Davagni : Agak sedikit pahit, dan hambar.
Nergal : Benarkah? Tidak cocok untuk lidah batumu?

Davagni *tertawa* : Masalahnya bukan di aku. Tetapi apa kau tidak malu tidak bisa berbuat lebih baik setelah belajar satu milenium? Atau, mungkin memang itu kutukanmu, tidak akan bisa membuat teh yang baik sampai kapan pun. Mungkin kau memang harus menerimanya, bahwa itu bukan bakatmu.
Nergal : Mungkin, tetapi kau tahu aku tidak akan berhenti mencoba.

Davagni : Baik, akan kutunggu. Kau mau mengundangku lagi di masa berikutnya?
Nergal : Kita memang harus selalu bertemu, bukan? Untuk menjaga tali persaudaraan, dan … tentu saja, bertukar informasi tentang pencapaian manusia berikutnya.

Davagni : Masih dengan ambisimu yang lama?
Nergal : Tugas, Davagni, tugas. Itulah kenapa aku ada. Membukakan pintu untuk mereka. Hei, kau sudah jalan?

Davagni : Apa?
Nergal : Buah caturmu. Kau sudah jalan?

Davagni : Sudah. Kau tidak lihat? He … baguslah.
Nergal : Ah, kau mengincar bentengku lagi. Langkah usang. Lihat ini!

Davagni : Itu? Kau yakin?
Nergal : Tentu saja.

Davagni : Baik … mmm, baik. Sebentar. Oh ya, tentang manusia itu, ada yang berubah dari mereka?
Nergal : Mereka semakin pandai, dan tentunya semakin sombong. Seharusnya itu akan membuat pekerjaanku menjadi lebih mudah.

Davagni : Maaf, Nergal, aku tidak ikut lagi denganmu. Sekarang aku lebih suka jadi penonton.
Nergal : Menonton apa? Apa ada yang lewat di depan guamu? Memilih hidup dengan cara membosankan, apa asyiknya?

Davagni : Mungkin kau harus mencobanya sendiri, jika kau ingin tahu.
Nergal : Maaf, aku tidak berminat.

Davagni : Sayang sekali.
Nergal *tertawa* : Ya.

Davagni *berpikir keras sambil memandangi papan catur* : …
Nergal : Oh, sebelum aku lupa, ada yang bertanya tentang dirimu. Manusia. Mereka ingin tahu kenapa makhluk semacam dirimu, dengan nama asing seperti Davagni, bisa muncul di Akkadia.

Davagni : Benarkah? Ada yang merindukanku?
Nergal : Sepertinya.

Davagni : Kenapa mereka ingin tahu? Mereka mau memasukkannya dalam buku sejarah?
Nergal : Mungkin.

Davagni *tertawa* : Kau tahu aku tidak berminat, tidak seperti kau, Nergal, yang terus berusaha keras untuk membuat namamu dimasukkan dalam buku mitologi sebagai Dewa Kegelapan.
Nergal *menyeringai* : Sebentar lagi aku berhasil.

Davagni : Lalu?
Nergal : Kau tidak tertarik untuk muncul sebentar, misalnya, dan bercerita sedikit tentang dirimu, kenapa kau memilih nama Davagni barangkali?

Davagni : Jangan membujukku terlalu keras, Nergal. Aku tidak punya niat untuk kembali. Soal nama, Davagni adalah nama yang kutemukan jauh sebelum manusia nantinya membuat arti tentang itu, saat pertama kali dulu aku turun di negeri yang belum mereka kenal sama sekali. Itu adalah nama yang indah, dan mudah untuk mereka ucapkan dan mereka ingat. Sama seperti alasanmu memilih nama Nergal, bukan?
Nergal : Ya, memang.

Davagni : Apa menurutmu dulu lebih baik kita memperkenalkan diri dengan nama kita yang sebenarnya?
Nergal : Tidak. Lidah mereka tak kan mampu mengucapkannya. Nergal dan Davagni kurasa sudah sangat bagus. Lagipula, aku sedang meniti karir dengan memakai nama Nergal di Akkadia. Bakal memusingkan mereka jika nanti aku menggunakan nama baru.

Davagni : Nah!
Nergal : Ya sudah kalau begitu. Biarkan saja mereka, bukan, membuat mitologi mereka sendiri?

Davagni : Ya.
Nergal : Baik.

Davagni : Tapi, karena kau terlihat sangat bersemangat, ya silakan, intervensilah sekali-sekali, supaya mitologi mereka nanti terlihat lebih berwarna.
Nergal : Tentu saja. Terima kasih untuk sarannya. Kau pikir aku tidak melakukan itu?

Davagni : Siapa tahu. Oh ya, skak mat.
Nergal : Apa?

Davagni : Skak mat.
Nergal : Skak dari mana? Itu pion, bukan gajah! Kenapa bisa sampai ada di sana! Penglihatanmu mulai kabur, Davagni? Gara-gara gua tempatmu itu, atau karena memang sudah tua?

Davagni : Oh, itu pion? Maaf.
Nergal : Kau sengaja!

Davagni : Ya, siapa tahu berhasil.
Nergal : Kau mau mengadu licik denganku?

Davagni : Tidak. Hei, mungkin ini gara-gara teh bikinanmu. Cobalah, ini memang membuatku sedikit pusing.
Nergal : Betulkah? Bagus, berarti eksperimenku berhasil.

***

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

17 Responses to “Secangkir Teh Untuk Davagni”

  1. 1
    palsay Says:

    hahaha dasar setan,,,>;)

  2. 2
    dian k Says:

    LUUUUUUUUUUUVVVVVVV IT!!!

  3. 3
    Smith61 Says:

    Setan setan main catoer !

  4. 4
    julie Says:

    mereka bisa main congklak gak?

  5. 5
    heinz Says:

    What in a name….

  6. 6
    Villam Says:

    pagi maen catur, siang tidur, malam nonton bola. :-P

  7. 7
    menulis novel via twitter | indonovel.com Says:

    [...] tips diatas berakar dari teknik dasar penulisan fiksi di semua genre, dan sepertinya cocok juga diterapkan pada [...]

  8. 8
    Emily N. Says:

    Hi, I’m very interested in Linux but Im a Super Newbie and I’m having trouble deciding on the right distribution for me (Havent you heard this a million times?) anyway here is my problem, I need a distribution that can switch between reading and writing in English and Japanese (Japanese Language Support) with out restarting the operating system.

  9. 9
    Restya Says:

    HAHA Setan-setan yang aneh :D

    Eksperimen apakah itu? Kasihan Davagni diracun. ._.

    Hmm, om villam *:p* kalau ada waktu baca cerita-cerita punya saya ya! mohon bimbingannya.

  10. 10
    Villam Says:

    boleh, restya.
    liat di mana?

  11. 11
    restya Says:

    di reammapu.wordpress.com

    ditunggu komentarnya, terima kasih. :)

  12. 12
    restya Says:

    maaf kalau susunan kategorinya berantakan. Masih ga ngerti ngaturnya.

    ._.

  13. 13
    Villam Says:

    oke, nanti berkunjung :-)

  14. 14
    Bebek Says:

    Saya baru sadar selama ini baca Negral, bukan Nergal.

  15. 15
    Villam Says:

    walah *gubraks*

  16. 16
    Bebek Says:

    Lebih enak dibaca gitu sih.

  17. 17
    Villam Says:

    hehehe… :-P

Leave a Reply

CommentLuv Enabled