AstagaKompas Cyber Media
KOMPAS Online
 
Koran Daerah
English Nederlands
Jumat, 7 April 2000

Borobudur Pernah Salah Desain

Kompas/julius pourwanto
CANDI Borobudur! Siapa yang tidak kenal candi yang menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia ini? Akan tetapi, banyakkah yang tahu kalau pada awal pembangunannya, Candi Borobudur pernah mengalami kesalahan desain? Perkiraan kesalahan desain ini bisa diketahui dari pola rancangan pembagian denah candi atau talacchanda. Bentuk talacchanda ini merupakan suatu diagram bujur sangkar yang disebut vastupurusamandala.

Dengan memperhatikan talacchanda Borobudur, selain mengetahui adanya kesalahan desain juga ditemukan bahwa pembagian tata ruang yang dinyatakan dengan tembok lorong jatuh pada garis-garis diagram ini. Menurut Direktur Jenderal Kebudayaan I Gusti Ngurah Anom dalam "Simposium Rahasia di Balik Keagungan Borobudur" yang diselenggarakan Dhammasena Universitas Trisakti di Jakarta, pertengahan Maret lalu, kesalahan desain itu diperbaiki dengan membuat "kaki tambahan" dan menutupi kaki aslinya.

Adanya dua kaki itu pertama kali diketahui oleh Yzerman (1885) ketika mengadakan penelitian untuk penyelamatan Candi Borobudur dari bahaya kerusakan. Kaki tambahan candi inilah yang terlihat sekarang, bentuknya sangat sederhana dan sering disebut teras lebar.

Teras lebar ini menutupi relief di kaki asli. Relief yang terdiri dari 160 pigura di kaki asli Candi Borobudur ini ditemukan tahun 1895. Di beberapa pigura terdapat tulisan singkat sebagai petunjuk ringkas bagi pemahatnya dalam huruf Jawa Kuna. Ternyata, kata-kata yang dipergunakan itu juga terdapat dalam kitab Mahakarmawibhangga yang memuat tentang cara kerja hukum karma dalam kehidupan.

"Jadi dapat dikatakan relief itu memang menggambarkan naskah Mahakarmawibhangga," kata Anom.

***

MENGENAI alasan penutupan relief di kaki asli Candi Borobudur ini, para ahli arkeologi masih mempermasalahkannya. Sebagian berpendapat bahwa penutupan ini sekadar masalah teknis agar candi itu tidak longsor, mengingat kaki aslinya sangat curam. Sebagian lagi mengatakan bahwa penutupan ini karena alasan keagamaan. Argumentasinya, karena relief di kaki asli menggambarkan kehidupan sehari-hari yang terkadang berkesan sadis, seronok dan sebagainya. Hal ini dianggap tidak patut diketahui oleh umat Budha yang berkunjung ke Borobudur.

Menurut Anom, jika alasan keagamaan ini benar, maka penutupan relief itu hanya membutuhkan ketebalan antara 20 cm-50 cm saja. Jadi alasan teknis tampaknya lebih masuk akal. Selain masalah teknis, dari segi arsitektur juga bisa dijadikan alasan. Ternyata diagram vastupurusamandala yang semestinya dipakai sebagai talacchanda Borobudur adalah diagram Mahapitha (4 x 4 bujur sangkar). Semula bentuk ini belum diterapkan secara penuh sehingga untuk mendapatkan bentuk candi yang serasi diperlukan kaki tambahan.

Sebenarnya, masih menurut Anom, secara arsitektur bangunan candi bisa dipelajari dalam kitab Vastusastra yang memuat ketentuan tentang ukuran bagian bangunan seperti pilar, ruang, lantai dan lain-lain. Kitab Vastusastra juga menyebutkan bahwa arsitek pembuat candi terdiri dari empat jenis yang mempunyai tugas dan keahlian khusus. Salah satunya adalah sutragahin yang punya keahlian tentang berbagai ukuran baik secara keseluruhan maupun bagian-bagian candi, modul, serta proporsi vertikal dan horizontal candi.

"Kalau ada arsitek kita yang mau mempelajari prinsip dalam Vastusastra, pastilah kita bisa membuat bangunan yang bermutu seperti Borobudur," katanya. (mam)


Berita dikbud lainnya :


Kompas Cyber Media
KOMPAS Online
© C o p y r i g h t   1 9 9 8   Harian KompasD e s i g n e d  b y  Agrakom