09 Oktober 2006


Panser 6x6 Pindad

- Panser Adem PT Pindad, Tak Kalah Dengan VAB Perancis

Seolah anak-anak yang tengah bergembira menemukan mainan barunya, 10 prajurit pasukan pemelihara perdamaian PBB asal Batalyon Kavaleri 7, Kodam Jaya, yang rencananya dikirim ke Lebanon akhir Oktober, tampak tersenyum-senyum sambil duduk-duduk berjajar di dalam kabin panser 6x6 produksi terbaru PT Pindad.

"Jauh lebih adem di dalam sini, mas, daripada di panser VAB yang biasa kami pakai dan rencananya juga dibawa ke Lebanon. Kalau ini kan ada tiga AC-nya. Sedangkan di panser kami cuma ada satu AC dan itu pun jenis yang biasa dipakai di rumah-rumah," ujar salah seorang prajurit sambil nyengir.

Dua panser jenis VAB milik Yonkav-7 kodam Jaya memang tampak terparkir tidak jauh dari panser PT Pindad itu. Kedua panser tadi adalah bagian dari 14 unit panser VAB yang dibeli tahun 1997 lalu. Beberapa personel pasukan Yonkav-7 yang kali itu mengenakan helm baja warna biru PBB tampak berjalan mendekat dengan raut wajah menunjukkan ketertarikan.

Upacara peringatan hari jadi ke-61 Tentara Nasional Indonesia, yang digelar secara sederhana dan tanpa diikuti gelar parade pasukan maupun persenjataan, Kamis (5/10) kali ini tampaknya ikut berdampak pada rencana PT Pindad memamerkan teknologi kendaraan tempur terbarunya, Panser 6x6 PT Pindad.

Sebanyak empat unit (prototipe) kendaraan tempur produksi dalam negeri, yang konon dibanggakan tidak kalah hebat jika dibandingkan dengan panser-panser sejenis seperti VAB (Vehicule de l'Avant Blinde) buatan Renault Trucks, Perancis, tersebut nyaris luput dari perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pihak protokoler Istana Kepresidenan tampaknya tidak mengagendakan Presiden untuk sekadar singgah dan melongok hasil produksi anak bangsa, yang menurut Direktur Produk Purboyo sengaja dikebut pembuatannya dalam dua bulan untuk bisa dipamerkan di momen peringatan HUT TNI itu.

"Tadi waktu baru datang, Presiden hanya sempat lewat dan melongok dari kaca jendela mobilnya keempat panser kami yang diparkir di sini. Saat lewat Presiden memelankan laju kendaraannya," ujar Direktur Produk Militer PT Pindad Pentadi Purbo saat berbincang-bincang dengan wartawan di kabin personel panser, yang memang terasa sejuk walau udara di luar panas menyengat di siang hari itu.

Menurut Purbo, pihaknya bersama-sama sekitar 20 perusahaan industri dalam negeri lain, yang memang sengaja diundang sejak awal untuk ikut terlibat, sudah "berjibaku" siang malam menuntaskan pekerjaan membangun panser jenis Angkut Personel Sedang (APS) itu. Rencananya untuk memenuhi target rencana men-display keempat unit panser tadi pada upacara HUT ke-61 TNI.

Terhitung proses itu dilakukan dua bulan dari disetujuinya pembakuan disain rancang bangun panser 6x6 oleh tim kelompok kerja TNI pada 4 Agustus kemarin. Setelah disain disetujui baru lah mereka bisa bekerja. Akan tetapi sayangnya kerja keras itu tidak mendapat tempat dan perlakuan yang layak pada kesempatan kali ini.

Keempat unit panser buatan anak bangsa, yang masing-masing berbobot mati sekitar 12 ton itu, bahkan diparkir lumayan jauh dari lokasi upacara peringatan HUT TNI, sekitar 500 meter di salah satu sisi ruas jalan masuk dan keluar Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur.

Walau begitu Purbo tetap mengaku optimis karena saat ini pihaknya dan Markas Besar TNI Angkatan Darat telah menandatangani Letter of Intent (LoI) rencana kebutuhan panser 6x6 TNI-AD 2006-2009 sebanyak 100 unit. Mabes TNI-AD menurut dia sudah berkomitmen membeli panser-panser produksi PT Pindad tadi.

Rencananya, untuk tahun anggaran 2006 akan dibangun sebanyak 18 unit terlebih dahulu, termasuk empat unit, yang "luput" dari perhatian banyak pihak kali ini. Purbo yakin kesepakatan serupa juga dapat terjalin antara pihaknya dan dua matra angkatan lain.

Hal itu mengingat panser produksi PT Pindad sangat fleksibel dan dapat dirancang-bangun sesuai kebutuhan setiap kesatuan, seperti panser amfibi untuk pasukan Marinir, panser untuk keperluan ambulans, maupun panser yang mampu mengangkut senjata anti-serangan udara untuk kebutuhan TNI Angkatan Udara.

Selain kelebihan punya kemampuan dimodifikasi sesuai kebutuhan, kendaraan tempur panser 6x6 PT Pindad ini juga punya banyak kelebihan kompetitif lain. Beberapa di antaranya, kelebihan teknis bagian kokpit panser yang terkomputerisasi penuh (full-computerized).

Disain bagian kokpit panser juga memungkinkan setiap kru "pilot" panser dapat mengontrol gerak panser, tampilan layar-layar navigasi, peta, gambar CCD/TI, dan pemetaan taktis elektronis, yang jauh lebih lebar, serta pintu hidrolis pada bagian belakang panser, yang memungkinkan pergerakan keluar masuk pasukan menjadi lebih lincah.

Tidak cuma itu, di dalam panser ini persoalan kenyamanan juga diperhatikan. Caranya dengan memasang tiga unit penyejuk ruangan, masing-masing berkekuatan tiga PK, satu di bagian kabin pengemudi dan dua di bagian kabin personel.

Dengan begitu, walau terbilang 100 persen bagian tubuh terbuat dari bahan baja tebal, suasana di dalam panser tidak terasa panas sama sekali walau sinar matahari menyengat di luar sana. Tidak lupa juga yang terpenting, mesin penggerak panser diproduksi di dalam negeri, Perkasa WD 615 Diesel Cyl 260-300 HP, termasuk juga alat komunikasi HF dan VHF buatan PT LEN.

Selain kelebihan secara teknis, harga per unit panser ini menurut Purbo juga sangat kompetitif dan jauh lebih murah daripada panser sejenis buatan luar negeri. Menurut dia, harganya bisa mencapai 50 persen lebih murah. Hal itu karena kandungan lokal komponen-komponennya jauh lebih besar.

"Karena hampir semua proses pembuatan dan komponen panser diproduksi di dalam negeri, harganya bisa jauh lebih murah. Selain itu proses perawatan dan perbaikannya juga tidak memakan anggaran besar karena dapat dilakukan di dalam negeri (PT Pindad)," tambah Purbo.

Walau luput dari perhatian Presiden, boleh jadi PT Pindad seharusnya tetap merasa bangga karena sejumlah prajurit dari Yonkav-7, yang secara riil bakal menjadi pengguna dan langsung merasakan segala kelebihan fitur-fitur fasilitas panser hasil produksi dalam negeri itu, langsung menyatakan apresiasi positif mereka.

Tidak ada pujian yang lebih berarti dari pujian tulus mereka yang tahu benar tentang apa yang akan disampaikan. Hal itu akan jauh lebih bermakna ketimbang sekadar pernyataan atau pidato-pidato formal. Membangun industri pertahanan dalam negeri memang memerlukan lebih dari sekadar tekad dan pidato bersemangat, komitmen riil jauh lebih diperlukan. (Kompas/DWA)



Related Link : TNI AU, KCM, KNKT
Our Rooms : Forum Dirgantara, Life Style, Olahraga

Supported By KCM
Copyright @ Majalah ANGKASA