Yuk Mengenal Profesi Dubber

Julio Sanjaya, GM Marketing, Marketing Division PT MNC Sky Vision memberikan sambutannya dalam acara Coaching Class Be A Dubber di Kidzania, Pacific Place, Jakarta pada Kamis (27/3). Acara ini adalah bagian dari program edukasi bagi anak-anak yang diadakan Indovision.

Kesibukan orang tua membuat kurangnya perhatian kepada si kecil. Ujungnya, anak lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dengan menonton. Sayangnya, tidak semua tontonan pantas untuk menjadi tuntunan baik dan mendidik bagi tumbuh kembang anak karena kebanyakan hanya mementingkan sisi hiburan.

Untuk itu, TV berbayar terbesar di Indonesia dari MNC Sky Vision, Indovision, melihat hal ini sebagai peluang untuk memberikan tayangan lebih mendidik bagi anak. ”Channeluntuk anak khusus kartun berbobot 20%. Tak hanya itu, Indovision juga memiliki tayangan lainnya yang mendidik, seperti Discovery Channel, National Geographic Channel,dan tayangan edukasi lainnya hingga 40%,” kata Julio Sanjaya, GM Marketing, Marketing Division PT MNC Sky Vision saat acara Coaching Class Be A Dubberdi Kidzania, Pacific Place, Jakarta, Kamis (27/3).

Edukasi bagi anak-anak juga diwujudkan Indovision dengan menggandeng Kidzania sebagai penyedia edutainment parkterbesar. Mereka mengadakan acara yang menghadirkan ratusan siswa dari beberapa sekolah dasar di Jakarta. Mereka diundang untuk lebih mengetahui seluk-beluk di balik tayangan yang ditonton. Salah satunya memahami profesi dubberyang mengisi suara tokoh di dalam film. Melalui bincang-bincang dengan pengisi suara tokoh kartun berwarna kuning dari laut Bikini Bottom, Spongebob Squarepants, Rudi Bonham, anakanak diajak menelusuri lebih dalam keasyikan profesi pengisi suara ini.

”Dubberbelum banyak dikenal luas sebagai profesi menjanjikan. Namun, dengan industri kreatif dan pertelevisian yang semakin berkembang, pekerjaan ini pun semakin banyak dibutuhkan,” tutur Rudi yang telah bergelut dengan dunia pengisi suara selama 13 tahun di acara yang sama. Dia menjelaskan, saat mengisi suara untuk satu tokoh, harus seiring dengan gerak dan mimik tokoh yang diperankan, tidak boleh lebih atau kurang sedikit pun. Tentunya pekerjaan ini didukung oleh penerjemah dan mixer.

Dengan mendalami sebuah peran untuk mengisi suara, berarti sama dengan pengolahan emosi dan karakter. Lebih lanjut Rudi menjelaskan, profesi dubberbisa dimulai sejak usia 8 tahun hingga tua. Alasannya, beberapa rumah produksi menginginkan tokoh anak dalam film benar-benar diisi oleh anak-anak, meski orang dewasa dapat mengubah suaranya hingga menyesuaikan dengan tokoh anak. ”Pita suara wanita hingga tua tetap halus sehingga tidak masalah dia memerankan anak-anak.

Berbeda dengan pria dewasa yang suaranya pecah. Terkadang, dalam satu film, seorang pengisi suara dapat mengisi lima karakter sekaligus,” tuturnya. Urusan teknik, dia menambahkan, tidak ada perbedaan antara mengisi film dengan tokoh yang diperankan manusia dan film kartun. Saat ini sudah tersedia wadah bagi para dubber, yakni PERSUSI atau Persatuan Sulih Suara Indonesia. Anak-anak yang hadir setelah mengikuti coaching classdengan penuh antusias lalu diajak ke studio dubbing persembahan Indovision di Kidzania, yakni Indovision Dubbing Studio.

Di dalam, anak-anak disajikan potongan film kartun Pinguyang belum diisi suara. Setelah proses dubbing, mereka dapat menyimpan rekamannya. ”Dengan mengetahui proses di balik pembuatan film, anak-anak sebagai penonton akan semakin menghargai tontonan yang disukai,” tutup Julio Sanjaya. _elfa putri setyanti                  



Jumat 04 April 2014

Related News