Welcome > Guest from 208.70.24.237 | Login | Email    
VSI
  ::
  Home  Organisasi  Sejarah  Visi dan Misi  Galeri  Lokasi  Layanan  Staf  Links  Kontak
    Alert
  Early Warning
 
   Karangetang
   Soputan
   Kelut
   Kerinci
   Gamalama
   Gamkonora
   Batutara
   Talang
   Merapi
   Semeru
   Anak Krakatau
   Lokon
   Dukono
   Ibu
   Papandayan
   Ibu
  [color code]
   
 
    Menu Utama
  > Home
  > Berita
  > Publikasi
  > Laporan Penelitian/Download
    Gunungapi
  > Gunungapi Indonesia
  > Peta
  > Galeri
  > Pengenalan Gunungapi
  > Komik Gunungapi
  > Data Vulkanologi
    Gempabumi
  > Gempabumi Merusak
  > Peta
  > Galeri
  > Pengenalan Gempabumi
    Gerakan Tanah
  > Gerakan Tanah
  > Peta
  > Galeri
  > Pengenalan Gerakan Tanah
    Tsunami
  > Tsunami
  > Peta
  > Galeri
  > Pengenalan Tsunami
    Perpu
  > Kepmen
  > SNI
  > Pedoman
  > SOP/Protap
   
   
   
   
 

 
T
AMBORA, Nusatenggara Barat

Compiler : A.R.Mulyana (arm@vsi.esdm.go.id)

Editor : Asnawir Nasution



Keterangan Umum

Nama

:

G. Tambora 

Nama Lain

:

-

Nama Kawah

:

Doro Api Toi (dalam kaldera) dan nama Kaldera : Tambora

Nama Kerucut Parasit

:

Doro Kadindingnae, Doro Peti, Doro Mboha, Doro Ncanga, Doro Mbete, Doro Tabeh/Kembar, Donggo Tabbetoi, Donggo Tabbenai, Nangamira, Gubu Panda dan Satonda.

Lokasi

a. Geografi

 

b. Administratif

 

 

:

 

:

 

08�15,00' Lintang Selatan dan 118�00,00 Bujur Timur 

 

Kab.Dompu dan Bima, Nusa Tenggara Barat     

Ketinggian

:

2851 m dml 

Kota Terdekat

:

Dompu dan Bima 

Tipe Gunungapi

:

A (Strato) dengan kaldera

Pos Pengamatan

:

1 buah, terletak pada ketinggian 100 m dml di kampung Doro Peti

 

Pendahuluan

Cara Pencapaian

Lintasan-1, dimulai dari Kp. Doro Mboha (selatan-tenggara G. Tambora). Melalui perkebunan jambu mente (pintu 14), mengikuti jalan rintisan/perkebunan dengan kendaraan Toyota Hardtop sampai pada ketinggian 1150 m dml, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki selama kurang lebih 4 jam perjalanan hingga di lereng atas bagian selatan Kaldera Tambora pada ketinggian 1950 m dml (posisi ini sangat baik untuk base camp). Dari posisi ini untuk mencapai dinding kaldera bagian selatan diperlukan waktu sekitar 1 jam perjalanan.

Lintasan-2, dimulai dari Kp. Pancasila (barat-baratlaut G. Tambora) dengan berjalan kaki (menurut informasi peneliti terdahulu dari Kp. Pancasila hingga di tebing Kaldera Tambora bagian barat-baratlaut diperlukan waktu sekitar 3 hari perjalanan).

 

Demografi

Konsentrasi pemukiman penduduk berada di sektor timur (Desa Sanggar), baratdaya (Kp.Doro Peti dan Pasanggrahan), barat (Desa Calabai). Sedangkan pemukiman penduduk di sektor  baratlaut, utara, timurlaut, selatan dan tenggara relatif jarang. Mata pencaharian penduduk umumnya adalah petani dan pekebun dan hanya sebagian kecil sebagai buruh di perkebunan jambu mente, kopi dan perusahaan kayu.

 

Inventarisasi Sumberdaya Mineral

 a.     Batuan Beku

Cadangan batuan beku cukup berlimpah, berupa lava berkomposisi andesit-basaltik dan basalt. Umumnya dimanfaatkan untuk keperluan bahan bangunan serta pengerasan jalan antar desa dan pembuatan jembatan di sekitar G. Tambora.

b.     Pumis hitam (black pumice)

Cadangan pumis hitam (black pumice) di sekitar G. Tambora sangat berlimpah, terutama tersebar di bagian timurlaut, timur dan tenggara. Merupakan komponen yuvenil yang terdapat pada endapan aliran piroklastik produk letusan tahun 1815. Biasanya dipergunakan untuk bahan bangunan penduduk sekitar dan sebagian dipergunakan untuk bahan pengerasan jalan lintas antar desa di sekitar G. Tambora.

 

Wisata Gunungapi

Tujuan wisata gunungapi terdapat di sekitar puncak G. Tambora, yakni di Kaldera Tambora yang mempunyai diameter 6x7 km. Untuk objek camping yang cukup representatif, dapat dilakukan di lereng atas bagian selatan atau di dalam kaldera Tambora. Sayangnya untuk mencapai lokasi dasar kaldera sangat sulit, diperlukan waktu sekitar 8 perjalanan turun melalui alur jalan yang tidak begitu ramah, dalam artian harus dilakukan dengan cara merintis jalan terlebih dahulu. Sehingga diperlukan peralatan dan perlengkapan pendakian yang cukup lengkap dan memadai. Bagi penggemar hiking, dapat melakukannya melalui sektor selatan-tenggara, yakni melalui kampung Doro MBoha, melewati perkebunan jambu mente hingga ketinggian +1150 m dml. Dari sini dilanjutkan melalui alur jalan setapak berkemiringan lereng cukup signifikan hingga mencapai titik lokasi perkemahan pertama pada ketinggian +1950 m dml. Lama perjalanan sekitar 4 jam. Di sini para hiker bisa bermalam untuk keesokan harinya melanjutkan perjalanan menuju bibir Kaldera Tambora (lama perjalanan sekitar 1 jam) dan apabila memungkinkan bisa langsung turun menuju dasar kaldera yang penuh rintangan itu, dengan lama perjalanan sekitar 8 jam.

Panorama alam yang cukup memukau, terdapat di sektor tenggara Doro Tabeh, yaitu di sekitar pantai Hoddo dan di sektor baratdaya, selatan-baratdaya, baratlaut serta timurlaut G.Tambora. Daerah-daerah ini terutama mampu menyajikan keindahan pantainya. Selain dari sajian keindahan pantainya, khusus di daerah pesisir pantai Doro MBoha dan Doro Peti sanggup menyajikan informasi geologi yang cukup menarik dan unik, yakni dengan sajian endapan preatik dengan akresional lapilinya dan aliran piroklastik yang mempunyai struktur dalam yang sangat indah, mulai dari struktur silang (cross-structure), pembebanan (load cast structure) hingga paralel (paralel lamination) yang silih berganti. Sajian akresional lapili dan ragam struktur dalam tersebut terdapat pada endapan aliran piroklastik produk letusan Tambora 1815 dan produk letusan insitu Doro Peti.

Tidak kalah menariknya, yakni mengenai tujuan wisata yang terdapat di P. Satonda yang berposisi di bagian baratlaut G. Tambora. Daerah ini merupakan produk erupsi preatik di luar tubuh G. Tambora yang dipisahkan oleh selat. Untuk mencapainya dapat dilakukan dengan menggunakan perahu motor (umumnya dilakukan dengan cara mencarter) dari Labuan Kananga.

Lain-lain

Ciri Khas G. Tambora

Karena letusan katastropik G. Tambora tahun 1815 yang memakan korban jiwa manusia (korban letusan langsung tidak kurang dari 10.000 jiwa). Sementara korban tidak langsung jumlahnya mencapai 38.000 jiwa di P. Sumbawa dan tidak kurang dari 44.000 jiwa di P.Lombok, sehingga jumlah korban jiwa manusia tidak kurang dari 92.000 jiwa. Merupakan suatu jumlah korban jiwa manusia yang sangat besar akibat dari suatu letusan katastropik di abad ke-19.

 

Tidak banyak letusan gunungapi katastropik di abad ke-19 yang menghasilkan suatu kaldera berdiameter besar. Di dunia hanya tercatat tidak lebih dari 3 buah saja, yakni satu buah di G.Pinatubo (Jepang) dan 2 buah di Indonesia, yakni di G. Tambora (hasil letusan katastropik tahun 1815) dan di G. Krakatau (hasil letusan dahsyat pada tahun 1883).

 

Yang cukup menarik untuk hasil letusan G. Tambora 1815, adalah   tersebar luasnya aliran piroklastik berkomponen pumis hitam (black pumice) yang sangat jarang ditemukan pada produk letusan besar di gunungapi lain. Hal lain yang cukup menarik adalah terbentuknya kerucut-kerucut luar (flank eruption) yang tersebar di hampir seluruh lereng dan kaki G.Tambora, dengan produk letusan yang beragam dari mulai lava brondong/pop corn lava (produk letusan tipe stromboli), endapan preatik dan preatomagmatik yang banyak menyajikan struktur dalam (internal stucture) yang sangat baik untuk studi banding kevulkanologian.

 

Dampak positif dari G. Tambora, yakni dia sanggup menampilkan panorama yang cukup memukau, antara lain yang terdapat di P. Satonda, Doro Peti dan di hampir semua pesisir pantai di kaki G. Tambora.

 

Buah Tangan G. Tambora

Di sekitar G. Tambora banyak ditemukan lebah liar yang banyak menghasilkan madu berkhasiat tinggi dengan kualitas yang tidak diragukan lagi � sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

 

Hal lain adalah dengan banyaknya padang rumput terutama di bagian lerengnya, maka seringkali dijumpai lompatan indah dari sekelompok rusa-rusa liar. Sayangnya rusa-rusa bertanduk indah ini terlampau banyak diburu tangan-tangan jahil baik untuk diambil dagingnya (yang dijadikan konsumsi daging panas yang lebih panas dibanding dengan daging kambing) maupun diambil tanduknya untuk keperluan sejumlah kelengkapan asesori rumah-rumah mewah para agniya di perkotaan.

 
VSI  
© Mancamedia 2005-2006  Developed with An Anoa Application framework