Oleh : Syekh Misbahus Surur, S.H.I, M.S.I.

MENJELANG Idul Adha, persoalan kurban menjadi masalah yang hangat untuk dibicarakan, mengingat kurban (uḍḥiyyah) merupakan salah satu ibadah yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Salah satu persoalan yang hangat di tengah-tengah masyarakat adalah anggapan tentang keharusan berkurban dengan kambing jantan. Anggapan tersbut bias jadi muncul karena melihat kebiasaan umat Islam di tempat tertentu yang kebanyakan berkurban dengan kambing jantan. Padahal dalam fiqh, tidak tidak ditemukan dalil yang menunjukkan keharusan berkurban dengan kambing jantan atau larangan berkurban dengan kambing betina.

Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhazdzdzab sebagai berikut:

ويجوز فيها الذكر والانثى لما روت أم كرز عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال (على الغلام شاتان وعلى الجارية شاة لا يضركم ذكرانا كن أو أناثا) وإذا جاز ذلك في العقيقة بهذا الخبر دل على جوازه في الاضحية ولان لحم الذكر أطيب ولحم الانثى أرطب
(المجموع شرح المهذب، جز 8: ص: 393)

“Berkurban boleh dengan hewan jantan dan betina. Ini didasarkan pada Hadis Nabi: Ummu Kurz meriwayatkan dari Nabi Saw, beliau bersabda: “‘Aqiqah anak laki-laki (sebaiknya) dua kambing dan untuk anak perempuan cukup satu kambing, boleh kambing jantan maupun kabing betina” (HR. Abu Daud). Hadis yang menunjukkan kebolehan aqiqah dengan kambing jantan dan betina ini menjadi dalil kebolehan berkurban dengan hewan jantan dan betina.

Memang Nabi pernah bersabda:

وَخَيْرُ الْأُضْحِيَّةِ الْكَبْشُ الْأَقْرَنُ (رواه بو داوود)

“Hewan kurban terbaik adalah domba (jw: wedus gembel) yang yang bertanduk.”
Hadis ini menjelaskan bahwa hewan yang paling baik untuk dijadikan hewan kurban adalah domba yang bertanduk. Hadis ini sama sekali tidak menunjukkan keharusan berkurban dengan domba jantan.

Bahkan menurut penjelasan Imam Aṭ-Ṭiin: alasan mengapa domba bertanduk lebih utama karena umumnya domba tersebut berbadan gemuk, sebagaimana tertulis dalam kitab ‘Aunul Ma’bud Syarhu Sunan Abi Daud sebagai berikut:

قَالَ الطِّيبِيُّ : وَلَعَلَّ فَضِيلَة الْكَبْش الْأَقْرَن عَلَى غَيْره لِعِظَمِ جُثَّته وَسِمَنه فِي الْغَالِب اِنْتَهَى. (عون المعبود)

Dari penjelasan di atas, dipahami bahwa hewan yang utama untuk berkurban adalah hewan yang gemuk (banyak dagingnya), tanpa melihat jenis kelaminnya. Sehingga tidak masalah berkurban dengan kambing betina, asalkan telah memenuhi syarat. Wallahu ‘Alam.

Syekh Misbahus Surur, S.H.I, M.S.I., Adalah Kandidat Doktor, Dosen dan Kepala Lembaga Penjamin Mutu Kampus IAIIG.