Edisi 49/02 - 07/Feb/1998
Analisa & Peristiwa

Iklan

Delapan Calon Wapres Itu: di Antara Pujian dan Kritik


Sudah banyak daftar nama calon wakil presiden. Tetapi mengapa Golkar terkesan tidak buru-buru menyebut nama calon wapres, padahal pagi-pagi sudah mematok Soeharto sebagai calon presiden. Berikut analisa kekuatan dan kelemahan calon-calon wakil presiden itu.
BOLEH dibilang, Sidang Umum MPR mendatang hanya akan sibuk memilih wakil presiden. Soalnya, setelah Haji Soeharto menyatakan kesediaan dicalonkan lagi oleh Golkar, hampir pasti ia akan terpilih lagi.

Dugaan ini kuat setelah menyimak pertemuan Ketua BP7 Alwi Dahlan dengan Presiden di Jalan Cendana, 3 Februari lalu. "Mengapa harus menunggu nama calon wakil presiden dari saya," kata Pak Harto tentang calon wapres. Pertanyaan ini seperti mengkonfirmasi satu hal penting: calon presiden sudah pasti (yaitu Soeharto sendiri), tinggallah wapres yang harus dicari. Adakah pertanyaan itu menandakan bahwa Pak Harto tak akan membisikkan nama calon wapres seperti pengalaman selama ini, entahlah.

Yang pasti, Golkar sudah mempunyai 14 kriteria calon wapres. Dan membaca bunyi kriteria keempat dan kelima yang menyinggung soal penguasaan iptek dan industri, orang menebak B.J. Habibie-lah yang dimaksud Golkar.

Selain faktor dominan yakni "keinginan Pak Harto" itu, biasanya seorang wapres dinilai dari beberapa hal. Seperti: kedekatannya dengan ABRI, dengan kelompok Islam, diterima dunia usaha, dan lainnya.

Sebuah sumber TEMPO Interaktif mengatakan bahwa dari beberapa nama yang beredar, Golkar agaknya cenderung memilih dua nama saja saat ini: Try Sutrisno dan Ginanjar Kartasasmita. Tapi, kabarnya kelompok Mbak Tutut masih berusaha menjagokan Menpen Hartono untuk posisi orang nomor dua itu. Alhasil, Golkar sampai pekan ini belum satu suara soal wapres ini.

Apa saja kekuatan dan kelemahan delapan nama calon wapres yang beredar saat ini (Lihat: Delapan Calon yang Dijagokan Itu)? Berikut tinjauannya:

B.J. Habibie, 62 tahun

Nama Menristek BJ. Habibie sebenarnya sudah tidak asing lagi dalam bursa calon wakil presiden. Kabarnya, tim wapres Golkar pada tahun 1993 lalu sempat mengadakan voting dan nama Habibie yang mendapat suara terbanyak. Akhirnya, karena ABRI kelihatannya mau Try Sutrisno, Habibie "mengalah".

Ketika itu, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini dianggap telah berhasil "menghijaukan" MPR dengan banyaknya orang ICMI yang masuk parlemen. Beberapa kolega dekatnya juga masuk kabinet – seperti Menteri Perhubungan Haryanto, Mendikbud Wardiman.

Kekuatan Habibie terutama adalah kedekatannya dengan Presiden Soeharto. Konon Pak Harto pernah menyebut Habibie sebagai "anugerah Tuhan untuk Indonesia". Dia juga dikenal sebagai tokoh teknologi Indonesia lewat IPTN. Sebagai bekas pegawai pemerintah Jerman Barat, Habibie juga dikenal punya lobi kuat di Jerman dan Eropa. Dan sebagai Ketua Umum ICMI, Habibie juga punya "kaki" di kalangan Islam perkotaan. Hubungannya dengan Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung juga teramat mesra – karena hubungan historis ketika Tanjung berada di Jerman dulu – walau bukan berarti sikap itu mewakili sikap ABRI keseluruhan.

Kekuatan Habibie yang lain: dialah koordinator harian dewan pembina Golkar saat ini. Jabatan ini dianggap mempermudah komunikasinya dengan Ketua Dewan Pembina Golkar, Soeharto. Dia juga tak enggan mendekati "musuh-musuh pemerintah". Dialah orang pertama yang mengundang Ali Sadikin cs ke IPTN. Dia juga ringan saja menengok Ketua NU Abdurrahman Wahid di rumah sakit, padahal keduanya sering berbeda pendapat dengan tajam (Lihat: Ketika Habibie Membesuk Gus Dur).

Tapi kritik terhadap Habibie juga tak kurang lantang. Bahkan, industri pesawat terbang IPTN yang dibanggakannya belum lama ini memprotes sejumlah kebijakan Habibie. Untuk pertama kalinya, November 1997 lalu, ribuan karyawan IPTN melakukan unjuk rasa menuntut perbaikan nasib, suatu hal yang menunjukkan industri itu "tidak dalam keadaan sehat wal afiat". Demo di IPTN diikuti karyawan PT PAL Surabaya yang juga andalan Habibie lainnya.

Sudah lama juga proyek-proyek ini dikritik ekonom sebagai proyek yang menghabiskan uang negara – walau Habibie tak kalah lincah membalas tudingan ini. Bahkan dana reboisasi milik Departemen Kehutanan sebesar Rp 400 milyar sempat dipakai IPTN. Dan di Jawa Tengah, guru-guru sekolah "dianjurkan dengan sangat" membeli saham PT 2130 – proyek pesawat Habibie yang memakan investasi 2 milyar dollar AS.

Soal pemakaian dana besar ini mengingatkan orang pada kasus pembelian 39 kapal perang bekas dari Jerman Timur. Ketika itu Habibie "berdebat" dengan Menkeu Mar’ie soal anggaran pembelian kapal yang awalnya dipatok Habibie di atas 1 milyar dollar AS – padahal harga armada kapal itu jauh di bawah itu. Satu dari armada "bekas" itu akhirnya tenggelam dalam perjalanan menuju Indonesia. Kasus inilah yang memicu dibredelnya tiga media massa di tahun 1994 yaitu TEMPO, Detik dan Editor. Sampai kini Habibie juga masih "bertikai" dengan harian The Jakarta Post yang memberitakan jatuhnya pesawat IPTN di Serang, Jawa Barat.

Sikap ABRI? Walau Panglima ABRI Jenderal Tanjung dekat dengan Habibie, itu agaknya ihwal hubungan pribadi. Jika Tanjung jadi diganti pekan depan – seperti kabar yang beredar di Jakarta – dengan Jenderal Wiranto, sikap ABRI pada Habibie boleh jadi akan berbeda. Konon Jenderal Wiranto juga dijagokan untuk kedudukan wapres. ABRI non Tanjung paling tidak masih memilih Try Sutrisno ketimbang Habibie.

Yang juga banyak disorot adalah prestasi kolega-kolega Habibie di kabinet. Menteri Perhubungan Haryanto Dhanutirto banyak dinilai "bukan orang tepat" di departemennya. Dhanutirto pernah diberitakan korupsi dan ramai diberitakan media massa, walau dia membantahnya. Di masa Dhanutirto, entah mengapa angka kecelakaan di sektor perhubungan melonjak pesat. Mendikbud Wardiman juga dinilai "tak berbuat apa-apa" dalam masa baktinya.

Menurut pengamat Arbi Sanit, Habibie juga tak lepas dari penyakit khas pejabat Indonesia: korupsi dan nepotisme. Arbi menunjuk bisnis yang dilakukan Habibie, anak atau saudaranya (Lihat: "Emil Salim Paling Tepat untuk Mengatasi Krisis").

Try Sutrisno, 63 tahun

Jika ada yang mengganjal Try, barangkali ini: dalam sejarah Orba tak pernah ada wakil presiden yang menjabat sampai dua kali. Tapi apa pun bisa terjadi, jika Pak Harto menghendaki. Dan dukungan untuk Try sudah mengalir, antara lain dari Yayasan Kerukunan Persatuan Kebangsaan (YKPK), yang di antara anggotanya ada purnawirawan ABRI. Dukungan juga datang dari organisasi kino Golkar, yakni Kosgoro.

Nama Try Sutrisno dianggap sebagai figur yang kalem dan dapat mengayomi banyak kelompok kepentingan. Ia juga dikenal santri dan dekat dengan Islam dan kalangan ulama. Sebagai bekas ajudan presiden, hubungannya dengan Pak Harto juga mulus-mulus saja. Kecuali, ketika ia naik sebagai wapres lima tahun lalu. Saat itu, di luar sidang umum MPR, Ketua F-ABRI Harsudiono Hartas membuat pertemuan pers dan mencalonkan Try. Tindakan Hartas ini dianggap tak mengenakkan Pak Harto, bahkan ada yang menganggap sebagai langkah fait accompli pihak ABRI.

Di masa jabatan Try ini, sebenarnya muncul banyak tuntutan masyarakat agar peran wapres diberikan porsi yang lebih besar. Tapi agaknya peran Try tak diberikan padanya dan Try belum sepenuhnya teruji. Bahkan, saking kalemnya, ia dianggap kurang inovatif dan kurang punya inisiatif. Jika wapres Sudharmono dikenal dengan Kotak Pos 5000, Try nyaris tak meninggalkan bekas apa pun.

Alhasil, Try dikenang sebagai wapres yang baik hati, patuh pada presiden dan menjaga benar setiap kalimat yang meluncur dari bibirnya.

Ginandjar Kartasasmita, 57 tahun

Nama ini juga punya peluang kuat menjadi wapres. Kalangan Golkar saat ini dikabarkan tinggal punya dua nama: Try Sutrisno dan Ginanjar Kartasasmita.

Bisa dibilang Ginandjar adalah sosok yang komplit. Ia adalah bekas perwira tinggi ABRI dengan pangkat terakhir letnan jenderal. Ia juga doktor dan insinyur dan bekas menteri pertambangan dan energi, tentunya ia fasih juga dalam bidang teknologi dan industri. Maka ketika 14 kriteria tambahan Golkar yang menyebut calon wakil presiden harus menguasai iptek dan industri, Ginandjar pun termasuk orang yang masuk ke dalam kriteria itu.

Dukungan kepada Ginandjar, jauh-jauh hari juga sudah nampak, terutama dari kalangan Kino Golkar seperti Soksi dan Kosgoro yang menyebut-sebut nama anak tokoh PNI Husen Kartasasmita ini. Dan menurut pengamat politik dari UI, Arbi Sanit, Ginandjar-lah satu-satunya calon terkuat dari ABRI untuk posisi wapres.

Sebagai menteri perencanaan pembangunan nasional dan ketua Bappenas, pembangunan lima tahun terakhir ini tidak bisa dipisahkan dari peran Ginandjar. Dalam era kepemimpinannya ini, lembaga yang dirancang untuk menyusun pembangunan di seluruh Indonesia ini, mulai banyak melirik soal-soal kemiskinan. Terutama dengan program Inpres Desa Tertinggal (IDT).

Ginanjar juga dikenal sebagai pelobi yang ulung. Karena latar belakang pendidikannya, ia juga "disukai" Jepang jika berhasil maju sebagai wapres. Mantan ketua Persatuan Renang Seluruh Indonesia ini juga dikenal dekat kalangan pengusaha pribumi Indonesia. Kini ia anggota Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan (DPKEK) yang diketuai langsung oleh Presiden Soeharto.

Arbi Sanit menilai, kelebihan Ginandjar adalah bahwa ia seorang yang punya visi yang baik di bidang politik maupun ekonomi. Ginandjar juga seorang yang cukup punya integritas dan kritis terhadap pemerintah. Ia juga dikenal sebagai pekerja keras. Ginandjar dikenal demokratis, karena ia bisa menerima kritik yang keras sekalipun. Dibandingkan Habibie dan Sudharmono, Ginandjar lebih dikenal di kalangan aktivis pro demokrasi.

Di sisi lain, kebocoran anggaran pembangunan sampai 30 persen – menurut pengamat Jeffrey Winters – juga dialamatkan kepada Ginanjar dan Bappenasnya. Winters, pengamat masalah ekonomi Indonesia dari Nortwestern University AS, pernah mengungkapkan bahwa sepertiga bantuan bank dunia kepada Indonesia bocor dalam birokrasi pemerintahan dan hilang.

Kalau ada yang mencemaskan, kata Arbi Sanit, adalah urusan proyek- proyek pribadi, kolusi dan korupsi Ginandjar yang bersaing dengan Habibie di peringkat atas. "Inilah kelemahan utama Ginandjar," ujar pengamat politik asal Universitas Indonesia itu.

R. Hartono, 57 tahun

Karir militernya mulus. Dari sejak Pangdam Brawijaya, orang Pamekasan ini melejit prestasinya menjadi Kassospol ABRI dan kemudian sampai KSAD. Ia dikenal tak pernah ragu bertindak dan berucap. Ia pernah menegaskan bahwa ABRI itu kader Golkar, walau pernyataannya dikritik banyak kalangan.

Ia juga selalu mendapat "tempat baik" di mata Presiden Soeharto.

Pada saat jabatan di militernya sebagai KSAD sudah hampir dan mendekati masa purna bakti, pada bulan Juni 1997 lalu, Presiden Soeharto membuat langkah yang mengejutkan. Presiden ternyata mengangkat Hartono sebagai menteri penerangan menggantikan Harmoko.

Langkah Hartono yang banyak dihitung oleh para analis politik adalah masuknya jenderal yang dikenal dekat dengan kalangan ulama ini ke dalam organisasi ICMI. Kedekatannya dengan putri Pak Harto, Mbak Tutut, dinilai banyak pihak menguntungkan langkahnya ke atas.

Tapi, seperti umumnya pejabat militer, Hartono memang "tak kena" untuk masa krisis ini, jika penguasaan ekonomi jadi ukurannya. Dia juga agak jauh dari kelompok LSM atau kelompok pro demokrasi. Hartono juga "tak dikenal" kalangan negara-negara donor Indonesia.

Jenderal TNI Wiranto, 50 tahun

Inilah satu-satunya nama calon wakil presiden yang berasal dari ABRI yang masih aktif. Wiranto kabarnya akan menggantikan posisi Panglima ABRI Feisal Tanjung dalam waktu dekat ini. Itu berarti Wiranto punya akses bagus ke pencalonan wapres di MPR nanti yaitu Fraksi ABRI di MPR. Apalagi, dia juga bekas ajudan Pak Harto seperti halnya Try Sutrisno, wapres sekarang ini.

Arbi Sanit menilai Wiranto masih perlu menajamkan visi politiknya untuk bisa mengincar jabatan wapres. Kelemahan mendasar calon pemimpin nasional yang berasal dari militer adalah mereka cenderung menggunakan pendekatan keamanan untuk mencapai stabilitas politik. Sulit buat mereka memahami bagaimana mencapai stabilitas politik dengan mengakomodasi berbagai pendapat. Padahal, ujar Sanit, esensi demokrasi adalah keanekaragaman dalam keselarasan, bukan penyeragaman.

Siti Hardijanti Rukmana (Mbak Tutut), 48 tahun

Ketua Umum PBNU Gus Dur menyebut Mbak Tutut sebagai pemimpin masa depan. Dan pengusaha jalan tol ini memang pernah menyatakan bahwa dirinya belum pantas duduk sebagai wapres. Toh apa saja bisa terjadi di negeri ini, apalagi jika Pak Harto kembali akan memangku jabatannya.

Siti Hardijanti Indra Rukmana atau Mbak Tutut ini lebih dikenal sebagai "pekerja sosial" dan pengusaha ternama. Sebagai salah satu ketua dalam DPP Golkar, kepiawaian Mbak Tutut barangkali terletak pada keahliannya mendekati orang. Ia berkawan dengan siapa saja, dari mulai Gus Dur sampai Menpen Hartono.

Namun, moncernya Mbak Tutut di pentas politik nasional dianggap tak lepas dari nama bapaknya. Sampai-sampai, dalam sebuah kampanye menjelang pemilu lalu, Mbak Tutut sibuk menepis isu adanya dinasti Soeharto yang menguasai Indonesia.

Kritik pada Mbak Tutut belakangan santer terdengar sampai luar negeri. Berpatungan dengan Jopie Wijaya, perusahaan taksi miliknya, Steady Safe, tak membayar hutangnya kepada Peregrine. Akibatnya, bank di Hongkong itu bangkrut. Mbak Tutut diketahui masyarakat luas mendapat banyak keuntungan bisnis sebagai putri Presiden Soeharto.

Sudharmono, 70 tahun

Jika Pak Dhar terpilih lagi sebagai wapres mendatang, berarti dia menumbangkan "mitos" bahwa bekas wapres tak pernah dipilih lagi sebagai wapres lagi.

Walaupun belum ada satu pun organisasi yang mencalonkan Sudharmono sebagai calon wakil presiden, Pak Dhar masih dekat Pak Harto. Dia anggota BP7. Dia juga pemegang saham perusahaan pesawat PT 2130 IPTN bersama Pak Harto. Semua orang tahu bahwa Pak Dhar adalah administratur yang baik.

Pak Dhar ternyata dijagokan oleh pengamat politik Arbi Sanit untuk tampil lagi sebagai wapres. "Menurut saya Soedharmono termasuk pemimpin yang cerdas, jika dibandingkan pemimpin ABRI yang ada saat ini," ujar Sanit yakin.

Tapi, kata Arbi, Sudharmono memang dikenal kurang akrab dengan umat Islam, tetapi setelah ia pensiun dari wapres, ia banyak belajar tentang Islam. Ia seorang yang nasionalis, bukan seorang Islam fanatik. Bahkan pandangan politiknya dapat dikatakan sekuler, ujar Arbi lagi.

Sudharmono cukup dikenal di kalangan kelas menengah. Setidaknya lewat kiprah menantunya dalam berbisnis, sebagai pemegang franchise Mc Donald. Juga lewat karier politik anaknya sendiri.

Barangkali kedekatannya dengan Soeharto menjadi kekuatan sekaligus kelemahannya. Hal itu membuat kansnya untuk terpilih menjadi wakil cukup besar, tetapi juga menyulitkannya untuk mengambil sikap yang mengarah pada demokratisasi. Ia termasuk orang yang loyal terhadap Soeharto, dapat dikatakan ia juga mendukung Soehartokrasi. Juga usianya yang sudah tua dapat menimbulkan masalah tersendiri.

Prof. Dr. Emil Salim, 67 tahun

Namanya muncul "belakangan". Dalam sebuah wawancara singkat, Emil Salim menyatakan kesiapannya jika dipilih sebagai wakil presiden. Langsung saja ucapan Emil menjadi headline di beberapa media massa.

Ia memang tokoh alternatif terbaik. Sebagai mantan birokrat dan peletak Orba, Emil Salim diterima baik oleh Pak Harto. Dialah salah satu "otak" ekonomi Orba (Lihat: "Yang Nggak Pantas, Semuanya Pakai Nama Depan 'H' "). Ia dekat dengan semua kalangan, termasuk ABRI, LSM, kalangan pro demokrasi sekaligus. Cucu Haji Agus Salim ini barangkali adalah calon wapres paling bersih dari calon yang ada. Dia juga pemeluk Islam yang taat sebagaimana layaknya orang Minang.

Pelopor berdirinya ICMI ini pernah dinominasikan sebagai calon ketua ICMI. Akan tetapi Emil yang juga aktif di Yayasan lingkungan hidup Kehati ini, malah memilih B.J. Habibie sebagai ketua ICMI. Tokoh seperti Nurcholish Madjid atau Wimar Witoelar menilai bahwa Emil Salim memiliki kapasitas sebagai wakil presiden. "Pak Emil memiliki kecerdasan luar biasa untuk mengatasi krisis ekonomi," kata Cak Nur.

Selain mendapat dukungan dari para aktivis LSM, Emil Salim kelahiran Lahat, Sumatera Selatan yang juga lulusan Universitas Calivornia, Berkeley, AS, ini juga disebut-sebut oleh Sekjen PPP Tosari Widjaya sebagai calon wapres PPP (Lihat: "Makin Banyak Calon Makin Baik"). Soalnya, apakah Emil akan disertakan fraksi besar seperti Golkar dalam pencalonan nanti. Usianya yang senja juga akan jadi "handicap" tersendiri.

TH, EB


Copyright © PDAT