Oleh : Indra Rukmana

AKHIR-AKHIR ini kegiatan penelitian kurang mendapatkan penghargaan di lingkungan Perguruan Tinggi. Sebaliknya, pengajaran lebih diutamakan dan dihargai. Hubungan antara Perguruan Tinggi dan kegiatan penelitian dengan sektor publik dan industri sangat lemah.

Perguruan Tinggi memelihara struktur monodisiplin, padahal isu-isu dan permasalahan yang dihadapi oleh pengambil kebijakan bersifat multidisiplin. Perguruan Tinggi juga tidak mendorong dan memberi insentif untuk publikasi di jurnal peer-reviewed. Selain itu, kelemahan struktural terdapat pada regulasi dari birokrasi yang mengatur alur dari sebuah penelitian yang berbasis pada kebutuhan sesaat (tiba-tiba dibutuhkan baru dibuat) Kali ini saya mencoba untuk membahas isu peningkatan kualitas dan kapasitas penelitian di suatu Perguruan Tinggi (katakanlah perguruan tinggi itu dengan nama Kampus OK OC).

Secara khusus, saya mencoba untuk memahami penyebab rendahnya kualitas riset yang ada di kampus OK OC. dan ternyata di kampus OK OC penelitian tidak pernah didorong untuk menjadi sebuah karier. Hal ini mengakibatkan terjadinya ketidakselarasan antara kegiatan pengajaran dan penelitian, dan pada akhirnya menghambat kinerja sebuah perguruan tinggi berbasis riset.

Selain itu, terdapat beberapa masalah mendasar pada lingkungan pendukung kegiatan penelitian. Barangkali, masalah terbesarnya terdapat pada kurangnya motivasi individu untuk bertahan di sektor pengetahuan. Tetapi hal ini tidak bisa dipungkiri juga bahwa ternyata ada beberapa fungsi yang menjadi acuan sampai saat ini , yaitu pendanaan, pengendalian, dan kepemimpinan.

Kemudian muncul pertanyaan dimana ketiga fungsi itu? Saya mencoba untuk mengkaji hal lain dari ketiga fungsi tersebut, dan ternyata saya menemukan masih begitu kurangnya ruang interaksi dan saling memengaruhi antara sisi penawaran dan permintaan.

Produksi pengetahuan didorong oleh kemajuan teoritis, sementara sisi permintaan terhadap temuan penelitian didorong oleh realitas praktis dan politis. Seorang peneliti cenderung hanya memusatkan perhatian pada agenda penelitiannya sendiri, dan kurang memedulikan kebutuhan di ranah kebijakan. Hal ini mengakibatkan rendahnya penggunaan bukti atau hasil dari sebuah penelitian yang benar benar bermanfaat.

Isu lain yang perlu saya garisbawahi adalah manajemen riset. Pada tingkatan operasional, dibutuhkan staf yang berdedikasi untuk mengelola pelaksanaan riset, khususnya untuk mengelola agenda penelitian, alokasi sumber daya (staf peneliti, pendanaan, jaringan, dll.), menyiapkan aspek teknis administrasi penelitian (formulir, pelaporan), menghubungi donor potensial/sponsor untuk mendapat dana penelitian, dan menjamin kualitas proses dan hasil penelitian.

Tugas-tugas tersebut harus dikelola bukan hanya secara efektif, tetapi juga strategis. Kuncinya adalah mejamin pusat penelitian dan pengabdian dengan kerangka konstruk yang mempunyai kapasitas penuh dalam hal penelitian dan pengabdian untuk menarik manfaat dari setiap kesempatan penelitian yang tidak sesaat.

Penulis adalah Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali, Kaprodi PGRA & Kandidat Doktor dari UGM.