Rubrik
Hiburan
Berita Utama
Latar
Surat Pembaca
Olahraga
International
Keluarga
Nasional
Iptek
Foto dan Komik
Naper
Seni & Budaya
Berita Yang lalu
Wisata
Dana Kemanusiaan
Teknologi Informasi
Rumah
Audio Visual
Otonomi
Pustakaloka
Jendela
Telekomunikasi
Kesehatan
Sorotan
Ekonomi Rakyat
Ekonomi Internasional
Didaktika
Pendidikan
Teropong
Pixel
Bahari
Pendidikan Luar Negeri
Pendidikan Dalam Negeri
Fokus
Pengiriman & Transportasi
Bentara
Perbankan
Pergelaran
Ilmu Pengetahuan
Esai Foto
Makanan dan Minuman
Properti
Swara
Muda
Musik
Agroindustri
Furnitur
Otomotif
Investasi & Perbankan
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi

 

 

Hiburan
Minggu, 19 Oktober 2003

Wajah Lama Energi Baru

LAGU-lagu Iwan Fals dan Chrisye belakangan sering terdengar lagi. Iwan antara lain melantunkan lagu Aku Bukan Pilihan yang termuat dalam album In Colaboration With. Adapun Chrisye memopulerkan Seperti Yang Kau Minta dari album Dekade. Kedua lagu itu diciptakan Pongky yang dikenal sebagai personel band Jikustik. Wajah-wajah lama itu merangkul penulis lagu dari generasi yang lebih muda.

PONGKY termasuk salah satu penulis lagu "muda" yang karyanya banyak digunakan penyanyi lain. Selain Pongky, tersebutlah nama penulis lagu seperti Eross dari Sheila on 7, Kikan dari Cokelat, dan Azis dari Jamrud. Karya mereka dibawakan Iwan Fals pada album terbarunya, In Colaboration With.

Dari ukuran rentang karier, Pongky dan kawan-kawan yang lahir di paruh kedua era 1970-an memang jauh berbeda dengan angkatan Chrisye atau Iwan Fals. Chrisye telah empat dekade berkiprah di belantika musik, sedangkan Iwan sejak awal 1980-an sudah populer dengan Umar Bakrie.

Pongky, Eross, atau Kikan, baru menyembul dalam belantika musik pada akhir 1990-an. Dengan kata lain, mereka belum lahir ketika Chrisye berjaya dengan lagu-lagu dalam album Badai Pasti Berlalu. Toh, mereka bisa dipertemukan dalam sebuah kolaborasi.

Iwan Fals dalam album In Colaboration With melibatkan lagu-lagu ciptaan Pongky, Kikan, dan Eross, juga Azis dari Jamrud. Begitu juga Chrisye dalam album Dekade menyertakan sebuah lagu ciptaan Pongky berjudul Seperti yang Kau Minta. Adakah ini sebuah upaya penyegaran pasar?

"Bisa dibilang begitu. Ini kan industri, jadi harus dicari siasat," kata Chrisye.

Nama-nama penulis lagu "muda" itu di mata produser memang dianggap sebagai pembuat lagu laris, atau hit maker kata orang-orang industri rekaman. Eross misalnya, menulis lagu Sephia yang menjadi lagu andalan Sheila on 7. Azis menciptakan Pelangi di Matamu yang dipopulerkan Jamrud. Kikan bekerja sama dengan Edwin lewat Cokelat menghasilkan lagu Karma. Pongky, selain mencipta lagu kondang Jikustik, juga menulis untuk penyanyi semisal Audy dengan lagu Menangis Semalam.

Mereka diharapkan menjadi semacam energi baru bagi penyanyi seperti Chrisye dan Iwan Fals. Hasilnya memang ada. Setidaknya album Iwan Fals, In Colaboration With, yang dirilis Juli lalu terjual sekitar 450.000 kopi, sedangkan album Dekade dari Chrisye laku 350.000 kopi. Pasar pembeli album tersebut kebanyakan kalangan berusia muda, mulai usia sekolah lanjutan sampai mahasiswa tahun-tahun awal.

Indrawati Widjaja, produser dari Musica yang menerbitkan album Iwan Fals dan Chrisye, mengakui pasar membutuhkan penyegaran. Sosok Iwan Fals dan Chrisye dianggap masih kuat di mata publik remaja. Karakter vokal mereka, lanjut Indrawati, masih "masuk" untuk segmen pembeli remaja.

"Kami lalu menyiasati dengan mengombinasikan karakter vokal itu dengan selera remaja, supaya bisa masuk pasar remaja. Lagu Pongky, Seperti yang Kau Minta, itu pasarnya remaja dan lagu dia sukses," kata Indrawati yang akrab disapa Acin itu.

LAGU-lagu ciptaan penulis lagu angkatan Pongky, Kikan, dan kawan-kawan itu sebenarnya tidak beranjak jauh dari lagu-lagu pop yang kondang pada era lalu. Setidaknya menurut Chrisye yang memang terbiasa membawakan lagu ciptaan penulis lagu dari berbagai era. Karakter lagu, lirik, dan tema, juga belum bergeser dari urusan cinta.

Hal yang penting, Chrisye menambahkan, adalah cara menyiasati agar sebuah lagu bisa cepat dinikmati. Dari pengalaman Chrisye, lagu pop akan cepat berkenan di telinga publik jika komposisi tidak rumit, dan lirik tak bertele-tele. Lagu Pongky termasuk jenis lagu yang sederhana dengan lirik lugas. Namun, itu pun tidak menjamin sukses sebuah lagu. Diterima atau tidaknya lagu di telinga publik, menurut Chrisye, susah diprediksi.

"Sebuah lagu tiba-tiba saja pas untuk masyarakat. Ada corak-corak lagu tertentu yang jarang terdengar, kemudian disukai orang," kata Chrisye.

Chrisye memberi contoh lagu Sakura dari Fariz RM atau lagu Kisah Kasih di Sekolah-nya Obbie Messakh yang populer pada awal 1980-an. Pada masanya, Fariz dan Obbie termasuk penulis lagu muda yang muncul di tengah era yang dihiasi lagu ciptaan Rinto Harahap.

Chrisye selama ini memang sering bekerja sama dengan pencipta lagu yang pada masanya dianggap baru. Dia menyebut nama Tito Sumarsono yang pada pertengahan 1980-an dikenal sebagai pencipta lagu laris. Salah satu lagu ciptaan Tito pernah dibawakan Chrisye. Bagi Chrisye, jagat kreatif tidak mengenal dikotomi senior-yunior. Siapa yang lebih kreatif, merekalah yang akan merebut tempat di hati pendengar.

Jika kini dia menggunakan lagu dari pencipta muda, itu merupakan bagian dari kehidupan industri musik yang memang tergantung pada situasi pasar. Begitu karya mereka disenangi orang, maka mereka akan banyak dipakai.

"Musik telah menjadi industri. Begitu karya seorang penulis lagu disenangi, begitu ada permintaan, pasti akan di-supply (dipasok). Ini sudah jadi industri, jadi bagaimana cari benefit-keuntungan," kata Chrisye.(XAR)

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

Tiga Dimensi untuk Sinetron Anak

·

Wajah Lama Energi Baru

·

Pandangan Pribadi untuk Tragedi

·

"Adaptation"

·

KASET/CD/VCD



 

 

Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS