Rubrik
Berita Utama
Politik & Hukum
Olahraga
Metropolitan
Naper
Nusantara
Bisnis & Investasi
International
Finansial
Opini
Humaniora
Geliat NAD & SUMUT
Sumatera Bagian Utara
Sumatera Bagian Selatan
Jawa Barat
Berita Yang lalu
Esai Foto
Fokus
Pustakaloka
Otomotif
Furnitur
Agroindustri
Musik
Muda
Makanan dan Minuman
Audio Visual
Perbankan
Investasi & Perbankan
Pendidikan Dalam Negeri
Pendidikan Luar Negeri
Pendidikan
Pixel
Swara
Dana Kemanusiaan
Rumah
Sorotan
Ilmu Pengetahuan
Teropong
Wisata
Bingkai
Bahari
Telekomunikasi
Bentara
Ekonomi Internasional
Properti
Interior
Otonomi
Pendidikan Informal
Teknologi Informasi
Didaktika
Jendela
Tanah Air
Ekonomi Rakyat
Pergelaran
Info Otonomi
Tentang Kompas
Kontak Redaksi
Opini
Kamis, 24 Februari 2005

Kuntowijoyo Sang Begawan

Oleh Abdul Munir Mulkhan

HARI Selasa 22 Februari 2005 tepat pukul 15.50, Prof Dr Kuntowijoyo akhirnya kembali menemui Sang Khalik. Meski telah lebih dari 10 tahun menderita sakit, berita kematian sang begawan itu tetap saja mengejutkan teman-temannya. Sunatullah telah berlaku baginya, bagi siapa dan apa saja yang ada di dunia sejarah.

Tahun 1991, Mas Kunto, begitu saya biasa memanggil, menderita sakit akibat serangan virus meningo enchepalitis. Sejak itu saraf motoriknya mengalami gangguan serius, hingga sulit berbicara. Untuk mengatakan satu kata saja, ia seperti harus mengerahkan seluruh kekuatannya. Gerakan tubuhnya bagai kakek yang mengalami kerapuhan tulang.

Minggu pagi masih jalan pagi ditemani istri, Dra Susilaningsih MA, sebagai terapi atas sakit menahunnya. Senin dini hari pukul 02.00, dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas. Mas Kunto segera dilarikan ke RS Sardjito, Yogyakarta. Senin malam Mas Kunto mengalami gangguan pernapasan dan segera dibawa ke ICU. Selasa sore, cendekiawan, budayawan, sastrawan, dan agamawan itu harus tunduk pada takdir kematiannya.

KUNTOWIJOYO lahir di Sanden, selatan Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943. Ia meninggalkan seorang istri dan dua putra. Sulungnya, Punang Amaripuja SE MSc, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Si bungsu, Alun Paradipta, kini sedang menyelesaikan S1.

Pendidikan formal keagamaan dijalani di Madrasah Ibtidaiyah di Ngawonggo, Klaten, tempat menempuh SRN 1950-1956. Tamat SMP 1 Klaten dan SMA II Solo, sebelum lulus sarjana Sejarah UGM tahun 1969. Gelar MA American History diperoleh dari The University of Connecticut AS tahun 1974, dan PhD Ilmu Sejarah dari Columbia University AS tahun 1980.

Sepulang dari AS, Kuntowijoyo mulai terlibat berbagai kegiatan Muhammadiyah bersama sejawatnya, Prof Dr Amien Rais, Prof Dr Ichlasul Amal, Dr dr Ahmad Watik Pratiknya, dan teman lainnya. Namun, Kunto lebih tampil sebagai pemikir, budayawan, dan sastrawan daripada aktivis. Ke-santri-annya tidak mengurangi daya kritis kesadaran keagamaan yang berkembang di kalangan umat Islam dan komunitas Muhammadiyah.

Dalam sebuah tulisannya, Muhammadiyah dikritik sebagai gerakan kebudayaan "tanpa kebudayaan". Di masa depan, gerakan ini perlu memadukan budaya agraris dan kota sebagai dasar transformasi budaya lanjut. Tahun 2020 dijadikan titik awal pencerahan gerakan keagamaan di Tanah Air hingga tumbuh peradaban yang melampaui peradaban Barat modern.

Gagasan genial itu terus menjadi tema sentral pemikiran sang begawan. Perubahan status IAIN menjadi UIN diharapkan sebagai tonggak penundukan materialisme, sekularisme, dan kapitalisme. Melalui tafsir kritis Surat Fushilat Ayat 53, Kunto meletakkan ilmu alam dan humaniora dalam kesatuan ilmu qauliah berbasis teks Al Quran. Surat Ali Imran Ayat 110 diletakkan sebagai dasar sintesa humanisasi (amar makruf), liberalisasi (nahi mungkar) dan transendensi (tu’minu billah). Baginya, Ilmu Sosial Profetik adalah akar transformasi budaya lanjut yang menyatukan semua tradisi dan budaya (Barat dan Timur, agraris dan industri, desa dan kota) dalam sebuah garden city yang bisa lahir tahun 2020.

Novel, cerpen, dan naskah drama sang begawan melukiskan gagasan genial garden city. Novel pertama, Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari, terbit 1960-an disusul novel Khotbah di Atas Bukit (1976). Novel, cerpen, serta karya ilmiahnya tentang sejarah, metodologi, dan keagamaan terus mengalir. Gangguan saraf motorik tak menghentikan karya-karya sastra, budaya, dan ilmiah sang begawan.

Beberapa cerpen sempat memperoleh hadiah Kompas. Hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta diraih untuk naskah drama Topeng Kayu (1973). Penghargaan Asean Award on Culture diterima tahun 1997, selain penghargaan SEA Write Award dari Pemerintah Thailand tahun 1999 dan beberapa penghargaan lain.

Dalam sakit panjangnya itu, sang begawan lebih produktif dibandingkan teman-temannya yang sehat. Otaknya tetap bekerja normal, opininya terus mengalir menghiasi berbagai media. Novel dan cerpen sang begawan bahkan terus menghiasi harian Kompas. Tahun 2001 lahir novel Mantra Pejinak Ular yang dimuat Kompas sebagai cerita bersambung.

Gangguan saraf motoriknya tak mengurangi keseriusannya mengkritisi disertasi saya. Begitu pula saat menulis kata pengantar berjudul Jalan Baru Muhammadiyah untuk penerbitan disertasi itu tahun 2000 dengan judul Islam Murni dalam Masyarakat Petani.

Itulah cermin kejernihan hati dan kesederhanaan dalam laku dan cakap Mas Kunto. Karya sastra dan wacana intelektualnya melintasi benua dan zaman. Sang begawan tak mungkin menelusuri Kota Yogyakarta kecuali disertai istri yang bertindak sebagai sopir pribadi karena ia tidak bisa mengendarai mobil.

OPINI dan karya sastranya mengalir bak air pegunungan yang menyejukkan. Di tangan Mas Kunto, teori ilmiah dan filsafat yang rumit menjadi uraian cair, mencerahkan, enak dibaca.

Salah satu tesis monumental yang diwariskannya ialah tahapan sejarah kesadaran keagamaan umat Islam dari periode mitos dan ideologi ke tahapan ilmu. Tesis itu pula yang menjadi isi pokok pidato pengukuhan guru besar sejarah yang dibacakan istrinya di hadapan Sidang Senat Terbuka UGM, 21 Juli 2001. Teori tiga tahap Auguste Comte itu diurai dengan jernih.

Pergulatan intelektual dan kesadaran spiritual Kuntowijoyo terus mengalir seperti tanpa akhir. Idenya tentang Ilmu Sosial Profetik belum diurai tuntas seperti gagasan integrasi ilmu dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam yang pernah ditulis dalam bukunya, Paradigma Islam; Interpretasi untuk Aksi.

Paparan rinci atas gagasan-gagasan itu tampak menubuh meski sosok lebih utuh belum juga jelas. Dalam seminar alih status IAIN menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) September 2002, Mas Kunto mengusulkan kesatuan epistemologis dan aksiologis, akal dan wahyu, agama dan manusia dalam Islam pascamodern.

Elaborasi gagasan utamanya itu merupakan tanggung jawab generasi muda Muslim yang disebut "Tanpa Masjid" saat sang begawan telah kembali ke pangkuan Ilahi. Daur sejarah mulai berulang saat takdir kematian intelektual seperti sosok Kuntowijoyo harus berlangsung.

Soalnya, seberapa kita bersedia menangkap pesan sejarah dan memainkan peran penuh kesadaran. Takdir sejarah terbuka bagi siapa saja yang secara sadar memasuki ruang gaibnya yang penuh misteri. Kesadaran itu disebut Kunto sebagai kunci tahapan peradaban profetik dalam Ilmu Sosial Profetik ketika agama menyatu dalam kehidupan manusia.

"Selamat jalan Mas Kunto. Kami doakan kau menemukan titik-titik istirahat di jalan panjang ilahiah tanpa ujung. Kau boleh yakin kami masih melanjutkan pergulatan dalam dinamika sejarah yang sebagian telah kau tandai dengan ketulusan sastra, budaya, dan intelektual dalam kejernihan ketuhanan dan kemanusiaan!"

Abdul Munir Mulkhan Pengajar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Search :
 
 

Berita Lainnya :

·

TAJUK RENCANA

·

REDAKSI YTH

·

Sejarawan Jangan di Menara Gading

·

KPK dan Asas Retroaktif

·

Pergantian Panglima TNI

·

Kuntowijoyo Sang Begawan

·

POJOK



Design By KCM
Copyright © 2002 Harian KOMPAS