Edisi 03/02 - 22/Mar/1997
Analisa & Peristiwa

Sudharmono "Mengudara" Kembali

Foto SudharmonoJarang ada peluncuran buku yang dihadiri begitu banyak "orang penting" di negara ini. Tapi, pekan lalu di Jakarta, ketika bekas wapres Sudharmono meluncurkan otobiografi "Pengalaman Dalam Masa Pengabdian" serta "Kesan dan Kenangan Dari Teman", segudang pejabat tinggi, menteri, dan purnawirawan ABRI, berkumpul di rumah Sudharmono di kawasan Senopati, Jakarta. Bahkan, Jenderal (purn.) Benny Moerdani yang dulu kerap disebut-sebut sebagai "rival" Pak Dhar, juga tampak hadir di acara memperingati 70 tahun bekas orang nomor satu Golkar itu.

Maka, di Jakarta, tempat di mana isu begitu cepat bertiup, maraklah bisik-bisik bahwa bisa saja Pak Dhar come back ke pemerintahan lagi. Malah ada yang meramalkan Sudharmono harus diperhitungkan untuk jabatan wakil presiden yang sedang ramai dibicarakan sekarang ini. Apalagi, sampai sekarang pun Sudharmono masih membantu Presiden Soeharto. Bekas Ketua Umum Partai Beringin itu kini menjabat komisaris PT Dua Satu Tiga Puluh -- perusahaan yang dipimpin Pak Harto untuk mencari dana pembuatan pesawat terbang IPTN N-2130. Bahkan, Wapres Try Sutrisno pun tak diikutkan dalam proyek prestisius itu.

Dalam otobiografinya, banyak hal diceritakan Sudharmono. Yang sangat menarik adalah kesaksiannya menjelang pemilihan wakil presiden pada 1988. Dengan sangat jelas Sudharmono menceritakan "ketidak setujuan" Jenderal Moerdani atas pencalonan dirinya.

Tentang pencalonan dirinya, Sudharmono menulis bahwa pada 25 Februari 1988 pukul 12 siang datanglah Sarwono Kusumaatmadja dan Akbar Tanjung -- dua dari anggota tim sembilan yang membantu Pak Harto untuk menyeleksi nama calon presiden dan wakil presiden -- ke kantor Sekretariat Negara. Dua orang pimpinan Golkar itu menyatakan akan mencalonkan Sudharmono sebagai wapres. Dijawab, sebaiknya konsultasi dulu dengan Ketua Dewan Pembina Golkar, Soeharto, dan sebaiknya bersama-sama fraksi Utusan Daerah dan ABRI. Sarwono menukas,"Justru untuk konsultasi itu Golkar harus punya nama." Dijawab lagi oleh Sudharmono, sebaiknya konsultasi dulu. Sarwono tetap berpendapat sebaiknya Golkar punya nama dulu. Malahan, seandainya fraksi ABRI tidak sependapat, Golkar akan jalan terus.

Mendengar jawaban Sarwono, Sudharmono menukas agak keras,"Jangan bersikap begitu. Kalau ABRI tidak setuju saya sebagai calon wapres dan mempunyai calon lain, saya lebih baik menarik diri dari pencalonan. Saya tidak mau berkonfrontasi dengan ABRI. ABRI adalah tetap induk saya," tegas Sudharmono seperti ditulis dalam bukunya.

Akhirnya, rapat DPP Golkar esok harinya, yang juga dihadiri ABRI dan utusan daerah memutuskan pencalonan Sudharmono. Sejak itulah pencalonan Pak Dhar menggelinding terus. Juga ditunjuk tiga utusan Golkar untuk bertemu Presiden Soeharto yakni Soegandhi, Akbar Tanjung, Sarwono Kusumaatmadja. Sore hari 26 Februari itu Sudharmono diberitahu hasil rapat di Kantor Golkar tadi. Dan malam harinya, sekitar pukul 22, tiga utusan Golkar tadi diterima Presiden Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Presiden Soeharto mengajukan empat syarat untuk calon wapres: teguh pendiriannya atas Pancasila dan UUD 45, kapabilitas, dapat diterima masyarakat, dan mendapat dukungan mayoritas fraksi.

Keesokan harinya, 27 Februari, ada acara pelantikan Try Sutrisno sebagai panglima ABRI di Istana Negara. Di sanalah Pak Harto memberikan kata setujunya untuk Sudharmono. Ketika itu Sudharmono memang sengaja menemui Presiden Soeharto. "Sepertinya beliau telah mengetahui maksud saya menemui beliau pagi itu. Beliau mulai dengan empat kriteria untuk pencalonan wakil presiden. Lalu beliau menambahkan dari kriteria yang beliau sebutkan sudah dapat diketahui siapa yang dimaksud, yakni Ketua Umum Golkar. Saya menyatakan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya. Saya juga menanyakan bagaimana dengan Pak Umar, wakil presiden yang sedang menjabat, beliau menyatakan Pak Umar sudah mengetahui masalah ini," tulis Sudharmono.

Sejauh ini pencalonan Sudharmono lancar. Tapi, dalam rapat di Mabes ABRI Jalan Merdeka Barat, pada Minggu pagi 28 Februari, suasana "lain" muncul ke permukaan. Rapat itu dihadiri juga oleh Panglima ABRI baru Try Sutrisno. Ketika itu Cosmas Batubara yang mewakili Golkar menanyakan kepada pimpinan rapat yakni Pangkopkamtib Benny Moerdani tentang siapa calon wapres tiga jalur untuk wapres mendatang. Jawaban Jenderal Benny Moerdany, Fraksi ABRI belum mengambil keputusan karena Jenderal Benny Moerdani baru pulang dari luar negeri dan belum sempat berkonsultasi dengan Presiden Soeharto. Tulis Sudharmono dalam bukunya,"Jawaban ini tentu saja menimbulkan tanda tanya kepada yang hadir. Padahal ketiga fraksi ketika berkonsultasi dengan Pak Harto telah menyatakan kesamaan pandangannya untuk mencalonkan Ketua Umum Golkar saat itu."

Sehari kemudian, 29 Februari, saat pelantikan Panglima ABRI Try Sutrisno, Sudharmono yang hadir di Mabes ABRI belum juga mendapatkan sinyal-sinyal persetujuan dari ABRI. Baru sore harinya, ketika jam kantor hampir usai, di Sekretariat Negara masuk telepon dari Kassospol ABRI Sugiharto yang ingin bertemu Sudharmono sore itu. Pertemuan pun terjadi di Kantor Sekneg. Ternyata, Sugiharto yang datang bersama Ketia F-ABRI Harsudiono Hartas menyatakan bahwa ABRI sepakat mencalonkan Sudharmono untuk wapres 1988-1993. Sudharmono bertanya apakah suara ABRI sudah bulat. Dijawab oleh Sugiharto,"Putusan itu diambil dalam rapat ketika Pak Benny dan Pak Try Sutrisno hadir."

Sudharmono belakangan mendapat informasi dari seorang temannya bahwa Jenderal Benny pada awalnya tidak setuju dengan pencalonan dirinya. Belakangan, setelah mengadakan rapat maraton di Tebet (kantor intel),"Terjadi perdebatan hangat antara Pak Benny, Pak Try, Pak Sugiharto dan Pak Harsudiono Hartas. Akhirnya keputusan yang diambil seperti yang disampaikan Pak Sugiharto kepada saya itu. Rupanya yang menentukan keputusan itu bahwa karena Pak Harto memang "menjagokan" saya sebagai calon wapres. Pak Benny 'terpaksa" loyal kepada Pak Harto," demikian tulis Sudharmono.

Semula, Jenderal Benny menjagokan Try Sutrisno. "....Jadi, ya, saya usulkan, glundhungkan (gulirkan) saja Try sebagai calon wakil presiden.." kata Benny seperti dikutip Sudharmono dalam bukunya.

Kalau soal-soal peka ini sekarang diangkat Sudharmono ke permukaan, bisa jadi alasannya adalah sebagai pelengkap catatan sejarah. Meskipun, ada juga yang menganalisa: bisa saja Sudharmono ikut meramaikan bursa calon wapres mendatang.

MIS


Copyright © PDAT