June 23, 2010

MA’RIFATUL INSAN

I am thinking therefore I am (Socrates)

Berani menjejakkan kaki di permukaan bumi tanpa mengenal jati diri, itu perbuatan yang sangat riskan. Bisa saja kita survive, tapi kita akan kehilangan banyak hal. Karena hidup itu memiliki mimpinya sendiri, maka salah satu yang akan sulit kita raih adalah impian (visi) tersebut. Karena hidup memiliki misi tersendiri, maka kehidupan yang tidak mengenal jati dirinya, akan melalaikan misi itu..

The Human, in Islamic Paradigm

Manusia adalah makhluk yang paling mencengangkan di alam semesta ini. Manusia dianugerahi akal. Bahkan akal tersebut digunakannya lagi untuk kerja rekursif: memikirkan hakekat dirinya sendiri, hakekat eksistensinya yang unik di jagad raya.

Maka berbagai disiplin ilmu ikut andil mempelajari manusia. Mulai dari filsafat, psikologi, sosiologi, teologi, ekonomi, dsb. Berbagai disiplin ilmu itu memandang manusia dari berbagai sudut dimana disiplin ilmu itu berdiri, dan menggunakan kacamata egocentris: memandang manusia berdasarkan bingkai disiplin ilmu tersebut. Sehingganya, tak satu pun yang utuh menjabarkan manusia secara sempurna.

Andai kata kita mencoba memahami diri kita sendiri menggunakan akal yang kita miliki, maka keterbatasan yang menjadi sifat mutlak manusia akan membenturkan kita untuk mendapatkan jawaban yang utuh mengenai teka-teki yang hebat ini. Tapi Allah SWT, yang telah menciptakan manusia dengan tangan kanan-Nya sendiri – dan semua tangan Allah adalah kanan, telah memberikan petunjuk mengenai manusia yang tertuang dalam wahyu. Dasar yang tepat dalam berteori tentang eksistensi manusia.

Manusia memiliki tiga unsur: hati, akal dan jasad. Hati membentuk keputusan yang bersumber dari keyakinan (Qs 75:14), memiliki kehendak (Qs 18:29) dan kebebasan memilih (Qs 90:10). Akal Allah berikan, mampu membentuk pengetahuan (Qs. 17:36). Sedangkan jasad adalah unsur yang melakukan amal (Qs. 9:105).

Dengan akal, hati, dan jasad manusia dapat beribadah.


Untuk apa manusia diciptakan?

Perspektif Islam menjawab semua ini.

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mukmin:115)

1. Untuk beribadah kepada Allah SWT

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz-Dzariat : 56).

Semua ciptaan Allah selaras menyembah-Nya. Hal ini adalah sebuah sunnatullah. Sejalan dengan itu, manusia pun pada hakikatnya diciptakan untuk menyembah Allah swt. Hanya saja pada penyembahan itu, manusia memiliki freewill apakah dia hendak menyembah-Nya atau tidak. Kebebasan kehendak itu pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan.

“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (An-Nur:41)

2. Untuk menjadi khalifah di Bumi

“…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya…” (Qs. Hud:61).

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”…” (Qs. 2:30).

Sejatinya, manusia adalah makhluk pembangun yang cerdas untuk bumi ini. Tetapi, kita malah melihat kerusakan di mana-mana. Ozon yang bocor, pemanasan global, hingga terumbu karang yang terancam punah.

Manusia telah menyetujui untuk memikul amanat yang ditawarkan oleh Allah. Hanya saja, kebodohan dan kezaliman yang lekat pada manusia telah memalingkannya dari misi yang utama ini.

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh. (Qs. Al-Ahzab:72).

3. Sebagai ujian, siapakah di antara kita yang lebih baik amalnya.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Al-Mulk:2).

Allah telah menggelar kompetisi di bumi ini, yang kelak akan menentukan gelar khoirul bariyyah (sebaik-baik makhluk, Qs 98:7), dan syarrul bariyyah (makhluk yang buruk Qs 98:6).

Sifat-sifat Manusia

Beberapa berikut ini adalah watak dasar manusia. Manusia memiliki watak yang kebanyakan buruk. Lalu Islam datang untuk meng-upgrade watak-watak manusia, sehingga meninggalkan watak yang buruk dan memiliki watak yang baik sebagai identitas seorang mukmin.

Sifat dasar manusia itu antara lain:

- Tergesa-gesa (17:11, 21:37)

- Berkeluh kesah (70:19, 90:4)

- Gelisah (70:20)

- Tak mau berbuat baik (70:21)

- Pelit (17:100)

- Kufur (14:34)

- Pendebat (18:54)

- Pembantah (100:6)

- Zalim (14:34)

- Jahil (33:72)

Coba periksa adakah sifat-sifat tersebut pada diri kita?

Sesungguhnya sifat-sifat tersebut adalah sifat dasar manusia. Seorang mukmin seharusnya telah ter-upgrade wataknya, tidak lagi memiliki sifat-sifat dasar tersebut.

Ditulis semasa kuliah

June 15, 2010

Akhlak Sebagai Benteng Keutuhan Rumah Tangga

 
 
Bagaimana cara menjadi muslim yang terbaik? Mungkin orang akan menyuguhkan kriteria ubudiyah yang tinggi: Sholat malam tak pernah putus, puasa senin kamis tak pernah tertinggal, minimal sekali dalam sebulan harus khatam Al-Qur’an, dsb. Tapi kenyataannya Rasulullah tidak selalu mengajukan kriteria seperti itu. Kadang Rasulullah mengajukan kriteria: “Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan." (HR Muslim) Dan pernah juga Rasulullah menyebut kriteria lain: "Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik akhlaknya kepada istrinya". (HR Tirmidzi)

Ternyata bagi seorang suami, media untuk menjadi muslim yang terbaik itu sangat dekat: pada "tulang rusuknya". Keberhasilan menjadi muslim yang terbaik berbanding lurus dengan akhlak kepada istri. Semakin baik akhlak seorang suami kepada istri, semakin baik ia di mata Allah swt.

Hikmah kriteria ini adalah akan terbentuknya keluarga yang utuh dan harmonis dalam naungan ridho Allah swt. Ketika seorang suami berusaha menjadi yang terbaik dengan cara menyempurnakan akhlaknya kepada istri, diharapkan akan ada respon yang baik dari istri yaitu pelayanan yang sempurna kepada suami. Dan ini akan menambah rasa kasih sayang di antara mereka. Anak-anak pun akan mendapat ketauladanan yang indah dari akhlak ayahnya. Di samping itu, hubungan orang tua yang mesra sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter seorang anak. Anak yang besar dalam keluarga yang utuh jelas punya peluang untuk mendapat didikan yang lebih baik daripada anak yang besar dalam keluarga yang broken home.

Kalau mau ditarik lebih jauh hikmah dari kriteria ini, akan berdampak pada masyarakat, negara, dan dunia. Karena kumpulan keluarga yang muslim akan membentuk masyarakat yang damai. Masyarakat yang damai akan membentuk negara yang sejahtera. Dan seterusnya. Semua itu berpangkal pada akhlak seorang suami sebagai pribadi muslim. Itulah hikmah kriteria "akhlak kepada istri", dampaknya bisa luar biasa.

*****

Bagaimana menjaga keutuhan keluarga? Biasanya akan dijawab: dengan cinta. Memang banyak pasangan yang sudah punya modal cinta saat membangun rumah tangganya, tapi kenyataannya tetap banyak terjadi perceraian dan perselingkuhan. Cinta sudah selayaknya ada dalam rumah tangga, tapi kalau anda sudah menikah, rasanya anda akan sepakat bahwa akhlak lah yang menopang keutuhan rumah tangga.

Saya menemukan artikel yang menyebutkan bahwa hormon cinta hanya bertahan selama 4 tahun. Penelitian tentang itu diungkapkan oleh para peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico. Bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu sudah habis.

Sependek itu. Tapi saya yakin, durasi bertahannya rasa cinta akan berbeda pada tiap orang. Yang jelas, cinta itu bisa hilang!!!

Karena itu akan sangat riskan apabila rumah tangga hanya didasari oleh rasa cinta. Karena saat cinta itu hilang, maka ambruk lah bangunan rumah tangga itu. Bahkan walau pun masih ada cinta di antara pasangan suami istri, namun kalau dalam keseharian mereka tidak mampu saling menunjukkan akhlak yang baik dalam hubungannya, maka rumah tangga itu tetap terancam rubuh. Bahkan akhlak yang buruk itu mempercepat musnahnya cinta.

Kasih sayang bisa bersemi di atas akhlak yang kokoh. Bila suami memperlakukan istri dengan baik, dan istri membalas dengan pelayanan yang menyenangkan, maka saat itu lah do’a seorang pria yang minta dikaruniai istri dan anak-anak yang menjadi ‘cahaya mata’ (qurrota a’yun) terwujud.

Akhlak adalah benteng keutuhan rumah tangga.

****

Akhlak itu harus dimiliki oleh kedua pasangan, bukan hanya suami saja. Akhlak seorang istri kepada suami adalah saat ia menaati suaminya. Dan itu menjadi kewajiban yang tak boleh disepelekan. "Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik, akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari isterinya. Dan Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana." (Al-Baqarah: 228).

Rasulullah bersabda, "Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya." (HR Abu Daud, Al-Hakim)

Bahkan penyebab wanita banyak menjadi penghuni neraka adalah karena akhlaknya yang buruk kepada suami. Seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah saw: "Suatu ketika Rasulullah keluar pada hari raya Idul Adha atau Idul Fitri menuju tempat shalat dan melalui sekelompok wanita. Beliau saw bersabda,’Wahai kaum wanita bersedekahlah sesungguhnya aku telah diperlihatkan bahwa kalian adalah mayoritas penghuni neraka.’ Mereka bertanya,’Mengapa wahai Rasulullah?’ Beliau saw menjawab,’Kalian banyak melaknat dan maksiat terhadap suami’". (HR Bukhori)

Perkara yang mungkin sepele: mengabaikan kebaikan suami, bisa berakibat sangat fatal. Dalam suatu sabda Rasulullah saw: “…dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?” Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.” Kemudian mereka bertanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab:“Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

Berterima kasih atas kelebihan pasangan, dan sabar atas kekurangannya. Itu merupakan kunci akhlak dalam rumah tangga. "Tahu berterima kasih" bukan cuma diharuskan untuk istri, bahkan sikap itu harus dimunculkan oleh suami manakala terbersit ketidak-puasan terhadap istrinya. Allah berfirman, "…Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS An-Nisa : 19) Begitulah tips yang diberikan oleh Allah kepada suami untuk mempertahankan rumah tangganya: bersabar dan memperhatikan kebaikan yang dimiliki oleh pasangan.

*****

Salah satu akhlak seorang suami yang mengokohkan rumah tangganya adalah ekspresi yang tidak terus terang saat menemukan kekurangan istri. Ia menyembunyikan kekecewaannya sehingga bisa menjaga perasaan istrinya. Seperi saat merasakan ada yang kurang dari masakan istrinya, seorang suami bisa menunjukkan akhlak yang baik saat ia malah memuji masakan itu.

Berdusta dalam rumah tangga - selama dalam kerangka kebaikan - diperbolehkan. Ummu Kultsum rha. berkata, ""Aku tidak pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keringanan (rukhshah pada apa yang diucapkan oleh manusia (berdusta) kecuali dalam tiga perkara, yakni: perang, mendamaikan perseteruan/perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau sebaliknya." (HR Muslim)

Ada cerita yang penuh hikmah tentang suami yang berekspresi normal saat melihat ketidak-sempurnaan istrinya, yang diceritakan oleh ustadz Anis Matta dalam bukunya ”Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga”.

Abdurrahman Ibn Al-Jauzy menceritakan dalam Shaed Al-Khathir kisah berikut ini: Abu Utsman Al-Naisaburi ditanya: ”amal apakah yang pernah anda lakukan dan paling anda harapkan pahalanya?”

Beliau menjawab, ”sejak usia muda keluargaku selalu berupaya mengawinkan aku. Tapi aku selalu menolak. Lalu suatu ketika, datanglah seorang wanita padaku dan berkata, ”Wahai Abu Utsman, sungguh aku mencintaimu. Aku memohon—atas nama Allah—agar sudilah kiranya engkau mengawiniku.” Maka akupun menemui orangtuanya, yang ternyata miskin dan melamarnya. Betapa gembiranya ia ketika aku mengawini puterinya.

Tapi, ketika wanita itu datang menemuiku—setelah akad, barulah aku tahu kalau ternyata matanya juling, wajahnya sangat jelek dan buruk. Tapi ketulusan cintanya padaku telah mencegahku keluar dari kamar. Aku pun terus duduk dan menyambutnya tanpa sedikit pun mengekspresikan rasa benci dan marah. Semua demi menjaga perasaannya. Walaupun aku bagai berada di atas panggang api kemarahan dan kebencian.

Begitulah kulalui 15 tahun dari hidupku bersamanya hingga akhir ia wafat. Maka tiada amal yang paling kuharapkan pahalanya di akhirat, selain dari masa-masa 15 tahun dari kesabaran dan kesetiaanku menjaga perasaannya, dan ketulusan cintanya.

*****

Berkata ulama salaf: "Seorang suami yang sholih, bila dia mencintaimu maka bersyukurlah kepada Allah. Bila dia tidak menyukaimu, maka dia pasti tidak akan menzholimimu." (Seperti dikutip dari tulisan ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi di milis nashihah)

 
Untuk Istriku, mohon maaf atas segala kekurangan akhlakku, selama pernikahan kita. Tapi aku akan terus berusaha menyempurnakannya.
June 10, 2010

Konspirasi Setan

Filed under: Cerpen

"Bu, Arina kerasukan lagi. Dari tadi dia nangis keras jerit-jerit." Suara Mbok Minah yang terdengar dari gagang telepon mengagetkan Ranti.

"Hah? Sejak kapan?" Tanya Ranti.

"Dari tadi, Bu. Sekitar setengah jam yang lalu. Aduh… saya bingung, Bu. Saya gak tahu harus gimana lagi. Setannya gak mau keluar keluar."

"Udah panggil Pak Risman?"

"Eri udah kerumahnya, Bu. Tapi Pak Risman lagi gak ada di rumah."

"Saya segera pulang, Mbok." Ranti menyudahi percakapan.

Setelah me-lock komputernya, Ranti segera berdiri dan merapikan tas. Semua pasang mata yang ada di ruangan itu mengarah padanya. Ranti merasa tidak enak. Sejak Arina anaknya sering kerasukan, Ranti sudah beberapa kali izin pulang atau izin keluar sebentar. Rumah Ranti memang dekat dari kantor. Tapi tetap saja ada waktu yang tersita untuk urusan pribadinya.

"Izin lagi, Ran?" Tanya atasannya yang posisinya berada di kubikel di depan Ranti duduk.

"Iya Pak. Arina kerasukan lagi. Saya sebentar saja kok."

"Laporan pelanggan yang…"

"Sembilan puluh persen selesai Pak. Kalau tidak selesai sore ini, saya bersedia lembur kok. Permisi, Pak!" Ranti memotong pertanyaan atasannya. Kemudian tanpa mempedulikan izin atasannya, atau apakah masih ada yang ingin disampaikan oleh atasannya, Ranti bergegas meninggalkan ruangan menuju lantai basemen, tempat mobilnya diparkir.

*****
”Selengkapnya..>>”

May 31, 2010

Puisi Untuk Flotilla

Filed under: puisi

 

Sedih melihat berita bahwa pada tanggal senin, 31 mei 2010, kapal Mavi Marmara yang membawa relawan Freedom Flotilla diserang oleh Israel. Freedom Flotilla adalah rombongan relawan kemanusiaan yang membawa bantuan untuk rakyat Gaza, yang diikuti oleh 500 aktivis dari 30 negara.

Israel tidak mengizinkan relawan itu berlabuh di pantai Gaza dengan menyiapkan kapal perang untuk memblokade kapal Mavi Marmara. Rencananya kapal Mavi Marmara itu akan digiring ke wilayah Israel, lalu para relawan ditawan dan kemudian diinterogasi. Selanjutnya para relawan itu dideportasi atau dijadikan tahanan.

Semoga Allah swt menyelamatkan para relawan freedom Flotilla.

Membaca berita penyerangan Israel kepada para relawan Freedom Flotilla yang tak bersenjata itu, muncullah ‘bisikan-bisikan’ di kepala saya untuk dirangkai menjadi puisi dadakan sederhana yang akan saya persembahkan untuk para relawan Flotilla.

PUISI UNTUK FLOTILLA

Melajulah Mavi Marmara!!
Berangkatlah Flotilla!!
Sekalipun kalajengking* memblokade dan hendak menyandera
kalian teroboslah, bawa mentari ke gaza

Ayo Mavi Marmara, teruslah melaju!!
Jangan takut dengan peluru!!
Kalajengking itu tuli dan bisu
Mereka tak mengerti makna kemanusiaan
Yang mereka mengerti hanyalah pembantaian
Mereka cuma preman
bertopeng wajah iba holocaust

Terus berjalan wahai Flotilla!!
Jangan gentar jangan ragu!!
Ada keberkahan di tanah yang kalian tuju
Bawa serta salamku..
Semoga damai menyelimuti negeri Palestina…


* Suatu hari Rasulullah saw disengat kalajengking, lalu Rasulullah bersabda “Semoga Allah melaknat kalajengking. Ia tidak membiarkan (tidak membeda-bedakan) antara seorang nabi dan tidak pula yang lainnya.” (HR Ibnu Abi Syaibah, at-Thabrani , al-Baihaqi ,Abu Nu’aim serta Ibnu Mardwal). Israel mirip kalajengking. Mereka tega membunuh relawan kemanusiaan Flotilla yang tak bersenjata. Jangankan relawan, nabi pun dibunuh oleh nenek moyang mereka. Siapa pun yang bertemu dengan mereka, tak akan aman dari kejahatannya. Mirip kalajengking.

May 22, 2010

Makhluk Penuh Cinta


Allah Maha Penyayang. Sudah paham kita bahwa kata ‘maha’ pada sifat Allah itu telah menunjukkan bahwa Allah swt tiada tandingannya dalam sifat itu. Tapi tetap saja Rasulullah memperbandingkan sifat kasih sayang Allah dengan sifat kasih sayang makhluk – untuk memberi pemahaman kepada umat bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar dari kasih sayang yang diperbandingkan. Tentu kasih sayang makhluk yang diperbandingkan itu bukanlah kasih sayang yang sepele. Kalau kita ingin memberi pemahaman pada anak kita yang masih kecil sebesar apa ikan paus itu, tentu kita tidak akan memperbandingkan dengan ikan cupang, tapi kita akan katakan “tahu sebesar apa ikan hiu atau lumba-lumba? Ikan paus jauh lebih besar.”

Umar bin Khatab pernah menceritakan pengalamannya setelah melewati suatu peperangan. “Didatangkan beberapa tawanan ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba ada di antara para tawanan seorang wanita yang buah dadanya penuh dengan air susu. (tampaknya ia kebingungan mencari anaknya). Setiap ia dapati anak kecil di antara tawanan itu, ia ambil dan kemudian ia dekap di perutnya dan disusuinya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya pada para sahabat, “Apakah kalian menganggap wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami pun menjawab, “Tidak. Bahkan dia tak akan kuasa untuk melemparkan anaknya ke dalam api.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya.” (Muttafaq Alaih)

Perbandingan itu membuat saya memahami bahwa begitu besar cinta Allah kepada makhluk-Nya mengalahkan setiap bentuk kasih sayang yang lain, sekaligus membuat saya tersadar begitu besarnya cinta seorang ibu sampai-sampai dijadikan perbandingan untuk cinta yang maha dahsyat milik Allah swt.

Sebuah Berita Memulai Cerita Cinta

Test Pack, Ultrasanografi (USG), atau apa pun medianya telah memulai perjalanan kisah cinta yang agung. Tidak malu-malu air mata menghias di kerling mata seorang calon ibu ketika mendapat berita hadirnya buah hati yang menyatu pada jasadnya. Bukan simbiosis mutalisme, apalagi parasitisme, tapi jalinan hubungan yang dijalani oleh organisme yang memakan makanan induk semangnya pada jasad seorang wanita merupakan simbiosis cintaisme. Simbiosis yang sangat-sangat ditunggu oleh seorang wanita.

Setelah hadirnya kabar itu, seorang wanita akan menemukan cinta di sekelilingnya, di setiap harinya.

Morning Sickness dan Semua Kepayahan

Jasadnya saja yang menderita morning sickness, tapi hatinya along day hapiness. Rasa mual memang mengganggu, tapi tak menjadi beban pikiran. Dan setiap kepayahan yang terasakan, tak mampu mempengaruhi hari-hari bahagia seorang wanita. Ada cinta baru, kebahagiaan, dan rasa syukur kepada Allah swt yang berkekuatan dahsyat mendominasi kesadaran wanita tanpa ada yang bisa mengkudetanya.

Siapa yang bilang kalau cinta itu pasti selalu mudah dan menyenangkan?

Ekspresi yang Tak Rasional

Seorang pria dengan pikiran rasionalnya mempertanyakan kebiasaan seorang wanita mengandung yang rajin mengelus perut dan berbicara pada janinnya. “Sia-sia. Bagaimana mungkin jasad itu mengerti apa yang kau lakukan dan apa yang kau katakan?” Wanita itu menjawab, “Ah, tahu apa kamu tentang cinta ini. Apakah kau percaya ada energi hangat yang jatuh dari matahari ke bumi? Kau melihatnya? Kalau kau tak melihatnya tapi percaya, maka lebih masuk akal lagi bahasa cinta ini. Tapi kemampuan rasional mu terbatas, wahai pria…”

Perbincangan wanita pada janinnya itu monolog. Indoktrinasi cinta dari seorang calon ibu pada anaknya.

Dan Wujud Cinta itu pun Terlihat Nyata

Yang mencintai merasakan perih, yang dicintai menangis keras. Ada pertengkaran kah? Justru puncak kebahagiaan baru saja hadir. Rasa geregetan selama sembilan bulan untuk segera melihat buah hati tuntas sudah. Cinta bergemuruh di dada seorang ibu. Kalau selama ini usapan cinta terhalang oleh perut, kini cinta itu bisa ditransfer langsung di dekat jantung seorang ibu. Jantung yang tiap hari denyutnya digerakkan oleh cinta.

Seorang ibu mengerti, bila bayi menangis di tengah malam adalah karena ia rindu mendengar detak jantung si ibu. Selama sembilan bulan sebelumnya si bayi tak pernah alpa sehari pun mendengar denyut jantung si ibu, kini setelah lahir si bayi merasa kehilangan denyut cinta itu. Karenanya, kapan pun ia merasa rindu, si bayi mengeak keras.

Dan waktu terus berjalan, sang anak tumbuh besar. Tapi cerita cinta si ibu tidak pernah berhenti. Ketika seorang anak sudah lama disapih, sudah lupa bunyi detak irama cinta dari ‘alat musik’ jantung seorang ibu, si anak pun mulai tergerus kesadarannya akan cinta seorang ibu. Itu yang membuat seorang anak berani menantang ibunya. Semoga bukan karena tidak mampunya ibu membahasakan cinta pada seorang anak ketika si anak telah tumbuh. Karena bahasa cinta di setiap umur seorang anak itu berbeda-beda. Seorang ibu harus paham bahasa yang tepat untuk setiap usia.

Bahkan setelah remaja, seorang anak mulai memadu cinta ibunya. Tak masalah karena itu fitrah. Tapi saat nama lain mulai masuk ke hati, sering kali nama itu bersikap egois dengan berusaha menyingkirkan nama ibu yang sebelumnya ada di hati seorang anak. Tragis. Semoga bukan karena kedudukan cinta ibu di hati anak yang memang lemah. Seorang anak di dunia ini akan menemukan berbagai cinta, kalau ibu tidak mampu mengokohkan cintanya di hati seorang anak, maka cinta ibu itu rawan dikalahkan oleh cinta lain.

Bakti yang Agung Pada Manusia Penuh Cinta

Cinta. Menjadi alasan yang kuat kalau seorang muslim wajib menaati orang tuanya, terutama ibu. “Penuhilah hak ibu, sebab surga berada di bawah telapak kakinya.” (Hadits riwayat Imam Ahmad dan Nasa’i; diriwayatkan juga oleh Bukhari, kita adab; Thabrani; dan Al-Hakim). Kalau Rasulullah mengumpamakan surga berada di bawah telapak kaki ibu, lalu apa yang ada di kening seorang ibu? Cinta di jantung seorang ibu, surga di telapak kakinya.

Seorang hamba merindukan keridhoan Tuhannya. Ia lakukan amal-amal jawarih (amal anggota tubuh) dan nawafil (sunnah). Ia tahan kantuk di sepertiga akhir malam, ia tahan lapar di siang hari, dan bergegas ia ke masjid untuk ihtiromil waqtih (menghormati waktu) sholat wajib. Sudah sampai kah pada ridho Tuhannya? "Ridho Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua" (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi,Hakim). Kalau ia belum melakukan birrul walidain (berbuat baik pada orang tua) sehingga orang tuanya ridho, amal-amal itu beserta kesusahannya belum membuat Allah swt ridho.

Keridhoan orang tua… padahal itu mudah. Karena cinta ibu pada anak tertanam kuat di jantungnya. Kesusahan mengandung, melahirkan, dan mengasuh adalah upaya menanam pondasi cinta sampai ke dasar jantung. Apa yang dapat meruntuhkan bangunan kokoh itu? Kedurhakaan!!

“Siapa yang membuat orang tuanya sedih, maka ia telah durhaka kepada keduanya.” (HR Bukhari)

Hamba itu ingin menyempurnakan usahanya. Ia tak mampu terus menerus sholat dan puasa sepanjang waktu. Tapi ada amal ruhbaniah/kependetaan (seperti pada hadits riwayat Ahmad) yang sebanding dengan terus menerus sholat dan puasa selama mengerjakan amal itu. Yaitu jihad. (HR Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah). Hamba itu bersemangat kepada amalan itu. Adakah halangan?

“Aku ingin berangkat perang, dan aku datang untuk meminta nasihat Anda.” Kata seorang pemuda kepada Rasulullah saw. Lalu Nabi bertanya, “Apakah Anda masih punya ibu?” Jawab pemuda itu, “Ya masih.” Nabi berkata “(Kalau begitu) pergilah, penuhilah kewajiban Anda untuk berbakti kepadanya, sebab surga itu berada di antara kedua kakinya.” (HR Hakim, shahih menurut beliau dan disepakati Adz-Dzahabi).

Ibu… wanita itu adalah manusia penuh cinta. Respon lah cinta itu karena surga dan keridhoan Allah bergantung dari bagaimana kita merespon cinta ibu.

Robirhamhuma kama robbayani sighoro. "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil." (QS 17:24)

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS 46:15)

—-
Redaksi hadits dirujuk dari berbagai sumber. Kalau ada kesalahan redaksi, mohon dikoreksi.

 
Baca juga:
Puisi Untuk Anakku
May 14, 2010

Untuk Saudaraku Yang Beralih

Filed under: Surat surat terbuka
Mudah-mudahan kau tak lupa. Dulu masing-masing kita duduk di lingkarannya. Dengan suguhan tilawah dan materi panah. Mata kecil kita dibuka oleh satu gelombang indah. Gelombang yang disatukan oleh ukhuwah dan digerakkan oleh hamasah. Yang menyeret kita hingga berada dalam lingkaran-lingkaran kecil tarbiyah.

Semoga kau tak melupakan jasa baik gelombang itu. Dia yang memperkenalkan islam pada kita. Saat jiwa yang tumbuh remaja masih lugu. Saat jiwa rawan terseret dunia. Lelap dalam pencarian jati diri. Mereka dan kebaikannya menyelamatkan kita.

Lalu kalau gelombang itu berlabel harokah, maka adalah wajar bila ia berubah. Ia mengalir mengikuti permukaan zaman. Karena ia bukan air yang tergenang.

Lalu kalau banyak fitnah – internal dan eksternal, maka adalah wajar berlakunya sunnatullah. Kau tak menemukan jamaah dakwah yang selamat dari fitnah. Sejak dahulu, zaman para nabi, hingga sekarang.

Lalu kalau banyak terjadi perbedaan, maka adalah wajar sekumpulan manusia bertentang faham. Mereka manusia yang bersemangat memikirkan dakwah, kemudian terkumpul banyak gagasan. Dan itu adalah kekayaan.

Kini saat serbuan kabar dan tuduhan menghajar gelombang itu, kau memutuskan beralih membawa segenap kekecawaanmu. Sedangkan aku masih di sini, dalam husnuzhonku. Karena berbagai berita itu tak dapat terkonfirmasi olehku.

Tapi ‘alaa kulli haal, kuharap masih ada rasa kasih sayang antara kita. Semoga ukhuwah yang dulu diperkenalkan oleh gelombang itu, masih tertanam dalam hati kita.

Saudaraku, kalau kau masih mempercayai akan adanya orang-orang yang tulus dalam gelombang itu, maka kuminta kau berhenti menyudutkan ia di muka umum. Kalau kau masih percaya bahwa kejahatan mengintai gelombang itu, maka kuminta kau berhenti mengumpan anasir-anasir jahat untuk menghancurkan gelombang itu.

Kalau kritik yang kau berikan, dekatkan mulutmu ke telinga ku! Karena sedikit kritikmu terdengar oleh anasir-anasir jahat, maka anasir-anasir itu akan membuat kritikmu menjadi adonan yang diberi soda kue hingga mengembang dan dibubuhi berbagi bumbu hujatan. Relakah kau mendengar saudaramu dicaci maki?

Kalau kau masih percaya bahwa masih banyak orang yang baik dalam gelombang itu, aku minta kau bersedekah dengan diammu. Kenanglah kebaikan yang pernah diberikan oleh gelombang itu padamu, agar teredam hasrat untuk mengumbar kekecewaanmu.

Dulu gelombang itu telah berbuat baik padamu. Kini, berbuat baiklah pada gelombang itu dengan menahan diri dari melampiaskan kekecewaanmu. Kalau kau mempercayai berita-berita itu, biarlah akhirat mengungkap semuanya. Biarkanlah orang-orang yang – kau percayai masih - tulus bekerja. Mereka adalah orang-orang yang tidak terganggu oleh berita dan tuduhan itu. Mereka orang-orang yang sama sepertiku, tetap dalam husnuzhonnya. Atau mereka orang yang mengerti betul bahwa kebanyakan berita/tuduhan yang datang itu tidak valid.

Begitu akhi, sudikah kau memahaminya?

April 22, 2010

Kisah Dua Begadang Dahsyat

Image and video hosting by TinyPic

 
Di suatu pagi setelah begadang, saya merasakan kondisi yang sangat tidak nyaman. Mengantuk, lelah, mata perih, dan sebagainya. Ada pekerjaan yang mendesak sehingga saya harus lembur di kantor. Dan sampai pagi saya tidak tidur.

Saya jarang begadang. Dan setelah begadang itu, terasa sekali stamina saya terkuras hebat. Mata perih dan susah fokus. Tapi saya bingung dengan teman saya yang ikut begadang, mereka terlihat biasa saja. Paling cuma matanya sedikit merah. Mungkin karena dia sudah terbiasa.

 
Sering saya membaca artikel yang meneliti tentang begadang. Kesimpulannya, begadang itu tidak baik. Jadi tidak perlu dibiasakan. Sehingga saya pun tidak membiasakan diri untuk begadang.

Dalam keadaan itu, tiba-tiba saya teringat dua peristiwa begadang yang dahsyat.

Kisah Pertama.

Pernah melihat kapal laut berjalan di darat? Mungkin terlihat konyol ya. Tapi "kekonyolan" itu benar-benar terjadi beberapa abad silam. Kapal laut mengarungi perbukitan dan berpindah dari satu laut ke laut lain melalui darat dalam satu malam.

Adalah Muhammad Al-Fatih, atau disebut juga Sultan Mehmed II, yang memimpin pasukannya menjalankan ide tersebut pada peristiwa penaklukan Konstantinopel. Sebelumnya, setelah berhari-hari mengepung kota Konstantinopel, pasukan Muhammad Al-Fatih tidak juga dapat menembus beberapa pertahanan berlapis dari pihak musuh.

Ada benteng setinggi 10 meter yang menjaga kota itu. Di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit selebar 7 meter. Dari sebelah barat melalui pasukan altileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan laut Marmara pasukan laut harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.

Berbagai usaha dikerahkan. Pernah dicoba untuk menggali terowongan di bawah benteng. Tapi usaha ini gagal. Pada akhirnya muncullah ide untuk memindahkan kapal melalui darat dari selat Bosporus ke selat Golden Horn. Karena pertahanan yang paling lemah ada di selat Golden Horn. Taktik ini lah yang mengantarkan pasukan Muhammad Al-Fatih menaklukan Konstantinopel.

Pemindahan kapal ini dilakukan pada malam hari. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka begadang di malam hari dengan menarik 70-an kapal. Benar-benar kerja keras. Saya yang tidak melakukan aktifitas fisik yang berat saja staminanya drop sehabis begadang. Tapi pasukan terpilih itu, sehabis lembur dengan kerja yang amat berat, mampu menaklukan Konstantinopel yang selama 8 abad tidak mampu ditembus oleh berbagai bangsa yang mengincar posisi strategisnya. Subhanallah….

Kisah Kedua.

Peristiwa begadang dahsyat ini dilakukan oleh seorang ulama yang namanya akan selalu terkenang oleh umat muslim sampai akhir zaman. Dia adalah Imam Syafi’i Rahimahullah. Kedahsyatannya adalah pada pengabdian Imam Syafi’i pada ilmu dan umat.

Peristiwa begadang itu terjadi di rumah muridnya, Imam Ahmad Rahimahullah. Suatu ketika Imam Ahmad mengundang Imam Syafi’i ke rumahnya. Undangan ini atas desakan putri Imam Ahmad yang ingin mengetahui akhlak Imam Syafi’i. Putri Imam Ahmad penasaran, karena ayahnya selalu memuji-muji akhlak Imam Syafi’i.

Di rumah Imam Ahmad, Imam Syafi’i dihidangkan makanan. Imam Syafi’i memakan hidangan itu dengan lahap dan banyak hingga putri Imam Ahmad heran. Dan setelah makan, Imam Syafi’i dipersilakan untuk beristirahat di sebuah kamar yang sudah disediakan.

Di malam itu Imam Syafi’i tidak melaksanakan sholat sunnah malam. Bahkan saat sholat subuh, Imam Syafi’i tidak berwudhu terlebih dahulu. Perilaku ini benar-benar ganjil di mata putri Imam Ahmad.

Akhirnya putri Imam Ahmad protes pada ayahnya. Mendapat pengaduan itu, Imam Ahmad pun mencoba meminta klarifikasi dari gurunya, Imam Syafi’i.

Mengenai hidangan yang dimakannya dengan sangat lahap Imam Syafi’i berkata: “Ahmad, memang benar aku makan banyak, dan itu ada alasannya. Aku tahu hidangan itu halal dan aku tahu kau adalah orang yang pemurah. Maka aku makan sebanyak-banyaknya. Sebab makanan yang halal itu banyak berkahnya dan makanan dari orang yang pemurah adalah obat. Sedangkan malam ini adalah malam yang paling berkah bagiku.”

"Kenapa begitu?"

“Begitu aku meletakkan kepala di atas bantal seolah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW digelar di hadapanku. Aku menelaah dan telah menyelesaikan 100 masalah yang bermanfaat bagi umat islam. Karena itu aku tak sempat shalat malam.”

Imam Ahmad bin Hanbal berkata pada putrinya: “inilah yang dilakukan guruku pada malam ini. Sungguh, berbaringnya beliau lebih utama dari semua yang aku kerjakan pada waktu tidak tidur.”

Imam Syafi’i melanjutkan: “Aku shalat subuh tanpa wudhu sebab aku masih suci. Aku tidak memejamkan mata sedikit pun. Wudhuku masih terjaga sejak isya, sehingga aku bisa shalat subuh tanpa berwudhu lagi.”

Subhanallah, bagi saya begadang imam Syafi’i saat itu adalah begadang yang sangat dahsyat. Malam harinya ia abdikan untuk ilmu demi menjawab berbagai permasalah umat.

Ah… saya jadi teringat kelakuan masa kuliah dulu. Saat itu saya dan beberapa teman sering berkunjung ke tempat kos salah seorang kawan. Di sana kadang saya menghabiskan waktu sampai larut malam cuma untuk bermain PS atau game komputer dengan kawan saya yang lain. Dulu belum ada tanggung jawab pekerjaan kantor, sehingga saya tidak terlalu memperhatikan pola tidur.

Saya juga teringat pernah begadang di warnet dengan beberapa teman mengambil tarif happy hour - tarif murah pada jam-jam tertentu. Niatnya sih mendownload bahan kuliah, artikel dan berbagai tutorial untuk belajar. Tapi nyatanya saya sempat cukup banyak menghabiskan waktu untuk chatting dengan orang yang tidak dikenal.

Ah, betapa sia-sianya begadang saya itu..

 
*****
 
Referensi:
http://majlisdzikrullahpekojan.org/kisah-ulama/biografi-imam-syafii.html
http://www.dakwah.info/ini-sejarah-kita/86-era-uthmaniyyah/352-muhammad-al-fatih-
http://flpjogja.org/book/export/html/58
April 7, 2010

Jasa Penjajah dan Perlawanan Para Pejuang

Image and video hosting by TinyPic

Palestina kembali membara. Rencana pembangunan 1600 pemukiman Yahudi yang melanggar resolusi PBB, dan pembukaan sinagog di dekat masjid Al-Aqsho memicu demonstrasi besar-besaran di daerah Yerusalem. Belum lagi serangan Israel ke gaza yang mulai rutin dilaksanakan tiap hari memakan banyak korban jiwa.

Umat Islam sedunia sontak menunjukkan solidaritasnya. Termasuk di Indonesia. Demo besar terjadi di Jakarta pada 21 Maret 2010 kemarin oleh kader-kader PKS. Tidak cuma PKS, NU pun - seperti diberitakan - punya perhatian yang sama besar pada Palestina, meski tidak memilih jalan demonstrasi untuk menunjukkan perhatiannya.

Wajar ada solidaritas dari umat Islam di belahan bumi yang lain. Karena hakikat umat Islam ibarat tubuh yang satu. Apabila ada anggota tubuh yang terluka, maka anggota tubuh lain ikut merasakan sakitnya. Maka saat umat Islam di Palestina disakiti oleh Israel, sontak seluruh umat Islam di bumi mana pun bangkit untuk menyatakan protesnya. Apa pun bentuk protes itu.

Sayang, di tengah solidaritas kemanusiaan itu, ada saja cibiran dari para pendengki. Mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mengejek. "Apakah anda masih menggunakan komputer buatan orang Yahudi? Apakah anda masih menggunakan jejaring sosial buatan orang Israel? Apakah web partai anda masih menggunakan php, buatan orang Israel?"

Entah ejekan ini lahir karena dengki pada yang berdemo, atau memang karena mendukung penjajahan Israel la’natullah alaih.

Jasa Fir’aun dan Perjuangan Musa

Dulu Bani Israil adalah kaum terjajah. Mereka sempat merasakan penindasan Fir’aun dalam waktu yang cukup lama, sebelum Allah swt mengutus Musa a.s. untuk membebaskan mereka dari cengkeraman Fir’aun.

Tapi Fir’aun adalah seorang yang punya jasa yang besar pada Musa a.s.

Setelah Fir’aun menerima ramalan tentang seorang laki-laki yang akan lahir dan akan meruntuhkan singgasananya, Fir’aun segera memerintahkan aparatnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Titah Fir’aun ini terdengar oleh ibu Musa a.s. yang baru melahirkan Musa. Kemudian Allah memberi ilham pada Ibu Musa untuk menghanyutkan Musa di sungai Nil agar tidak ditemukan oleh tentara Fir’aun. Ibu Musa juga memerintahkan kakak perempuan Musa untuk mengawasi hanyutnya Musa dari jauh.

Allah menyempurnakan rencana-Nya. Istri Fir’aun yang sedang mandi di sungai Nil mendapatkan seorang bayi laki-laki yang menarik perhatian. Bayi itu - Musa a.s. - kemudian diasuhnya. Sempat terjadi cek-cok dengan Fir’aun, namun pada akhirnya Fir’aun mengalah. Ia membolehkan istrinya mengasuh Musa a.s.

Musa dibesarkan dalam lingkungan istana yang penuh kemewahan. Makanannya dan segala keperluannya tercukupi. Hingga saat ia memasuki masa muda, terjadi peristiwa yang membuatnya harus lari dari lingkungan istana. Ia membunuh seseorang dari bangsa Qibthy, bangsanya Fir’aun.

Dalam pelariannya, Musa mendapatkan kenabian. Dan pada akhirnya Allah swt memerintahkannya untuk kembali pada Fir’aun demi membebaskan kaumnya dari penjajahan. Allah berfirman dalam surat Asy-Syu’ara (26): 16-22.

"Maka datanglah kamu berdua kepada Fir’aun dan katakanlah olehmu: "Sesungguhnya Kami adalah Rasul Tuhan semesta alam, lepaskanlah Bani Israil (pergi) beserta kami." Fir’aun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu (pembunuhan terhadap seorang Qibti) dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna. Berkata Musa: "Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil.""

Fir’aun rupanya menagih jasanya pada Musa. "Dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna", tuduh Fir’aun. Tetapi Musa a.s. menjawab: "Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil."
Perkataan Fir’aun itu rupanya satu nada dengan perkataan para pencemooh pendukung perjuangan Palestina. Mirip sekali tuduhannya: "Tidak tahu balas budi."

Dan jawaban untuk tuduhan orang-orang yang menjadi penyambung lidah Fir’aun itu pun serupa dengan jawaban Musa a.s, bahwa semua kebaikan Israel saat ini yang dimanfaatkan oleh umat Islam disebabkan penjajahan mereka terhadap umat Islam di Palestina. Bahkan penjajahan mereka dibanding jasa mereka masih sangat jauh dari setara.

Jasa Belanda dan Perjuangan Bangsa Indonesia.

Entahlah, apakah para pencemooh itu juga sadar bahwa kemerdekaan Indonesia ini turut diperjuangkan oleh orang-orang yang menimba ilmu di Belanda? Beberapa nama seperti Mochammad Hatta, Sutan Syahrir, Amir Syarifudin dan beberapa nama lain sempat menikmati kebaikan penjajah. Tapi tidak pernah disebut mereka orang yang tidak tahu berterima kasih karena perjuangan mereka merebut kemerdekaan.

Presiden Indonesia yang pertama, Ir Soekarno, menempuh pendidikannya dari sekolah yang dibangun Belanda: Technische Hoogeschool. Apakah Soekarno orang yang tidak tahu diuntung karena mengusir penjajah Belanda dari tanah Indonesia?

Penjajah Belanda juga membangun jalur kereta api di Jawa dan Sumatera. Pasca kemerdekaan, Indonesia memanfaatkan peninggalan Belanda ini. Sampai saat ini rakyat Indonesia masih menikmati jalur yang penjajah bangun. Adakah bangsa ini bangsa yang tidak tahu terima kasih karena telah menikmati kebaikan penjajah dan di lain pihak tetap memperjuangkan kemerdekaannya?

Penjajah Belanda juga membangun jalan lintas Sumatera. Hingga saat ini bangsa Indonesia menikmati jalan itu. Dan banyak lagi infrastruktur yang dibangun oleh penjajah yang dinikmati oleh bangsa Indonesia. Tidak tahu diuntungkah bangsa ini?

Jasa Penjajah dan Perjuangan Pribumi di Belahan Bumi Yang Lain.

Kita sebut Mahatma Gandhi, seorang pejuang yang lahir dari Bumi India, tanah jajahan Inggris. Rupanya beliau pernah mengenyam pendidikan Hukum di Inggris hingga ia menjadi seorang pengacara. Tapi pada akhirnya ia kembali ke India. Di India, ia menjadi tokoh yang menentang penjajahan Inggris meski dengan cara yang damai. Entahlah, akankah orang-orang yang dengki dengan dukungan perjuangan Palestina melontarkan pertanyaan serupa pada Mahatma Gandhi: "Bukankah engkau mengenyam pendidikan di Inggris, Gandhi?"

Dan kalau kita perhatikan sejarah penjajahan di muka bumi ini, rupanya para penjajah itu pun membangun infrastruktur di negeri jajahannya yang turut dinikmati oleh pribumi. Mereka juga memberi pendidikan pada pribumi hingga menyekolahkannya di negeri asli penjajah. Para penjajah itu tak kosong dengan kebaikan. Tapi di pihak lain, kita pun melihat bahwa pribumi pun tak surut melancarkan perlawanannya. Kenapa? Karena keburukan penjajah lebih besar dari kebaikannya. Dan kebaikan penjajah yang dirasakan pribumi itu sama sekali bukan alasan untuk menyurutkan perlawanan.

Lalu entah kenapa dewasa ini para pendengki mencela para pejuang kemerdekaan dengan mengungkit-ungkit kebaikan penindas?

Para pendengki itu pun mengkritik seruan boikot produk Israel, termasuk seruan boikot produk ICT Israel yang didengungkan oleh Menkominfo kemarin-kemarin ini. Padahal boikot itu adalah sebuah ikhtiar perlawanan terhadap penindasan. Kalau pun para pemboikot itu masih memanfaatkan kebaikan penindas, seperti PHP dsb, para pejuang terdahulu pun banyak yang memanfaatkan jasa penindas. Rakyat India di bawah pimpinan Gandi, Ahimsa, Satya Graha, Hartal, dan Swadesi pun pernah berikhtiar serupa: memboikot produk Inggris dan tidak bekerja sama dengan Inggris. Padahal di sisi lain Inggris sudah banyak membangun untuk India.

Lontarkanlah argumen Musa a.s. atas pertanyaan Fir’aun masa kini, dan perjuangan tidaklah terhentikan. Karena syarat menjadi pejuang adalah tidak takut atas celaan orang yang mencela.

March 23, 2010

Fokuslah Pada Tujuan Hidup Kita

Image and video hosting by TinyPic

Suasana hati Ari sedang sumringah. Ia sedang menjalani hari pertamanya bekerja di sebuah perusahaan swasta asing yang cukup ternama. Kantornya terletak di sebuah gedung tinggi di daerah Sudirman.

Ari berfikir bahwa ia akan cukup betah bekerja di perusahaan barunya. Karena ia mendapat fasilitas yang menyenangkan.

Setelah karyawan bagian Technical Support menginstall dan mempersiapkan komputer yang akan dipakainya bekerja, ia langsung mencoba apakah komputernya terhubung dengan internet. Dan ternyata terhubung. Ia mencoba membuka situs http://andaleh.blogsome.com dan segera tampil dengan cepat.

Kemudian ia mencoba situs yang sering diblock oleh administrator perusahaan lain: facebook dan jejaring sosial lainnya. Surprise… rupanya situs-situs jejaring sosial itu tidak diblock. Ia bisa sesukanya bekerja sambil mengakses situs-situs di dunia maya.

Fasilitas itu lumayan berguna baginya. Ia bekerja sebagai programmer. Kalau ada masalah dengan pekerjaannya, ia terbiasa mencari solusinya dengan jalan bertanya kepada google.

Selanjutnya ia mencoba fasilitas lain: telepon. Rupanya ia bisa menelpon nomor lokal maupun interlokal dengan telepon yang ada di mejanya.

Ari merasa bahagia diterima bekerja di perusahaan barunya.

Sebulan kemudian, kinerja Ari dievaluasi. Ternyata performa Ari di bawah yang diharapkan oleh atasannya. Beberapa tugas terbengkalai tidak terselesaikan. Ada tugas yang selesai, itu pun kwalitasnya jauh dari standard.

Setelah atasannya meneliti mengapa kinerjanya tidak sesuai dengan yang diharapkan, rupanya fasilitas internet lah yang membuat Ari lalai. Waktu Ari bekerja lebih banyak terisi oleh browsing dan chatting. Ari terlalu sibuk dengan jejaring sosialnya daripada pekerjaannya. Akhirnya atasan Ari meminta kepada Administrator untuk memblokir situs-situs jejaring sosial khusus untuk Ari.

Setelah situs-situs jejaring sosial diblok, Ari malah makin tidak konsentrasi kerjanya. Ia mulai merasa tidak betah dan menilai bosnya tidak adil.

Tidak cuma itu, rupanya pemakaian telepon Ari pun mulai dibatasi. Karena Ari kelewat batas menggunakan telepon.

Akhirnya Ari semakin uring-uringan. Tidak kerasan bekerja di tempat barunya. Dan ia pun mulai berburu lowongan kerja.

*****

Gambaran Ari adalah gambaran umat manusia.

Tugas utama manusia dihidupkan adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS Adz-Dzariat : 56) Kemudian manusia mendapat banyak sekali fasilitas yang menunjang tujuan hidupnya.

Manusia diberi mata untuk memandang, agar ia bersyukur kepada Allah swt. Ia bisa melihat keindahan ciptaan-Nya dan semakin mengenal-Nya. Manusia diberi pendengaran, akal, hati, dan semua potensi yang ada padanya agar manusia bersyukur. Semua itu untuk penunjang manusia beribadah kepada Allah swt.

"Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati." (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur." (QS Al-Mulk : 23)

Tapi yang terjadi malahan manusia gagal menggunakannya dalam rangka beribadah kepada Allah swt. Kebanyakan manusia menggunakan kenikmatan yang didapatkannya untuk berbuat maksiat kepada Allah swt. Minimal, manusia dilalaikan oleh fasilitas-fasilitas duniawi.

Dan ketika kenikmatan itu ada yang dicabut, banyak manusia yang malah makin durhaka kepada Allah swt daripada introspeksi diri dan memperbaiki kinerja ibadahnya. Manusia mengira Allah tidak adil dan kejam karena kenikmatannya itu dicabut. "Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku"" (QS 89 : 16)

*****

Manusia yang akan sukses menyelesaikan misinya di bumi adalah manusia yang fokus pada tujuan hidupnya. Bukan manusia yang terlena oleh banyaknya fasilitas yang ia dapatkan di bumi ini.

Ada banyak pelatihan-pelatihan sholat khusyu’. Berbagai metode terapi diajarkan dan berbagai cara dikembangkan untuk menggapai sholat khusyu’. Padahal Allah swt telah memberikan satu petunjuk sederhana untuk khusyu’.

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS 2:45-46)

Orang-orang yang yakin akan menemui Tuhannya adalah orang-orang yang fokus akan tujuan hidupnya. Ia mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk pertemuan dengan Allah Rabbul Izzati.

Ada pun orang yang tidak fokus pada pertemuan dengan Tuhannya, maka percuma saja ia mengikuti pelatihan sholat khusyu’ sebanyak apa pun. Kalau fasilitas-fasilitas hidup menjadi noktah dalam pandangannya, maka ia tidak akan sempurna menatap masa depan pertemuannya dengan Tuhan. Hanya orang yang tidak terganggu dengan fasilitas hidup, yang fokus pada tujuan hidupnya, yang fokus pada pertemuan dengan Tuhannya, mereka itu lah yang akan mampu khusyu’ dalam sholatnya.

 
—-
 
Tulisan yang terkait:
Arti Hidup
Bersabarlah, Kita Akan Kembali Pada-Nya
Hisab
March 17, 2010

Keberkahan di Ruang Tamu

Image and video hosting by TinyPic

Ada sebuah ruangan di rumah kita yang menyimpan potensi keberkahan yang besar apabila kita bisa memanfaatkannya. Ruangan apakah itu? Ya, ruang itu adalah ruang tamu (udah baca judulnya sih ya.)

Keberkahan itu muncul karena ada dua amal yang berhubungan dengan ruang tamu. Dan kedua amal itu Allah iming-imingi dengan balasan rezeki, keberkahan dan ampunan. Dua amal yang sering dilakukan di ruang tamu itu adalah: Bertamu/silaturahim dan Memuliakan Tamu.

Silaturahim

Acara silaturahim biasanya dilakukan di ruang tamu. Kalau kita mampir ke toilet rumah orang lain, itu namanya numpang buang air.

Ada banyak dalil yang memerintahkan kita untuk silaturahim. Salah satu diantaranya: Diriwayatkan dari Anas r.a., "Barangsiapa senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim" (Muttafaq Alaih)

Ada yang memberi penjelasan mengapa silaturahim dapat meluaskan rezeki. Karena silaturahim memperluas dan mengukuhkan relasi. Relasi itu penting dalam bisnis. Dengan relasi, maka kita mudah memasarkan produk atau memperkokoh jaringan bisnis.

Ya, itu salah satu hikmahnya. Sewaktu kecil, saya juga mendapatkan hikmah tersendiri dari silaturahim. Biasanya kalau saya silaturahim ke rumah om/tante/kakek, saya diberi uang saat hendak pulang. Lumayan :)

Kalau kita bersilaturahim dengan orang yang punya hubungan baik dengan kita, itu baik. Kita sebut dengan "memelihara silaturahim". Tapi di atas amal itu, ada yang lebih baik. Yaitu menyambung silaturahim. Apa definisinya? Rasulullah salallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Orang yang menyambung silaturahim itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahim ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. (Muttafaqun ‘alaihi).

Dalam hadits lain, ada seorang sahabat yang mengadu pada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.” (Muttafaq ‘alaihi).

Subhanallah besar sekali manfaat silaturahim, amal yang terlaksana di sebuah ruang dalam rumah yang disebut ruang tamu. Dengan catatan kalau tamunya disuruh masuk oleh empunya rumah. Kalau tidak disuruh masuk, walau pun di teras, tetap saja namanya silaturahim.

Memuliakan Tamu.

Memuliakan tamu, sebagaimana silaturahim, adalah bukti keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah saw bersabda "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahmi. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik-baik saja atau hendaklah ia diam" (HR Bukhari Muslim)

Menarik dari hadits di atas, ada tiga hal yang disebut beriringan: memuliakan tamu, silaturahim, dan berkata baik. Kita bisa sambung dari tiga hal itu: dalam menyambut tamu dan bersilaturahim, hendaklah jaga perkataan baik, karena persaudaraan yang terjalin apik oleh silaturahim itu bisa terganggu oleh perkataan yang tidak baik.

Apabila tamu datang, jangan lah menggerutu karena takut rezki kita berkurang.  Rasulullah saw bersabda, "Apabila seorang tamu memasuki (rumah) suatu kaum, ia masuk dengan membawa rezekinya sendiri. Jika ia keluar (pulang), maka ia keluar dengan membawa ampunan bagi mereka".(Hr. Ad Dailami)

Bila kita anak kos, kemudian datang kawan untuk bertamu ke rumah, jangan ragu untuk mengambil sedikit uang kiriman orang tua untuk kita belikan kue atau minuman untuk kawan kita itu. Karena rezeki kita tidak akan berkurang. Makanan yang kita berikan itu menjadi amal bagi kita dan kemudian yang sesungguhnya terjadi adalah kita menyerahkan rezeki milik tamu kita itu tanpa mengurangi rezeki kita. Begitu yang dipahami dari hadits Ad-Dailami di atas.

Dan dari hadits di atas juga ada kabar gembira bagi yang mampu memuliakan tamu: ampunan dari Allah Azza wa Jalla. Itu lah keberkahan yang hadir dari ruang tamu bagi pemilik rumah.

Seorang sahabat mempunyai cara yang unik untuk memperoleh rahmat melalui amal memuliakan tamu. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, At Tirmizi dan An Nasa’i dari Abu Hurairah, ia berkata:  “Seorang laki-laki telah datang kepada Rasulullah SAW. Ia berkata: “Aku lapar”. Maka Rasulullah mengutus kepada istri-istrinya (menanyakan makanan), tapi tidak ada, beliau bersabda: “Adakah orang yang mau menerima orang ini sebagai tamu malam ini ? Ketahuilah bahwa orang yang mau menerima laki-laki ini sebagai tamu (dan memberi makan) malam ini akan diberi rahmat oleh Allah”. Berkata  seorang dari golongan Ansar (Abu Talhah): “Saya ya Rasulullah”. Maka ia pergi menemui istrinya dan berkata “Hormatilah tamu Rasulullah”. Istrinya menjawab: “Demi Allah tidak ada makanan kecuali makanan untuk anak-anak kita. Suaminya berkata: “Apabila anak-anak hendak makan malam, tidurkanlah mereka, padamkanlah lampu biarlah kita menahan lapar pada malam ini, agar kita dapat menjamu tamu Rasulullah”. Maka hal itu dilakukan istrinya. Pagi-pagi esoknya Abu Talhah menghadap Rasulullah SAW. menceritakan peristiwa malam itu dan beliau bersabda: “Allah SWT benar-benar kagum malam itu terhadap perbuatan kalian berdua.”

Rentang Waktu yang Wajar Dalam Menjaring Keberkahan

Ada batas waktu bertamu yang wajar yang dalam rentang waktu itu seorang muslim diperintahkan untuk memuliakan tamunya. Di luar batas waktu itu, dikhawatirkan tuan rumah mulai terbebani dan kebaikan silaturahim mulai luntur. Batas waktu itu adalah tiga hari. Rasulullah memerintahkan tuan rumah untuk memuliakan seorang tamu dalam waktu tiga hari itu.

Abu Syuraih khuwailid bin ‘Am ia berkata: "saya mendengar rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya pada saat istimewanya". Para sahabat bertanya: "wahai rasulullah, apakah saat istimewanya itu?, beliau bersabda: hari dan malam pertamanya, bertamu itu adalah tiga hari. Kalau lebih dari tiga hari. Maka itu adalah sedekah". (HR bukhari dan Muslim)

Jadi, bagi pembaca yang terbiasa ‘ngambek’ dan ‘minggat’ dari rumah orang tua, jangan menyusahkan kawan tempat pelarian dengan menginap dalam waktu yang lama.

March 8, 2010

Lomba Penulisan Artikel Hikmah dan Renungan di MyQuran

Filed under: Santai....

Di MyQuran (lihat Rumah Baru Untuk MyQuran), saya diberi amanah untuk menjaga board Hikmah dan Renungan. Supaya board itu lebih hidup, saya mengadakan lomba penulisan artikel Hikmah dan Renungan.

Ini baru pertama kali saya mengadakan lomba. Hadiahnya dari kocek sendiri :D . Mungkin rekan2 blogger berminat untuk ikut serta? Hadiahnya jaket… ya… ada embel-embelnya sih, jaket myquran tepatnya.

Berikut ini pengumumannya yang saya posting di http://myquran.com/forum/showthread.php/6187-Lomba-Penulisan-Artikel-Hikmah-dan-Renungan

Assalamu’alaikum wr wb

Untuk memotivasi menulis rekan-rekan, saya selaku moderator Hikmah dan Renungan mengadakan kontes menulis artikel Hikmah dan Renungan. Berhadiah lho

- Untuk kali ini, tema tulisan mengenai "Merenungi Ketauladanan Rasulullah saw". Judulnya bebas, terserah peserta.

- Tulisan diposting pada thread baru, dan dipersilahkan untuk dikomentari oleh myqers yang lain.

- Tulisan haru asli buatan sendiri. Kalau ketahuan menyalin dari tulisan orang lain, maka akan di-diskualifikasi. (bener gak tulisannya begitu )

- Batas akhir kontes ini pada tanggal 5 April 2010. Setelah tanggal tersebut, thread baru yang dibuat tidak disertakan sebagai perlombaan.

- Sertakan tag [Kontes Menulis] sebelum judul thread. Misalnya "[Kontes Menulis] Mata Air yang Tak Pernah Habis"

- Pemenangnya ditentukan melalui penjurian. Pemenang akan diumumkan pada 12 April 2010.

- Nah… hadiahnya……. untuk event kali ini berupa jaket myquran.

Silakan kalau ada pertanyaan

February 2, 2010

Perhatikanlah Kekuasaan Ilahi

Dulu saya sering memperhatikan awan berarak bila sedang dirundung masalah. Kebetulan saya sempat kuliah di sebuah kampus yang terletak di atas bukit, yang dari bukit itu tampak pemandangan sebagian kota Padang, laut, dan hutan yang hijau. Sangat indah. Dari bukit itu, memperhatikan awan yang besar-besar bergerak dihembus angin merupakan penawar hati yang resah. Terbersit pikiran bahwa Dia swt berkuasa menggerakkan awan yang jauh lebih besar dari diri saya. Tentu saja Dia azza wa jalla berkuasa untuk menolong saya di setiap permasalahan saya.
Memperhatikan kebesaran Ilahi bisa menumbuhkan optimisme. Dengan catatan, itu bisa terjadi kalau kita berserah diri dalam segala urusan kepada Allah swt dan menjadikan-Nya tempat meminta pertolongan. Barang siapa yang bertakwa dan bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dan mencukupkan keperluannya.

"… Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS 65: 2-3)

Adalah Nabi Zakariya a.s., sempat kesulitan mendapatkan seorang anak. Padahal usianya sudah senja. Memiliki anak penting baginya untuk memiliki penerus dakwahnya. Orientasinya bukan meneruskan keturunan, tapi meneruskan perjuangan.

Sudah menjadi skenario Allah swt., ia a.s. terpilih untuk mengasuh Maryam, seorang anak yang telah dinadzarkan oleh orang tuanya - Imran - untuk menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Dibawah asuhan Nabi Zakariya a.s., Maryam tumbuh menjadi gadis yang sholehah.

Allah swt memperlihatkan kekuasaan-Nya kepada Zakariya a.s. melalui Maryam. Suatu hari saat hendak menemui Maryam di mihrab, Zakariya melihat makanan berada di dekat Maryam. Entah dari mana datangnya makanan-makanan itu. Merasa heran, Zakariya a.s. bertanya pada Maryam asal-usul makanan itu. "Makanan itu dari sisi Allah." Jawab Maryam. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Nabi Zakariya a.s. telah melihat kebesaran Ilahi. Hal seperti itu menumbuhkan optimisme-nya sehingga mantap ia berdoa kepada Tuhan, "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa."
 
Melihat kebesaran Ilahi bisa menambah keyakinan. Doa Nabi Zakariya ini sudah dijawab oleh Allah swt. Jibril sudah mengabari bahwa Nabi Zakariya a.s. akan dianugerahi seorang anak bernama Yahya. Tapi Nabi Zakariya masih bertanya, "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?." Maka Allah memberi tanda dengan tidak dapatnya Nabi Zakariya a.s. bercakap-cakap dengan orang lain selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Dan itu juga merupakan tanda kebesaran Allah swt.

Kisah seperti ini bisa kita temui dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 36-41.

Nabi Ibrahim a.s., sang Kekasih Allah, masih butuh untuk melihat kebesaran Ilahi. "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)" (QS 2:260) Begitu alasan Ibrahim a.s. ketika ia meminta Tuhan untuk memperlihatkannya bagaimana Tuhan menghidupkan orang yang mati. Bila seorang nabi masih butuh untuk menyaksikan kebesaran Allah swt sebagai penguat imannya, maka bagaimana dengan kita?

Allah swt telah menyuruh kita memperhatikan kebesaran-Nya. Salah satu peristiwa yang sering dipaparkan dalam Al-Quran adalah tentang hujan yang menumbuhkan bumi yang mati. Salah satunya dalam surat Ar-Rum (30) ayat 48-50

"Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan Sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Merenungi fenomena hujan yang menghidupkan bumi yang mati itu cukup efektif untuk memelihara optimisme kita. Bumi yang mati itu seolah-olah hati kita yang sudah berputus asa. Tapi pertolongan Allah membuat hati kita hidup lagi. Ceria lagi. Kita pun menyadari bahwa tak ada gunanya putus asa itu.

Dan tak perlu jauh-jauh untuk memperhatikan kebesaran Ilahi. Firman Allah swt: "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.  dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS 50: 20-21)

Saya yakin bahwa masing-masing kita memiliki pengalaman saat doa kita dikabulkan. Itu cukup menjadi amunisi untuk meyakini bahwa Allah swt maha luas rahmat-Nya untuk menolong setiap permasalahan kita. Sebenarnya, masalah yang menimpa kita itu juga merupakan tanda kebesaran Ilahi. Dan Allah memperlihatkan kebesarannya melalui masalah yang menimpa kita, bukan untuk membuat kita menyerah. Justru menjadi sarana kita untuk semakin merendahkan diri kepada Allah swt dan meminta datangnya kekuasaan-Nya yang lain, yaitu jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.

 
*****
 
Tulisan terkait : Bersabarlah, Kita Akan Kembali Pada-Nya
 
January 22, 2010

Pelajaran Dari Hendri Mulyadi

Pertandingan sudah memasuki menit ke 80. Tim Nasional Indonesia masih tertinggal 2-1. Penonton frustasi. Umpan yang salah, kontrol bola yang tidak cermat, dribling yang mudah dipatahkan, semua itu membuat penonton gemas kepada pemain Tim Nasional Sepak Bola Indonesia.

Gregetan. Gemas tak tertahankan. Akhirnya di injury-time, seseorang nekat menembus barisan keamanan dan tiba-tiba muncul di tengah lapangan. Entah bagaimana akhirnya orang itu bisa menguasai bola. Para pemain hanya terpaku melihat lapangan yang sudah terkontaminasi penonton. Orang itu terus menggiring bola menuju ke gawang tim Oman. Hingga ia tinggal berhadapan satu lawan satu dengan kiper Oman. Ia tendang bola itu ke arah gawang, melampiaskan seluruh kekesalan dan kekecewaannya. Sayang, kiper Oman mampu menangkap bola sepakannya.

Nama orang itu Hendri Mulyadi. Sejak itu ia menjadi perbincangan publik. Ada yang bilang ia pantas masuk timnas, sampai ada yang mendukung ia menjadi ketua PSSI menggantikan Nurdin Halid.

Tulisan ini tidak akan membicarakan pesepakbolaan Indonesia. Karena cukup pahit bagi saya untuk membicarakan itu. Tapi ada pelajaran penting yang bisa kita dapatkan dari peristiwa Hendri Mulyadi. Pelajaran yang bisa diterapkan di semua hal.

Pelajaran itu pelajaran yang sangat sederhana.

Jujur saja, sangat sering kita terjebak menjadi pengamat/penilai/pengomentar yang gagah. Tidak membanggakan kok hal itu. Memang mengomentari itu hal yang mudah. Tinggal lihat sepintas, lalu beri nilai dengan apa yang terlintas di kepala kita. Objektif atau subjektif, tak masalah.

Termasuk memberikan komentar yang negatif -  dan itu berbeda dengan kritik membangun, sangat mudah. Apalagi hasil karya manusia tidak ada yang sempurna. Maka peluang memberikan komentar yang negatif itu sangat besar.

Bahayanya, apabila komentar negatif itu mengantarkan kita pada kesombongan. Atau memang lahir dari sikap sombong. Rasulullah SAW bersabda : “Tidak akan masuk kedalam surga, seseorang yang didalam hatinya terdapat kesombongan (takabur) seumpama biji sawi.” (Al-Hadits) (Saya membawa hadits ini tidak untuk memvonis siapa pun, termasuk Hendri Mulyadi. Ini cuma wanti-wanti saya kepada pembaca, agar jangan sampai komentar negatif, cela, hujat, dsb itu menjerumuskan/lahir dari sikap sombong).

Hendri Mulyadi mengaku kecewa pada timnas. Itulah yang mengatarkannya memasuki lapangan sepakbola. Bukan cuma Hendri Mulyadi saja, tapi semua warga Indonesia yang menonton pertandingan itu - termasuk saya - saya rasa akan gemas kepada timnas.

Akhirnya banyak yang berkomentar negatif kepada pemain. Tapi apakah mereka merasa bahwa bila mereka yang bermain, maka keadaan akan lebih baik? Hendri Mulyadi, salah seorang yang kecewa, telah membuktikan bahwa kenyataannya ia pun tidak sanggup membobol gawang Oman. Saat itu posisinya tinggal satu lawan satu dengan kiper Oman. Tapi tetap saja ia gagal menceploskan bola ke dalam gawang.

Akhirnya, orang-orang cuma menjadi komentator yang gagah, dan entah sadar atau tidak, mereka pun belum tentu bisa membalikkan keadaan apabila mereka berada dalam lapangan.

Peristiwa Hendri Mulyadi seharusnya bisa membuka mata kita bahwa kita belum tentu bisa melakukan yang lebih baik dari apa yang kita komentari. Untuk setiap hal. Supaya kita tidak tergelincir pada perasaan sombong.

Jangan mudah berkomentar buruk atas karya orang lain, belum tentu kita bisa menghasilkan karya yang lebih baik dari karya tersebut. Jangan mudah berkomentar buruk atas perilaku orang lain, siapa tau perilaku kita malah lebih buruk. Dan banyak hal lainnya… Lihat siapa kita sebelum berkomentar :)

****

Note: Berkomentar buruk itu berbeda dengan kritik membangun. Pada dasarnya mencela, menghujat, dsb itu tidak baik. Tetapi mengkritik dengan semangat yang positif, itu bukan termasuk komentar negatif. Beda :)

Saya menaruh hormat pada Hendri, malah salut atas keberaniannya. Tidak ada maksud merendahkan dia dalam tulisan ini. Semoga pesan saya sampai kepada pembaca. Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan.

*****

Tulisan Terkait: Ceng-ceng-an

January 13, 2010

Materi

Lama gak ngapdet blog. Akhirnya aku mengalami juga, perasaan jenuh. Well… untuk memancing semangat nulis, aku posting tulisan yang repost. Ya, tulisan di bawah udah pernah di posting sih di blog ini juga. Aku posting ulang dengan sedikit perubahan. Biarin… namanya juga lagi jenuh. Suka-suka :D

*****

Di depan kelas kini sudah berdiri Pak Amrizal yang akan mengajarkan pelajaran kimia. Pak Amrizal itu pun kemudian menuliskan tulisan “Materi” ke papan tulis.

“Baik anak-anak, sekarang kita belajar mengenai materi.” Ujar pak Amrizal setelah mengucapkan salam.

“Seperti telah diulas sedikit pada pertemuan terakhir, bahwa materi adalah sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang. Sekarang, siapa yang tahu contoh materi ini?”

Karena khawatir terhadap budaya cemooh-nya Indonesia yang begitu kental, maka tak seorang anak pun yang mau menjawab.

“Baiklah kalau tidak ada yang mau menjawab. Bapak akan panggil melalui absen.” Pak Amrizal mengambil absen untuk kemudian menyebut sebuah nama, “Syafrie!”

“Contoh materi itu… mmmm… ya materai, Pak.”

“Materai?”

“Iya, yang kayak prangko itu lho.”

“Oke deh, ananda… Baik, nomor absent 24, Hafidz Alyusra, apa lagi contoh materi?”

“Materazzi Pak!” Jawab Hafidz yang gila bola.

“Apa itu?”

“Pemain belakang Inter Milan, Pak.”

“Oooh, jadi Materazzi itu mewakili manusia. Ya, manusia itu memang materi. Sekarang… Imam Taufik. Apalagi contoh materi?”

“Cewek Matre, Pak.”

“Lho, manusia kan udah disebut. Yang laen dong.”

“Oh ya, duit Pak.”

“Baik-baik. Tampaknya kalian sudah mengerti apa itu materi. Jadi…”

“Pak, kalau materi itu memiliki massa dan menempati ruang, maka ada suatu benda yang sangat cocok dan paling cocok disebut materi.” Interupsi Hamzatil Frengki.

“Apa itu?”

“Kursi, Pak.”

“Oh ya. Kursi memang termasuk materi. Tapi dari mana kamu berkesimpulan bahwa kursi paling cocok dikatakan materi.”

“Karena kursi memiliki massa pak. Coba, orang kalo mau dapet kursi, misalnya untuk pemilihan gubernur, dia kasak-kusuk cari massa. Rela menghabiskan uang bermilyar-milyar membuat spanduk, pamflet, dan lain sebagainya. Apalagi musim kampanye dan pemilu. Banyak yang ribut cari masa supaya dia dapet kursi di DPR atau pun DPD. Pokoknya, kursi itu memiliki masa deh.

Dan kursi itu juga menempati ruang lho. Baik ruang MPR, ruang DPR plus terdakwa, ruang Gubernur, ruang DPRD, sampe ruangan yang bernama hati. Kalo di ruangan hati itu, jelas banyak orang yang memiliki hati yang ditempati kursi. Nggak peduli itu politikus, tukang becak yang mimpi jadi gubernur, sampe aktifis dakwah sekali pun. Banyak juga yang hatinya ditempati kursi.”

“Mmm… ya, ya… benar kata-kata mu, Nak. Memang kursi itu benar-benar memiliki massa dan menempati ruang. Kursi memang sebuah materi. Menurutmu, bagaimana dengan kursi Allah, apakah materi?”

“Jelas. Kursi Allah kan dalam ayat kursi dikatakan terdiri dari langit dan bumi. Hitung aja sama bapak sendiri berapa massanya langit dan bumi. Juga menempati ruang, yaitu jagad raya ini. Nah, kursi Allah ini sebenarnya lebih besar dari kursi-kursi yang ada. Tetapi nggak ngerti kenapa kok banyak yang nggak nyadar, bahwa ia berada di kursi Allah. Bukannya memuji Allah Yang Memiliki Kursi yang Agung, eh tapi dia rebutan kursi yang cuma berapa hari saja jangka waktunya. Seharusnya orang-orang pencari massa dan ingin menempati ruang ini membaca ayat kursi minimal dua kali sehari, pagi dan petang.”

“SubhanaLlah. Bagus sekali paparanmu tentang kursi. Lalu tentang materi, bagaimana menurutmu Frengki?”

“Wah, sebenarnya materi itu udah dijadikan sembahan, Pak. Tanyain aja ke orang-orang, apa tujuan hidup kamu? Paling jawabnya pingin punya rumah gede lah, punya uang banyak lah. Yah, semua itu kan cuma materi. Padahal, ketika manusia sudah pindah ke alam baka’, sudah tidak ada lagi HP yang menempati ruang, CD Meteor Garden, baju, bola, game, semuanya tidak menempati ruang kecuali amal soleh yang berwujud kawan kita kelak. Amal soleh itulah yang menjadi materi ketika kita di alam baqa’. Seharusnya manusia mencari materi berupa amal soleh itu, Pak. Sekali pun di dunia tidak memiliki massa dan menempati ruang, tetapi pahala itu menempati ruang di alam kubur, dan memiliki massa di jembatan timbangan kelak.”

“Ya… ya… ya. Betul kata kamu Frengki.

Materi yang sejati adalah amal soleh. Menempati ruang ketika kita di kubur nanti dan memiliki massa ketika kita ditimbang oleh Allah kelak. SubhanaLlah.

Baik, kita akan meneruskan pandangan materi ini dari prespektif kimia…”

December 17, 2009

Hijrah

Realistis, bukan menyerah. Dakwah untuk semua manusia, bukan cuma untuk masyarakat Mekkah. Bila di sana masyarakat tak mau menerima, sedangkan di tempat lain ada tangan-tangan terbuka menerima dakwah, untuk apa ‘ngotot’ tetap berada di sana? Hijrah adalah sikap yang realistis. Bukan sikap gampang menyerah, juga bukan sikap keras kepala.

Seorang sales tentu tidak akan memaksakan diri menjajakan jualannya pada seseorang yang sudah menolaknya. Ketika ia berpaling dari orang tersebut dan berupaya menggaet pembeli lain, berarti ia sedang menuju pada kesuksesan dan tidak akan pernah diartikan ‘menyerah’.

Justru yang menyerah adalah yang bertahan dalam lingkungan yang zhalim. Padahal bumi ini luas. Kemenangan adalah saat kita mampu menyelamatkan diri dari kezhaliman dengan cara yang elegan.

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?." Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?." (QS 4:97)

Bergerak, bukannya stagnan. Hijrah adalah suatu terobosan menghindari keadaan yang jumud (mandeg). Hijrah adalah manuver yang ter-skema dengan apik. Pendelegasian  seorang pembuka dakwah sebelum hijrah merupakan langkah yang brilian. Bahkan pilihan pada siapa yang akan menjalankan tugas, adalah pilihan yang sangat jitu. Mush’ab bin Umair. Seorang pemuda tampan yang keluar dari kehidupan borjuis menuju Islam, mampu memainkan peran dengan sukses. Dan Rasulullah pun dengan mulus melanjutkan manuvernya: hijrah ke Madinah.

Hijrah, manuver yang sama yang sudah diusulkan oleh seorang ‘alim kepada pembunuh 100 manusia. Sebelumnya, pembunuh itu berkonsultasi pada seorang Rahib mengenai kemungkinannya bertaubat. Tapi Rahib itu malah memvonis bahwa taubatnya tak kan diterima. Ia bunuh Rahib itu untuk menggenapkan 100 orang korbannya. Selanjutnya ia berkonsultasi pada seorang ‘alim yang penuh ilmu. Orang ‘alim itu menyuruhnya hijrah menuju kampung yang diisi orang-orang baik, meninggalkan kampung yang berisi orang-orang jahat. Itulah manuver elegan menuju kemenangan: Hijrah.

Konsistensi, bukannya tidak setia. Konsistensi harusnya hanyalah pada kebaikan, bukan pada keburukan. Dan untuk para Nabi dan pada da’i (du’at), kesetiaan hanyalah pada dakwah, bukan pada objek dakwah. Sekalipun objek dakwah itu kita cintai. Karena itu, hijrah adalah sikap konsisten untuk berdakwah secara berkesinambungan. Kalau objek dakwah menolak, maka demi menjaga kontinuitas dakwah, beralihlah pada mereka yang siap menerima dakwah. Karena kalau dipaksakan, dakwah tidak akan berkembang dan akan stagnan.

Rasulullah saw sangat mencintai kota Mekkah. Tapi kesetiaan pada dakwah membuatnya untuk patuh pada perintah Allah swt: Hijrah ke Madinah. Dan Rasulullah pun menempatkan sikap konsistennya pada tempat yang tepat.

Cinta tidak menjamin hidayah itu tertransfer mulus. "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS 28:56) Kisah Abu Thalib telah membuktikan ayat ini. Karena itu, Ibrahim a.s. bukan lah tidak setia ketika ia meninggalkan bapaknya, Adzar. Ia mencintai bapaknya. Tapi demi dakwah, ia harus hijrah untuk menemukan lingkungan yang siap menerima dakwah. Ia setia pada dakwah.

Hijrah adalah konsistensi, manuver, dan kemenangan. Ketika Nabi Yunus a.s. pergi dalam keadaan marah meninggalkan kaumnya, itu bukan bentuk Hijrah. Karena Hijrah adalah manuver yang penuh perhitungan, bukan berlandaskan emosi. Hijrah adalah konsistensi, bukan berlandaskan ketidak-setiaan untuk terus membimbing umat dengan sabar. Hijrah adalah kemenangan, bukan menyerah kalah padahal Allah belum memerintahkan untuk hijrah. Saat para Nabi hijrah meninggalkan kaumnya, itu karena Allah telah memerintahkan begitu. Biasanya karena akan ada adzab untuk kaum tersebut.

Hijrah meninggalkan kemaksiatan pada kebaikan, adalah sebuah kemenangan, manuver, dan kesetiaan pada kebaikan.

—–

Selamat Tahun Baru Hijriah. Mari jadikan momentum tahun baru ini untuk bermuhasabah. Dan mari hijrah pada menuju yang lebih baik. Dari dunia yang buruk menuju dunia yang baik. Atau dunia yang sudah baik menuju dunia yang lebih baik lagi :)