UFO Digital Artist

The author's partner in book front-cover design

SINDROM KODOK PADA MANUSIA 

Penulis  : Tumpal SihombingTanggal : 1 Oktober 2004 11:43:24

Ini merupakan hasil nyata percobaan ilmiah di laboratorium yang amat sederhana. Seekor kodok ditest reaksinya dalam menghadapi dua bejana yang berbeda pengkondisian suhu airnya. Bejana A berisi air dengan suhu tetap 70 derajat Celcius. Ke dalam bejana ini, si kodok dicemplungkan begitu saja ke dalam air. Akibatnya, sang kodok bereaksi cepat sekali dengan langsung melompat ke luar bejana, menyelamatkan diri.

Sementara, bejana B berisi air dengan suhu kamar sekitar 25-26 derajat Celcius. Si kodok yang tadi menyelamatkan diri itupun dimasukkan ke dalam bejana B, dan dia merasa nyaman di dalamnya, jadi tak perlu menyelamatkan diri. Pada saat kodok masih berada dalam bejana B, airnya dipanaskan secara perlahan. Pada suhu 35 derajat, kodok masih tetap bertahan di dalam air, demikian juga pada suhu 40, 45, 50, 55, 60, 65 dan seterusnya secara perlahan sekali sampai pada suhu 70 derajat celcius, sang kodok masih tetap berada di dalam bejana. Akhirnya, beberapa waktu kemudian didapati sang kodok telah mati terebus dalam bejana B tersebut, pada suhu yang sama persis dengan air yang terdapat dalam bejana A tadi.

Mengapa demikian ? Mengapa pada bejana A yang bersuhu tetap 70 derajat Celcius sang kodok langsung sontak melompat keluar menyelamatkan diri, sementara di bejana B yang secara bertahap dipanaskan sampai bersuhu 70 derajat, dia tidak menyelamatkan dirinya ? Penjelasan ilmiahnya adalah, tubuh kodok secara reaktif menyesuaikan diri dengan suhu di lingkungannya, bahkan sampai kondisi panas yang ekstrim sekalipun. Tubuhnya secara otomatis terus berusaha menyesuaikan diri dengan suhu lingkungannya, dan pada akhirnya dia terlambat sadar bahwa dirinya telah terebus. Sang kodok terlambat untuk menyelamatkan diri dengan cara keluar dari bejana B. Akibat proses ini, sang kodok terlambat menyadari bahwa proses reaktif penyesuaian tubuhnya terhadap kondisi lingkungan telah menyeretnya kepada kematiannya sendiri.

Inilah yang saya sebut sebagai Sindrom Kodok.
Bagaimana dengan manusia, apakah sindrom kodok ini bisa terjadi ?

Kepada manusia hal ini bisa juga terjadi dan bahkan seringkali terjadi dari bukti-bukti sejarah dan fakta-fakta sosial yang ada saat ini. Apabila sang kodok adalah penghuni bejana B yang dia rasa nikmat, manusia adalah sang penghuni lingkungan alam ini. Sang kodok khilaf menanggapi entropi atau arah proses negatif yang terjadi di lingkungannya, dia secara reaktif terus menyesuaikan diri terhadap proses di lingkungannya yang merusak tubuhnya sendiri. Manusia juga, dengan tingkat kesadaran yang rendah terhadap lingkungan juga bisa kehilangan sense terhadap arah proses merusak di alam yang terjadi karena segala perbuatannya. Manusia adalah penghuni alam, jadi apabila alam dirusak, maka manusia dan mahkluk yang hidup di dalamnya juga pasti mengalami kerusakan, cepat atau lambat.
Sistem, per definisi, adalah gabungan berbagai komponen yang saling terkait dengan aturan tertentu untuk mencapai suatu goal tertentu. Jadi sebagaimana suatu organisme, atau suatu mesin, adalah sistem, maka lingkungan alam atau habitat inipun adalah suatu sistem hidup yang diciptakan oleh Tuhan untuk didiami dan dihidupi serta dimanfaatkan oleh manusia dan oleh semua penghuninya dengan benar.

Alam adalah suatu sistem, di mana manusia adalah salah satu komponennya, termasuk komponen lainnya seperti hewan, tumbuhan, mineral, sungai, danau, laut dan sebagainya. Salah satu komponen saja mengalami kerusakan, maka komponen lainnya akan terganggu, yang akibat finalnya adalah sistem terganggu. Apabila semua komponen mengalami kerusakan, maka sistem akan korup atau rusak. Apabila manusia sebagai suatu komponen dalam sistem alam ini bersikap merusak terhadap komponen lainnya dalam sistem alam, maka terjadilah proses perusakan berantai. Apabila manusia melakukan perusakan terhadap satu komponen saja dalam sistem alam, maka komponen lainnya yang terkait dengan satu komponen rusak tersebut juga akan mengalami kerusakan. Jadi seperti reaksi berantai dalam ledakan nuklir, hal itu bisa terjadi di luar pengamatan indra manusia, sebab menyangkut proses yang amat kompleks dalam cakupan sistem yang amat besar. Akibatnya, terjadilah hal yang kita sebut tragedi bencana alam.

Ada bencana yang bisa teridentifikasi langsung hubungannya secara kausalitet terhadap penyebabnya, misalnya tragedi minimata akibat sampah merkuri yang terjadi di Jepang puluhan tahun yang lalu, tragedi radiasi chernobyl yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Demikian juga tragedi bencana banjir besar yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Dampaknya secara langsung bisa terasa terhadap setiap mahkluk atau komponen di dalam sistem alam, dan mudah sekali mengenali hubungan kausalitetnya (hubungan kedekatan antara penyebab dan akibatnya).

Namun, bagaimana dengan tingkat kemampuan pengetahuan dan kesadaran manusia sekarang dalam menghubungkan perilaku manusia yang tak peduli lingkungan dengan terjadinya bencana alam besar seperti gempa bumi, air bah/banjir besar/tsunami, angin puting beliung atau tornado, gunung meletus, meteor atau komet jatuh, dan bencana-bencana alam lainnya ?
Pada saat ini, jawaban orang awam terhadap bencana alam ini adalah sebagai "cobaan dari Tuhan"; khususnya bagi mereka yang berpikiran sederhana atau pasrah. Atau bisa juga sebagai "bencana yang tak perlu"; khususnya bagi orang yang tak rela mengalami kepahitan tersebut. Benarkah demikian?

Bagi mereka yang telah memahami bahwa alam ini ternyata adalah suatu sistem yang hidup, penjelasannya tidaklah demikian. Bagi mereka yang telah paham akan sistem hidup alam ini, pernyataan yang ada adalah :
"what you give, is what you get. And what you've got, is what you've given before". Artinya, apa yang engkau berikan kepada orang lain atau kepada alam, itulah yang engkau terima dari orang lain atau alam ini. Dalam pengertian yang lebih sederhana, kita beri tinju kepada orang lain, maka kitapun akan dibalas dengan tinju. Kita beri kasih tulus kepada orang lain, maka dari orang lain pun akan datang kasih tulus kepada kita atau keturunan kita. Kita beri perhatian kepada alam, maka alampun akan memberikan kenikmatan kepada kita. Kita beri limbah kepada alam, maka alampun akan memberikan bencana kepada kita. Ini bukan hal yang terlalu sulit untuk dipahami, ini adalah perihal yang sederhana dan amat solid hukumnya, dan berlaku di sistem alam raya yang hidup ini. Dengan melihat fakta kondisi alam atau habitat yang ada di negara kita ini, ada banyak kasus di mana konsesi atau perundang-undangan perihal perlindungan terhadap lingkungan hidup jauh kalah prioritasnya dibandingkan kepentingan eksploitasi sumber daya alam atau kekayaan alam yang ada di dalamnya. Hutan lindung adalah komponen lingkungan, demikian juga dengan segala mineral yang terdapat di bawahnya. Apabila komponen hutan lindung dibabat habis, dan komponen sumber daya mineral yang terdapat di bawahnya dikuras dan selanjutnya lingkungan hutan yang telah terbabat habis tersebut tidak diperbaharui kembali (renewed), maka siapakah yang akan menjadi korban kalau selanjutnya terjadi bencana alam di tempat tersebut atau di tempat yang dekat dengan lokasi tersebut ?

Kalau sudah begitu, apakah kita akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh sang kodok di dalam bejana B yang tadi disebutkan di awal ?
Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan kemampuan berfikir, bertindak dengan kesadaran yang lebih tinggi daripada sang kodok. Namun walaupun begitu, sebaiknya kita bisa mengambil hikmah dari kelemahan sang kodok, tanpa kita harus mengalaminya sendiri lebih dahulu, lalu insyaf. Itupun kalau belum terlanjur diremukkan oleh bencana alam. Kita adalah manusia yang telah diberi akal, budi dan tenaga yang cukup oleh Yang Maha Kuasa untuk mampu mengatasi sindrom kodok ini.

Jadi, sebaiknya marilah kita memanfaatkannya dengan benar dalam kasih terhadap sesama dan lingkungan hidup. [end of records]

Hasil tulisan orisinil oleh : Tumpal Sihombing, email : ufo.artist@yahoo.com
Penulis adalah pengamat perihal eksosbudling (ekonomi sosial budaya alam)  Indonesia.

Jakarta, 2004

___________________________________________________________________