SUARA PEMBARUAN DAILY

Academy Award

Upaya Indonesia Mencari Peluang

istimewa

Dalam diskusi di kampus Universitas W.R. Supratman, diumumkan film "Nagabonar" diterima Panitia Academy Award sebagai peserta pertama dari Indonesia. Tampak Deddy Mizwar, Nurul Arifin, moderator, produser Bustal Nawawi, Eva Rosdiana Dewi (Ketua Parfi Jatim), dan distributor A. Rahim Latif.

Academy Award atau populer dengan sebutan piala Oscar, adalah puncak supremasi dunia film. Piala berlapis emas setinggi 34 cm berbobot 3,85 kg ini dianugerahi Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS).

Anggota AMPAS meliputi: Produser, Sutradara, Artis, Tekhnisi, dan Penulis Skenario. Jumlahnya pada tahun 2007 mencapai 5.830 orang dengan ketentuan setiap anggota memberikan satu suara. Mereka yang menilai setiap film yang beredar sejak midnite show tanggal 1 Januari sampai dengan midnite show 31 Desember, di bioskop-bioskop di Los Angeles, California. Menurut Buku Putih AMPAS, film panjang yang dinilai minimal berdurasi 40 menit, dan dicetak dalam media seluloid 35 mm atau 70 mm.

Puncak acara Academy Award perdana digelar pada Kamis malam, 16 Mei 1926, di Hotel Roosevelt, Los Angeles. Yang akan datang, ajang Academy Award ke-80, direncanakan pada Minggu malam, 24 Februari 2008, di Kodak Theatre, Hollywood.

Perlu diketahui, selama 60 periode lebih penganugrahan diberikan pada akhir Maret atau awal April, namun sejak tahun 2004 dimajukan ke akhir Februari atau awal Maret. Tapi mulai kapan dimasukkannya film-film produksi luar Amerika ke ajang Oscar?

Film Non-Inggris

Dari masa ke masa, Panitia AMPAS terus memperbaiki Buku Putih mereka, juga menambahkan kategori baru, seperti pemilihan Academy's Foreign Language Film Award.

Terus terang rasanya kurang kena bagi kita kalau diterjemahkan menjadi Piala untuk Film Berbahasa Asing, lebih pas kalau disebut Film Berbahasa Non-Inggris.

Ide untuk menganugerahkan piala Oscar kepada sebuah film berbahasa non-Inggris baru terwujud pada tahun 1947. AMPAS mengundang setiap negara pembuat film untuk mengirimkan satu judul film pilihan komite yang dibentuk oleh negara tersebut.

Piala untuk Film Non-Inggris pertama diraih film Italia, Sciuscia/Shoeshine, karya Vittorio De Sica. Sekarang, Italia tercatat sebagai juara terbanyak, 13 kali. Bersaing ketat dengan Prancis yang menyabet 12 kemenangan. Negara Asia pertama yang menggondol Oscar adalah Jepang, pada tahun 1951, lewat Rhasomon, karya Akira Kurosawa.

Bagaimana dengan Indonesia? Mengapa Bapak Perfilman kita, Usmar Ismail, yang sudah bikin Harta Karun dan Tjitra (pada tahun 1949), tidak mengikuti jejak De Sica dan Kurosawa?

Jawabnya, barangkali, karena situasi politis pada masa itu tidak memungkinkan bagi tokoh-tokoh seperti Usmar atau Djamaluddin Malik. Tak urung Usmar mengirimkan karyanya, Pedjuang, ke Festival Film Internasional Moskwa 1961 dan menyabet piala Aktor Terbaik untuk Bambang Hermanto.

Lantas apa film Indonesia perdana yang berhasil terdaftar sebagai peserta Academy Foreign Language Film?

Penerobos

Baru pada 19 Mei 1987, seorang mantan importir pengedar film asal Surabaya, Abdul Rahim Latif, menjajal melakukan terobosan. Memakai biaya sendiri ia terbang ke Beverly Hills, langsung ke markas besar AMPAS. Dengan jabatan sebagai Foreign Department PT Prasidi Teta Film, Latif menemui Robert MW Vogel, Chairman Foreign Language Film Award Committee.

Tujuan Latif mendaftarkan film Nagabonar sekaligus merombak rambu-rambu yang dipasang pihak Academy terhadap film asing selama 40 tahun. "Misalnya ketentuan untuk penayangan selama minimal satu minggu di layar bioskop di Los Angeles," tutur Latif.

Ternyata Vogel bersikap sangat terbuka dan bisa menerima masukan-masukan Latif. Namun ia memberikan tiga persyaratan bila Nagabonar ingin disertakan dalam ajang Oscar ke-60, "Satu, film tersebut sudah dirilis di bioskop Indonesia antara tanggal 1 November 1986 sampai dengan 31 Oktober 1987. Dua, film yang akan dikirim untuk mewakili sebuah negara harus dipilih oleh komite seleksi yang dibentuk di negara itu sendiri. Tiga, komite tersebut memilih Nagabonar bukannya film dengan judul lain untuk didaftarkan ke ajang Oscar."

Jadilah, Nagabonar, karya MT Risyaf berdasarkan cerita- skenario Asrul Sani yang dibintangi Deddy Mizwar, Nurul Arifin, Roldiah Matulessy, Wawan Sarwani, dan Afrizal Anoda, tercatat dalam sejarah sebagai film Indonesia pertama memasuki ajang Academy Award.

Dua tahun kemudian, Latif yang sudah beralih ke PT Ekapraya Film, mengirimkan Tjoet Nja' Dhien, karya Eros Djarot yang dibintangi Christine Hakim. Saat itu pemenangnya adalah Cinema Paradiso, karya Giuseppe Tornatore dari Italia.

Film ketiga, Langitku Rumahku, sempat ditawar distributor besar Samuel Goldwyn untuk dirilis di Amerika. Sayang tak terjadi persesuaian harga dengan Eros Djarot (produser), pasalnya berada di bawah penawaran untuk peredaran di Jepang. Hal ini agak disesali Latif. "Sebaiknya diterima sebagai pembuka jalan supaya film Indonesia mulai dikenal di sana. Siapa tahu bisa disusul film-film berikutnya?," tuturnya.

Tak urung Langitku Rumahku mendapat kehormatan besar, buku skenario aslinya (dalam bahasa Indonesia tentu, dan penuh corat-coret tulisan tangan sutradara Slamet Rahardjo) diminta untuk mengisi Margareth Harriet OSCAR Library.

Sampai film keempat, Bibir Mer, pengiriman terus dilakukan oleh DFN. Terjadi pergantian pengirim pada film kelima dan keenam (Daun di Atas Bantal dan Sri), yakni oleh Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI).

Adapun Rahim Latif setelah terakhir mengirim-kan Sri ke Academy, telah mengundurkan diri, pensiun. Baru pada tahun 2003, Nia diNata memulai lagi dengan mengirimkan debut penyutradaraannya, Ca Bau Kan. Lantas, adakah peluang untuk film kita yang menjadi peserta terbaru?

Denias, Peserta ke-11

Sampai sekarang sudah 11 film tercatat menjadi peserta. Terlihat yang paling aktif memang Nia diNata dengan mengirimkan tiga film produksinya. Fakta sampai sekarang belum satu pun film Indonesia berhasil lolos seleksi Academy hingga tercatat masuk Nominee/Unggulan.

Termasuk peserta tahun 2006, Berbagi Suami, yang membuka mata dunia betapa di Indonesia dihalalkan seorang lelaki mempunyai empat istri.

Untuk memilih peserta ke-11, PPFI membentuk Komite Seleksi khusus yang terdiri dari 18 insan film (antaranya: Garin Nugroho, Raam Punjabi, Firman Bintang, Shanty Harmain, dan Leila S Chudori). Dari 40 film ditapis tiga judul; Denias, Opera Jawa, dan The Photograph. Namun akhirnya, diputuskan untuk mengirimkan Denias ke Amerika.

Maka Firman Bintang, SekJen PPFI, meminta kepada Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, produser Alenia Pictures, untuk menyiapkan satu kopi Denias yang memenuhi persyaratan di atas.

"Mengenai biaya pengiriman, sebagai lembaga PPFI mendapatkan bantuan dari Depbudpar (Departemen Budaya dan Pariwisata)," ungkap Firman yang memperhitungkan nilai lebih bakal dipetik sebuah film bila berhasil menerobos seleksi AMPAS hingga menjadi salah satu dari lima nominee, "Selain mengharumkan nama bangsa dan negara lewat perfilman, film tersebut juga bakal laris dibeli untuk diedarkan di mancanegara."

Oke, film Denias telah dikirimkan ke AMPAS pada 12 Oktober 2007, lantas bagaimana selanjutnya?

Mencapai Nominee

Jawaban Firman adalah, "Menunggu. Ya, kami harus menunggu perkembangan selanjutnya, misalnya apabila Denias berhasil masuk nominee, maka sutradaranya mesti diberangkatkan ke Hollywood."

Hakekatnya pada hemat penulis, kita sebaiknya tak hanya bersikap menunggu, melainkan melakukan berbagai upaya terobosan ke tahap nominee. Termasuk melakukan gerilya seperti kiat Nia diNata.

"Kita harus membuat film ditonton untuk dinilai oleh sebanyak mungkin anggota AMPAS yang menentukan film tersebut layak masuk nominee atau tidak. Padahal filmnya belum ditonton karena memang tak beredar di bioskop-bioskop Amerika. Maka kita harus melobi mereka supaya menontonnya. Kalau nggak menonton, bagaimana mereka bisa memberikan suara dan bagaimana film kita bisa dinilai lebih lanjut?," tutur Nia.

Untuk melobi mereka Nia berupaya mengirimkan satu kopi DVD filmnya dilengkapi data-datanya kepada sebanyak mungkin anggota AMPAS. Kemasan film juga harus sebagus mungkin supaya menarik minat mereka untuk menontonnya.

"Pasang iklan di media industri film Amerika seperti Variety, Hollywood Reporter, juga menyewa humas untuk melobi anggota-anggota yang berpengaruh dalam memberikan rekomendasi," tambahnya.

Jelas untuk itu dibutuhkan biaya tak sedikit, "Sampai Rp 500 juta," perkiraan Nia, "Waktu Ca Bau Kan masuk, kami nggak ngapa-ngapain, biaya sebesar itu berat bagi kami. Saat Berbagi Suami, juga sudah kehabisan dana promosi, jadi kami bergerilya lewat situs internet. Selain itu, Berbagi Suami rajin dikirim ke berbagai festival dunia untuk menarik perhatian anggota Academy, Golden Globe, dan pers Hollywood."

Berdasarkan pengalaman Nia diNata serta Rahim Latif (yang pernah menjalin kerja sama dengan New York International Picture Ltd), maka penulis menyimpulkan banyak kiat untuk memenangkan piala Oscar bagi kita. Semoga bermanfaat bagi kemajuan film Indonesia di masa mendatang. (Yan Widjaya, Pengamat film)


Last modified: 22/11/07