kawasan Menteng (Baccaurea recemosa dan Baccaurea dulciss Muell) dan Kebayoran atau Kebayuran (bayur = Pterospermum javanicum).

Hingga kini eksistensi pohon telah menjadi identik dengan nama kawasan- kawasan itu. Namun ironisnya, penebangan pohon kota yang semena-mena memusnahkan pohon sebagai identitas karakter lanskap kawasan yang memakai nama-nama pohon tersebut.

Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, Pasal 1 (1) disebutkan, benda cagar budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Kota taman tropis Menteng (87 tahun) dan Kebayoran Baru (57 tahun) dapat dikategorikan sebagai kawasan lanskap cagar budaya yang harus dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan secara hati-hati. Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta secara berurutan Nomor D.IV-6098/d/33/1975 untuk Menteng dan Nomor D.IV-6099/d/33/1975 untuk Kebayoran Baru telah menetapkan sebagai kawasan pemugaran. Hal itu diperkuat dalam Perda No 6/1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Jakarta 2000-2010 yang juga menetapkan sebagian besar kawasan Menteng dan Kebayoran Baru sebagai kawasan perumahan/hunian serta didukung Perda No 9/1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan Bangunan Benda Cagar Budaya.

Artinya, segala macam kegiatan preservasi, konservasi, restorasi, rehabilitasi, rekonstruksi, renovasi, dan atau revitalisasi, apalagi untuk kegiatan komersial di kawasan Menteng dan Kebayoran Baru, harus didahului kajian analisis mengenai dampak lingkungan dan sosial, serta studi kelayakan konservasi dan pengembangan kota yang mendalam dan independen.

Menteng dan Kebayoran Baru merupakan adaptasi kota taman bergaya Eropa (Belanda) dalam iklim tropis sehingga sering disebut sebagai kota taman tropis yang banyak dikembangkan oleh Thomas Karsten di Kota Bogor, Bandung, Malang, Semarang, Palembang, Padang, Medan, hingga Banjarmasin. Arsitek Moh Soesilo, yang merancang Kebayoran Baru, adalah salah satu muridnya. Menteng dan Kebayoran Baru seharusnya dilindungi dan dilestarikan sebagai contoh warisan budaya kota taman tropis di Indonesia.

Kota taman tropis memiliki konsistensi hierarki jalan dan peruntukan lahan yang jelas serta didominasi ruang terbuka hijau (RTH) lebih dari 30 persen dari total luas kota. Sistem jaringan RTH kota sudah memiliki struktur dan fungsi sendiri-sendiri, taman/kebun rumah, taman lingkungan, taman kota, lapangan olahraga, taman makam, hutan kota, dan daerah tangkapan air (situ/waduk/danau) yang dihubungkan oleh koridor pepohonan besar jalur hijau jalan, bantaran rel kereta api, saluran tegangan tinggi (sutet), dan jalur biru bantaran kali yang saling menyambung tak terputus. Fasilitas ruang publik dengan konsep taman-taman penghubung (connector park) tersebar sistematis, terencana, dan saling berhubungan.

Kota taman Menteng terdiri atas rumah induk di tengah kapling dengan dikelilingi taman/kebun luas, 23 taman lingkungan (Taman Kudus, Taman Panarukan, Taman Kodok, dan seterusnya), taman kota (Taman Suropati, Taman Tugu Tani), situ (Situ Lembang) dan lapangan olah raga (Lapangan Bola Persija), yang dihubungkan oleh koridor pepohonan besar, jalur hijau jalan dengan median dan/atau pedestrian lebar (Jalan Imam Bonjol, Jalan Diponegoro, Jalan Teuku Umar, Jalan Kebon Sirih), serta jalur biru bantaran kali (sungai ) yang saling menyambung tak terputus.

Menteng sangat kaya dengan arsitektur bangunan yang serasi dengan lingkungan dan unsur tropical deco-nya. Sayang perusakan bangunan merambah di berbagai lokasi seolah tak terkendali, seperti di daerah Sam Ratulangi-Wahid Hasyim-HOS Cokroaminoto.

Kota taman Kebayoran Baru juga memiliki taman/kebun juga cukup luas, taman kota (Taman Puring, Taman Patung Tumbuh Kembang, Taman Langsat, Taman Leuser, Taman Barito, Taman Christina Marta-Tiahahu, Taman PKK), taman makam (TPU Blok P yang sudah digusur, TPU Kramat Pela, TPU Tanah Sebrang), lapangan olahraga (Blok S, Al Azhar), jalur hijau jalan dengan median dan/atau pedestrian (Jalan Senopati, Jalan Sriwijaya, Jalan Brawijaya), dan jalur biru bantaran kali (Sungai Grogol di Barat, Sungai Krukut di Timur) saling menyatu dengan didominasi deretan pohon besar berusia puluhan tahun yang harus dilindungi.

Konsep kota taman tropis seperti inilah yang secara konsisten dikembangkan Kota Singapura, Kuala Lumpur, London, atau Melbourne, tetapi justru ditinggalkan pengelola Kota Jakarta, Bandung, Bogor, Malang, dan hampir semua kota besar di Indonesia. Maka, tak heran jika kini berbagai kota besar mengalami degradasi kualitas lingkungan. Krisis air bersih, krisis udara bersih, intrusi air laut, abrasi pantai, amblasan tanah, banjir, dan kebakaran datang silih berganti mendera kota.

Menteng dan Kebayoran Baru memiliki kekayaan warisan budaya arsitektur bangunan sederhana, modern, dan tropis yang semestinya harus dilindungi. Berbagai tipe bangunan hunian dengan berbagai ukuran dan gaya berbeda melatarbelakangi sejarah panjang kota taman ini.

Perubahan peruntukan lahan diperparah dengan perubahan fungsi bangunan rumah menjadi tempat usaha secara tak terkendali dan telah merusak pembagian kapling (blok-blok) dan arsitektur bangunan khas yang telah direncanakan sebelumnya. Bangunan-bangunan baru tumbuh menggusur bangunan lama dengan arsitektur yang tidak selaras dengan bangunan lama di sekitarnya.

NIRWONO JOGA Ketua Kelompok Studi Arsitektur Lansekap Indonesia (KeSALI)

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Polisi Selidiki Berbagai Motif Pembunuhan Deliu

·

Anggi dan Angeli Layak Dioperasi

·

Tolak Reklamasi, Warga Dadap Datangi KLH

·

Kasus Sertifikat Deposito Bodong Diduga Mandek

·

Setelah Lima Tahun Buron, Pembunuh Baru Tertangkap

·

KPU Kepulauan Seribu Diduga "Mark Up" Anggaran

·

Usulan Kenaikan Kir "Titipan" Swasta

·

Puing Sisa Kebakaran Ditimbun di Jalan

·

Kepala Sekolah SMPN 232 Baru Dimintai Klarifikasi

·

Era Polisi Indonesia Modern

·

Menteng dan Kebayoran Baru, Nostalgia Kota Taman Tropis

·

INFO JABOTABEK



Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS