IN: RPK - Komunitas Arab

From: apakabar@access.digex.net
Date: Sun Jan 21 1996 - 14:09:00 EST


From: John MacDougall <apakabar@access.digex.net>

   Republika Online [LINK] [INLINE] [ISMAP] Minggu, 21 Januari 1996
   
    KOMUNITAS ARAB DI PEKOJAN DAN KRUKUT: DARI MAYORITAS MENJADI MINORITAS
                                       
   
   Masjid itu masih tampak kokoh sekalipun usianya telah hampir dua
   setengah abad. Hanya di bagian atas menaranya yang menjulang tinggi
   sedikit berlumut dimakan usia. Di bagian dalamnya yang luas dan sejuk
   di tengah-tengah perkampungan yang gersang dan panas, terhampar
   permadani warna-warni buatan Persia.
   
   Siang itu sekitar 100 orang -- kebanyakan berkopiah putih -- tengah
   menunaikan salat dzuhur berjamaah dipimpin imam H. Achmad Basarah
   (81). Imam Basarah adalah keturunan keluarga Arab yang sudah tinggal
   di daerah itu sejak beberapa generasi lalu.
   
   Masjid Annawir yang dapat menampung lebih dari seribu jamaah itu
   dikenal juga dengan sebutan Masjid Pekojan. Dibangun tahun 1760 Masehi
   atau 1180 Hijriah. Saat ini Masjid Annawir Pekojan adalah masjid
   terbesar di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, yang
   mayoritas penduduknya keturunan Cina.
   
   Sekitar empat kilometer sebelah selatan Kelurahan Pekojan, terdapat
   Kelurahan Krukut, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Di kelurahan
   sini berdiri pula sebuah masjid yang diberi nama Al-Mubarak. Menurut
   Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, masjid ini dibangun tahun 1786
   M. atau 26 tahun setelah Masjid Pekojan.
   
   Persis berseberangan dengan Masjid Al-Mubarak (lebih dikenal dengan
   sebutan Masjid Krukut), hanya terhalang Sungai Ciliwung, berdiri
   Masjid Jami Kebon Jeruk, yang didirikan pada 1718.
   
   Berlainan dengan Masjid Krukut yang tampak megah dengan sentuhan
   arsitektur masa kini (setelah dipugar sekitar tiga tahun lalu), kedua
   masjid lainnya tampak kuno. Keduanya memang dilindungi oleh UU Pemda
   DKI yang menyatakan kedua bangunan tersebut sebagai bangunan sejarah
   yang harus dipertahankan keasliannya.
   
   Adanya sejumlah masjid jami tua di kawasan yang kini menjadi pusat
   ekonomi dan bisnis, menurut Pemda DKI dalam buku Kampung tua di
   Jakarta, adalah bukti bahwa kawasan Pekojan dan Krukut berperan dalam
   penyebaran agama Islam pada masa lalu. Ini diperkuat dengan sejarah
   kedua kampung itu yang lahir hampir bersamaan dengan lahirnya kota
   Jakarta.
   
   
   
   Persaingan ekonomi Begitu memasuki kawasan Pekojan dan Krukut, hampir
   bisa dipastikan mata akan melihat banyak wajah-wajah khas Timur Tengah
   dengan hidung mancung, sorot mata tajam, kumis, dan janggut hitam.
   Juga sapaan akrab "Assalamualaikum" di antara mereka yang diucapkan
   sambil mengangkat tangan atau bersalaman ketika bertemu.
   
   Tapi kini wajah-wajah Timur Tengah itu seperti tenggelam di tengah
   hingar-bingar lalu lalang manusia dan kendaraan. Pusat bisnis dan
   ekonomi itu -- yang terutama ditandai oleh hadirnya sejumlah besar
   pertokoan -- kini malah lebih dikenal dengan sebutan Pecinan.
   Sementara masyarakat Arab yang telah turun-temurun "menguasai" wilayah
   tersebut kini memilih hijrah ke tempat lain. Mereka meninggalkan
   tempat nenek moyang mereka menetap pertama kali setelah hijrah dari
   Hadramaut (kini Yaman Selatan).
   
   Sebagaimana dikemukakan Abud Alkatiri, salah seorang guru dari Lembaga
   Pusat Pendidikan Islam "Fatahillah" Krukut yang dibangun oleh
   Jumhuriyah Islamiyah Al-Kathiriyah, rasa persaudaraan di antara
   "jamaah" (sebutan untuk keturunan Arab) masih cukup kental. "Kalau mau
   melihat jamaah berkumpul datanglah pada upacara pernikahan, atau bila
   ada yang meninggal dunia," katanya.
   
   Hal yang sama juga terjadi di Kampung Pekojan. Meski mereka tinggal
   terpencar di kawasan yang cukup luas itu, "Mereka tetap berkumpul pada
   acara pesta perkawinan, pada saat ada kematian, tahlilan, atau maulid
   Nabi" kata Habib Abdurahman Aljufri, ketua Masjid Pekojan, yang juga
   tokoh masyarakat setempat.
   
   Pada pesta-pesta perkawinan masyarakat biasanya diadakan samar, yaitu
   lagu-lagu irama Padang Pasir yang dibawakan oleh kelompok orkes gambus
   dengan pemain-pemain kebanyakan keturunan Arab. Mereka bernyanyi dan
   memainkan alat musik sambil duduk di lantai dan beralas permadani.
   Tarian zafin khas Timur Tengah juga menjadi kesukaan para pemuda di
   kedua kawasan itu. Hampir sama populer dengan joget dangdut sekarang
   ini.
   
   Tampaknya, semakin berkurangnya komunitas Arab di kedua kawasan
   tersebut diakibatkan oleh persaingan ketat dalam bisnis perdagangan.
   Pesaing utamanya adalah orang-orang Cina.
   
   Dedy Suwardi, sekretaris Kelurahan Pekojan, mengungkapkan bahwa dari
   data monografi kelurahan yang ada jelas jumlah keturunan Arab di
   kelurahan tersebut mengalami penurunan berarti. "Padahal yang saya
   tahu dulunya masyarakat Arab merupakan mayoritas di daerah ini,"
   katanya.
   
   Tapi ketika ditanya Dedy juga mengaku tahu secara pasti berapa jumlah
   masyarakat keturunan Arab sekarang ini. Alasannya adalah karena
   sebagian besar dari mereka sudah membaur dengan warga pribumi. Yang
   ada hanya data pemeluk agama. Dari jumlah 30.794 jiwa, yang beragama
   Islam 13.680 jiwa atau sekitar 45%. Sementara sisanya adalah keturunan
   Cina dan kebanyakan non-Muslim.
   
   Meski minoritas bukan berarti kegiatan keislaman di wilayah tersebut
   menjadi sepi. Dedy misalnya, tak menutupi rasa bangganya karena di
   kelurahannya terdapat 29 majelis taklim, 4 masjid, 26 musholla, dan
   madrasah dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga Aliyah.
   
   Dahulu di kampung ini banyak terdapat rumah-rumah dengan arsitektur
   Mor, di samping beberapa bangunan tua berarsitektur Cina. Tapi dewasa
   ini kedua jenis bangunan tersebut, yang corak arsitekturnya kemudian
   diserap dan disebut sebagai khas Betawi, telah tergusur. Hanya
   beberapa di antaranya yang masih bertahan. Salah satunya, yang juga
   sudah berusia ratusan tahun, ditempati oleh Ibu Nining Alatas, yang
   menurut penduduk setempat masih ada hubungan keluarga dengan Menlu Ali
   Alatas.
   
   Saat ini "bau Arab" hanya "tercium" dari beberapa nama jalan atau gang
   di Krukut maupun Pekojan. Seperti Jalan Abdullah, Gang Thalib, dan
   sebagainya.
   
   
   
   Organisasi sosial Di Pekojan inilah organisasi sosial dan pendidikan
   Jamiat Khair pertama kali didirikan tahun awal abad ke-20. Baru
   belakangan pusat organisasi tersebut dipindahkan ke Jalan K.H. Mas
   Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
   
   Dalam sebuah wawancara dengan Robert van Niel -- penulis buku The
   Emergence of the Modern Indonesia Elit -- H. Agus Salim menjelaskan
   tentang makna kehadiran organisasi sosial semacam Jamiat Khair.
   
   "Pada tahun 1904 atau 1905, khusus untuk mengatasi ekonomi lemah
   Indonesia, beberapa orang keturunan Arab dan beberapa orang Sumatera
   membentuk suatu organisasi gotong royong yang dinamakan Jamiat Khair
   ... Banyak anggota Boedi Oetomo dan Sarekat Islam adalah bekas anggota
   Jamiat Khair."
   Berkurangnya keturunan Arab di Pekojan menjadi keprihatinan bagi
   pemuka masyarakat seperti Habib Aljufri. Dia menunjuk sejumlah gedung,
   rumah dan jalan-jalan yang dahulu dihuni masyarakat keturunan Arab
   tapi kini beralih menjadi milik keturunan Cina. Padahal di antara
   gedung-gedung tersebut terdapat pula peninggalan bersejarah bekas
   milik kalangan Arab yang pertama datang ke Indonesia, seperti masjid,
   surau, tempat pertemuan dan madrasah.
   
   Tanah di daerah itu pun kini berkisar antara satu hingga dua juta
   rupiah per m2. Dan ini makin memperbesar kecemasan akan makin
   menipisnya jumlah komunitas Arab di wilayah tersebut. Saat ini yang
   warga keturunan Arab yang masih bertahan tinggal di situ hanya tinggal
   kira-kira 200 orang, atau sekitar 70 KK.
   
   Kecemasan serupa juga dikemukakan oleh Abud Alkatiri. Sambil menunjuk
   Jalan Kejayaan dan Keutamaan yang cukup panjang itu, ia mengatakan
   bahwa dahulu gedung-gedung di sini hampir seluruhnya dihuni oleh
   "jamaah," tapi sekarang kebanyakan oleh baodeh (sebutan untuk
   keturunan Cina).
   
   "Ekstrimnya," kata Abdurahman Aljufri, "dahulu tukang bakmi tidak
   berani lewat Pekojan, karena takut ditimpuki anak-anak." Tapi kini
   yang terjadi sebaliknya: para pedagang itu bebas keluar masuk "kampung
   Arab" Pekojan tersebut. Hal yang sama juga terjadi di Kampung Krukut.
   
   Tapi menghilangnya sebagian besar masyarakat Arab dari Krukut maupun
   Pekojan, bukanlah semata-mata karena soal ekonomi atau kekalahan
   mereka dalam bersaing dengan Cina. Bahkan mereka yang pindah itu
   kebanyakan keadaan ekonominya cukup baik. Mereka pindah justru untuk
   mengembangkan usaha ke wilayah Tanah Abang, Jatinegara, Kwitang,
   Condet, bahkan Bogor.
   
   
   
   Kaum Ulaiti dan penyebaran Islam Pada zaman Belanda, ketika Batavia
   dikuasai oleh Jan Pieterzoon Coen pada sekitar 1620-an, Kampung Krukut
   dibagi ke dalam tiga wilayah administratif yang masing-masing dipimpin
   oleh seorang Kapiten. Setiap Kapiten memimpin golongannya, yaitu Arab,
   Cina dan Betawi. Tugasnya kira-kira sepadan dengan lurah sekarang.
   
   Demikian pula di Kampung Pekojan, yang pada masa itu merupakan kawasan
   pesisir Batavia. Menurut Habib Abdurahman pada masa itu terdapat
   seorang Kapiten Arab yang terkenal, Abdul Azis.
   
   Menurut Habib Abdurahman, pimpinan Masjid Annawir, ayahnya datang dari
   Hadramaut pada tahun 1901. "Ketika itu tiap keturunan Arab yang datang
   ke Hadramaut langsung dibawa ke Pekojan oleh Belanda. Setelah beberapa
   lama tinggal di sini baru mereka terpencar baik di Jakarta maupun
   tempat-tempat lainnya".
   
   Dalam buku "Kampung Tua di Jakarta" yang diterbitkan Dinas Museum dan
   Sejarah Pemda DKI disebutkan bahwa kedatangan orang-orang Arab dari
   Hadramaut ke Krukut dan Pekojan diterima dengan baik oleh penduduk
   asli karena terdapat persamaan agama.
   
   Mereka yang disebut "ulaiti" datang ke Jakarta dan daerah Indonesia
   lainnya, tanpa membawa isteri. Karena itu kemudian mereka menikahi
   wanita-wanita pribumi. Motivasi mereka datang ke Jakarta, di samping
   terdorong oleh keinginan mencari kehidupan material yang lebih baik,
   juga untuk menyebarkan ajaran Islam.
   
   Habib Abdurahman sendiri mengatakan bahwa sampai saat ini ia telah
   meng-Islam-kan sedikitnya 200 orang keturunan Cina. "Di antara mereka
   banyak yang kaya raya," ujarnya.
   
   Mungkin inilah yang menyebabkan persaudaraan di kedua kampung tersebut
   tidak hanya erat terjalin di antara keluarga masyarakat Arab, tapi
   juga antara masyarakat Arab dengan penduduk setempat. Apalagi banyak
   di antara mereka yang berjalin saudara dari garis ibu.
   
   Di Pekojan, menurut Abdul Rachim, warga asli yang sehari-hari bertugas
   di Dinas Museum dan Sejarah DKI, terdapat sebuah paguyuban, yaitu
   Guyuban Kematian Persaudaraan Islam Pekojan (GKPIP). Diketuai oleh
   Habib Aljufri, GKPIP beranggotakan seluruh masyarakat yang beragama
   Islam, tidak terbatas hanya pada satu keturunan saja.
   
   Apabila ada anggota yang meninggal dunia, mulai dari surat dokter,
   memandikan jenazah, kain kafan, sampai pemakaman diurus dan ditanggung
   oleh paguyuban. Di samping itu, keluarga yang ditinggalkan mendapat
   uang shalawat yang dikumpulkan oleh paguyuban. "Tidak pernah ada
   masyarakat di sini yang jenazahnya tidak terurus," kata Habib
   Abdurrahman. Perkumpulan yang sama juga terdapat di Krukut.
   
   Mengenai pembauran antara masyarakat Arab dengan penduduk setempat,
   Abud Alkatiri menunjuk pada madrasah, TK, SMP dan SMEA milik Yayasan
   Al-Kathiriyah yang sebagian besar dari sekitar 600 siswa-siswinya
   justru bukan dari kalangan jamaah. Demikian pula dengan guru-guru di
   yayasan yang menempati gedung berlantai empat itu.
   
   Di Pekojan, Habib Abdurahman juga memimpin majelis taklim yang
   anggotanya berdatangan bukan hanya dari Pekojan, tapi juga dari
   Tangerang, Tanjung Priok dan Bogor. Saat ini juga semakin banyak
   masyarakat Arab yang menikahi wanita ataupun pemuda bukan masyarakat
   Arab.
   
   Kedekatan masyarakat Arab dengan penduduk setempat juga diakui oleh
   Abdul Rachim. "Saya memimpin Members of Yassin yang anggotanya
   berjumlah 100 orang, baik dari kelompok masyarakat Arab maupun bukan."
   Tiap malam Jumat kelompok ini membaca surat yasin, ratiban dan tahlil
   dari rumah ke rumah. Di Krukut, tiap tanggal 15 ibu-ibu mengadakan
   pengajian yang terbuka bagi siapa saja yang beragama Islam.
   
   Baik di Pekojan maupun Krukut, yang penduduknya kebanyakan pedagang,
   nasi kebuli adalah makanan khas yang digemari. Nasi yang dicampuri
   minyak samin dan daging kambing ini sampai sekarang ini masih
   dihidangkan dalam acara-acara pernikahan maupun keagamaan. "Dan yang
   paling terkenal di seluruh Jakarta adalah nasi kebuli dari Pekojan,"
   kata Abdullah Zaidan, 65, yang sudah turun-temurun tinggal di Pekojan.
   
   Kegemaran terhadap nasi kebuli dengan daging kambingnya diabadikan
   menjadi nama jalan di salah satu RW di Pekojan, yakni Jalan Pejagalan
   dan Jembatan Kambing. Menurut Dinas Museum dan Sejarah DKI nama
   Pejagalan -- yang berasal dari kata jagal -- bermula dari penampungan
   daging kambing yang didatangkan dari luar daerah di suatu kampung yang
   kemudian lebih dikenal dengan nama Kampung Pejagalan.
   
   Sedangkan nama Jembatan Kambing diambil karena sebelum kambing-kambing
   untuk konsumsi masyarakat Pekojan dipotong di tempat pejagalan hewan
   terlebih dahulu dikumpulkan di tempat yang kemudian kondang dengan
   nama Jembatan Kambing. alwi shahab
   
                      BAODEH-PUN BERBAHASA ARAB PROKEM
                                       
   
   
   
   "Ente cari rumah si Ali? Itu dia, shebe (bapak) dan ajus (ibu)-nya ada
   di bed (rumah)", kata seorang pemuda keturunan Cina di Jalan Kejayaan,
   Kelurahan Krukut, Jakarta Barat kepada wartawan Republika yang
   bertanya kepadanya.
   
   Baodeh (keturunan Cina) di sini, khususnya yang telah bergaul dengan
   jamaah, memang bisa berbahasa Arab sehari-hari. Hal yang sama juga
   terjadi di Kampung Pekojan, yang juga dikenal sebagai perkampungan
   Arab. Tapi tidak hanya baodeh yang terpengaruh. "Kami juga menjadi
   akrab dengan bahasa Cina sehari-hari," kata beberapa pemuda keturunan
   Arab yang berhasil ditemui.
   
   Dalam buku Kampung Tua di Jakarta terbitan Pemda DKI Jakarta,
   disebutkan akibat adanya tiga etnis golongan penduduk Kampung Krukut,
   yakni Betawi, Arab dan Cina. Disadari atau tidak, mereka telah
   terlibat dalam suatu usaha interaksi serta penyesuaian diri dalam
   lingkungan masyarakat mereka.
   
   Kata-kata ane (saya), ente (kamu), fulus (uang), tafran (miskin), zein
   (bagus), sawak (benar), dan ratusan kata Arab "prokem" lainnya sudah
   akrab di telinga ketiga etnis penduduk. Sama akrabnya dengan kata-kata
   yang berasal dari khasanah bahasa Cina seperti : cepek (seratus
   rupiah), seceng (seribu rupiah), kamsia (terima kasih), enci, engko,
   dan sebagainya.
   
   Dibanding keturunan Cina, masyarakat Betawi lebih akrab dengan bahasa
   Arab prokem. Alasannya "Enak didengar dan gampang diucapkan".
   
   Di Ibukota, bukan hanya di Krukut dan Pekojan, bahasa Arab prokem
   akrab dengan masyarakat yang penduduknya banyak keturunan Arab.
   Seperti di Tanah Abang, Sawah Besar dan Jatinegara khususnya di
   kawasan yang banyak dihuni keturunan Arab.
   
   Sebagai misal, ungkapan "Ane mafi fulus" (Saya tidak punya uang)
   adalah ungkapan sehari-hari dalam percakapan di Krukut dan Pekojan.
   Tidak hanya di kalangan masyarakat Arab, tapi juga etnis lainnya.
   
   Ungkapan berbau Arab lain yang juga sering terdengar adalah "Harim
   ente khali" (pacar kamu cantik), "Tu rizal magrum" (laki-laki itu
   gila), "Ane lagi marid" (saya lagi sakit), "Ane dzu nih" (saya lapar
   nih), atau "Orang itu tadzir (kaya)." Tapi bukan bahasa saja yang
   mewarnai pembauran di perkampungan Arab. Beberapa bentuk kesenian dan
   budaya Betawi tradisional juga sedikit banyak terpengaruh kesenian
   Arab. Misalnya, sambra, rebana, gambus, kasidah, dan masih banyak
   lagi.
   
   Dalam acara samar yang diiringi orkes gambus dengan lagu Irama Padang
   Pasir yang dipentaskan pada acara-acara perkawinan, yang terjun untuk
   ber zapin bukan hanya terbatas pada keturunan Arab, tapi juga etnis
   lainnya.
   
   Tampaknya budayawan Umar Kayam benar ketika ia mengatakan bahwa
   sebelum Banten muncul sebagai imperium yang jaya, Sunda Kelapa dan
   Jayakarta sudah lebih dulu merupakan permukiman besar yang dihuni
   berbagai etnik dan ras, termasuk Arab. Mereka berbaur, bergesekan,
   berdialog dan suatu proses pembangunan sosok budaya yang kemudian
   disebut Budaya Betawi.
   
    alwi shaha