Selamat Jalan

Posted by Abi Sabila on Jumat, Oktober 15, 2010
Ketika ujian itu datang
Kami sadar bahwa Allah lah yang berkehendak dan mengizinkan
Sabar yang kami pertahankan, ikhtiar yang kami perjuangkan
Semoga menjadi penolong dan penggugur dosa serta kesalahan
Do'a yang kami panjatkan, tawakal yang kami sandarkan
Semoga Allah berkenan menyembuhkan

Inalilahi wa inna ilaihi roji'uun
Segalanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada Nya
Begitupun orang yang sangat kami cintai
Telah kembali ke pangkuan Illahi

Selamat jalan sayang...
Kami hantarkan engkau dengan keikhlasan dan keridhoan
Semoga mempermudah langkahmu bertemu sang Pemilik Cinta Sejati
Amin

biodata:
nama SUNARSI binti SUNAR, lahir di KEBUMEN, MINGGU 2 APRIL 1978, wafat di TANGERANG, MINGGU 10 OKTOBER 2010 pukul 17.00 WIB, dimakamkan di KEBUMEN, SENIN 11 OKTOBER 2010 pukul 10.00 WIB.

Kepada seluruh saudara, tetangga, sahabat dan juga kerabat, mohon dimaafkan apabila selama hidupnya almarhumah pernah berbuat salah dan khilaf. Terima kasih tiada lupa kami sampaikan atas bantuan, dukungan serta doa yang tiada henti, semoga menjadi amal kebaikan bagi kita semua serta bekal bagi almarhumah, amin.

Ya Allah, terimalah dan tempatkanlah orang yang sangat kami sayangi di sisi Mu, terimalah iman serta islamnya, terima amal ibadahnya, ampuni dosa dan kesalahannya, ijinkan kami berkumpul kembali di syurga Mu kelak, amin.

gambar dipinjam dari sini

Dosa Pertama

Posted by Abi Sabila on Kamis, Oktober 07, 2010


Masih seputar kenangan, pengalaman sekaligus pelajaran yang saya dapat saat lebaran. Meski sudah lama berlalu rasanya tak ada salahnya jika coba saya bagikan dengan harapan semoga bisa menjadi ibrah bagi kita semua, amin. Jika pada tulisan sebelumnya saya menuangkan rasa khawatir sekaligus prihatin melihat ‘kehebohan’ orang-orang (barangkali termasuk juga saya sendiri) dalam melakukan berbagai persiapan menjelang lebaran. Sebagai wujud rasa bahagia akan datangnya hari kemenangan, berbagai kesibukan dan persiapan yang dilakukan tidaklah semuanya bisa dianggap ataupun disalahkan. Hanya saja ada satu hal yang dikhawatirkan, yaitu ketika kesibukan melakukan persiapan menyambut lebaran - yang pada dasarnya hanya berhitung hari - sampai melupakan persiapan meraih kemenangan akhirat yang sifatnya abadi. Astaghfirullah, semoga kita tidak termasuk yang demikian.

Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini saya ingin mengangkat tema tentang silaturrahim dan bermaaf-maafan di hari lebaran. Meski tidak harus menunggu hari lebaran, pada kenyataannya idul fitri dimanfaatkan banyak orang untuk bersilaturrahim dan saling memohon serta memaafkan. Menyebut idul fitri erat kaitannya dengan silaturrahim. Begitu pun dengan lebaran, tak bisa dipisahkan dengan saling bermaaf-maafan. Begitulah yang ada dalam benak banyak orang, termasuk juga saya. Tapi rupanya tidak bagi Fulan, sebut saja demikian.

Sepulang shalat idul fitri di masjid, keluarga besar Fulan berkumpul di ruang keluarga untuk mengadakan ‘sungkeman’. Acara sungkeman berlangsung dengan khidmat dan penuh haru. Cium tangan dan pipi serta peluk erat di antara derai air mata menjadi pemandangan utama saat acara sungkeman berlangsung. Saling mengakui kesalahan, saling memohon maaf, dan saling memaafkan kesalahan, menjadikan suasana sungkeman begitu indah sekaligus mengharukan.

Usai acara sungkeman - ketika masing-masing telah mampu menguasai keharuan hati - acara pun dilanjutkan dengan makan bersama. Jika sebelum berangkat ke masjid untuk shalat ied mereka hanya minum seteguk teh manis dan sepotong kue sebagai tanda bahwa pagi itu mereka tak lagi berpuasa, maka acara makan kali ini adalah makan yang sebenarnya. Nasi, ketupat, opor ayam, dan aneka masakan khas lebaran lainnya tersaji meriah di meja. Acara makan bersama di hari lebaran menjadi salah satu yang sangat dinantikan sebelum melanjutkan serangkaian acara di hari yang fitri.

Setelah acara di rumah dirasa cukup, tiba waktunya untuk bersilaturrahim ke rumah tetangga, saudara, kerabat, dan juga sahabat. Selain bapak dan ibu Fulan yang tetap tinggal di rumah - menunggu tamu yang datang - seluruh anggota keluarga telah siap untuk berkeliling kampung. Kecuali Fulan yang tetap ‘adem ayem’ dan sama sekali tidak tertarik dengan apa yang dilakukan anggota keluarga lainnya. Bahkan dengan tegas Fulan menolak ketika salah satu anggota keluarga mengajaknya berkeliling kampung, bersilaturrahim dari satu rumah ke rumah lainnya, memohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan yang mungkin terjadi tanpa disadari, seperti tradisi mereka saat idul fitri.

"Nggak ah, aku mau di rumah saja. Nggak perlu meminta maaf, setahun ini aku kan tidak pulang kampung, jadi aku nda punya dosa dengan orang-orang di sini," begitu Fulan beralasan. Serius dan tanpa ada penyesalan sedikit pun.

Astaghfirullah. Apakah anda pernah mendengar ucapan seperti itu? Semoga kita tidak pernah mengucapkan kata-kata yang senada dengan itu, meskipun dengan maksud hanya untuk bercanda.

Tidak pernah pulang setahun atau tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun, sesungguhnya tidaklah menjadi jaminan bahwa kita tidak memiliki dosa atau kesalahan terhadap orang lain. Boleh saja beralasan tidak pernah bertemu sekian lama, tapi bisakah menjamin bahwa selama itu pula tak ada satupun dosa lisan atau hati kita kepada orang lain yang tak bertemu muka, bertatap mata? Bagaimana jika ternyata kita pernah atau bahkan sering membicarakan aib seseorang yang secara fisik tak pernah berjumpa, apakah ini bukan sebuah dosa? Bukankah dosa kepada manusia hanya bisa ditebus dengan meminta maaf kepada yang bersangkutan?

Baiklah, bisa saja kita menjamin bahwa selama tidak berjumpa, tak pernah sekalipun membicarakan kejelekan, kekurangan, atau aib orang lain, tapi bagaimana halnya dengan silaturrahim. Apakah meninggalkan silaturrahim dengan sengaja dan tanpa halangan sehingga menjadikan renggang atau putusnya jalinan silaturrahim bukan sebuah dosa?

Mari kita simak dua hadits tentang silaturrahim berikut ini;

• Hadis riwayat Aisyah RA, ia berkata,
Rasulullah SAW bersabda : Rahim (tali persaudaraan) itu digantungkan pada arsy, ia berkata : Barangsiapa yang menyambungku (berbuat baik kepada kerabat), maka Allah akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutuskan aku, maka Allah pun akan memutuskannya. (Shahih Muslim No. 4635)

• Hadis riwayat Jubair bin Muth`im RA,
Dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda : Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan. (Shahih Muslim No. 4636)

Tidak semua orang memanfaatkan lebaran dengan memaksimalkan silaturrahim, karena berbagai alasan. Abdullah misalnya. Lebaran kemarin ia tidak bisa bersilaturrahim dengan banyak keluarga dan tetangga saat lebaran hari pertama karena kondisi kesehatan sang istri yang tidak memungkinkan. Kondisi fisik sang istri yang terus melemah memaksa mereka harus tinggal di rumah dan hanya menitip salam kepada sang kakak untuk tetangga dan saudara mereka lainnya.

Baik Fulan ataupun Abdullah, keduanya sama-sama tetap berdiam diri di rumah ketika sebagian besar orang saling bersilaturrahim di hari lebaran. Tapi alasan Fulan dan Abdullah jelas berbeda. Sedikit pun Abdullah tidak berfikir bahwa dia tak perlu meminta maaf dengan tetangga dan saudara karena merasa tak mungkin memiliki dosa setelah sekian lama tak saling berjumpa, seperti apa yang dipikirkan si Fulan. Juga sebenarnya Abdullah sangat ingin bersilaturrahim dengan tetangga dan saudara yang setahun lamanya tak saling berjumpa atau bertukar berita. Tidak seperti Fulan yang menempatkan silaturrahim jauh di bawah jadwal kegiatannya selama lebaran, yang hampir dipenuhi dengan kegiatan tidak penting dan sekedar memuaskan diri sendiri.

Tak sedikit pun Abdullah merasa ketidakhadiran mereka di rumah tetangga atau saudara karena merasa tak punya dosa. Meski setahun tak mudik dan tak saling berjumpa, tak bisa menjamin mereka bersih dari salah bahkan dosa. Harus diakui, meski mata tak saling melihat dan tangan tak saling berjabat, tapi bibir terus saja berucap, dan terkadang membicarakan aib tetangga atau saudara yang ada di kampung ketika sedang berkumpul dengan kerabat yang ada di perantauan. Astaghfirullah!

Juga, tak sedikit pun terbersit dalam hati mereka untuk merenggangkan apalagi memutuskan tali silaturrahim. Jika bukan karena faktor kesehatan yang mengkhawatirkan, ingin sekali mereka berkunjung dari satu rumah ke rumah lainnya, merajut indahya persaudaraan, memohon maaf sekaligus memaafkan, menikmati suguhan tuan rumah, dan alangkah bahagianya bila bisa berbagi, berbagi kebaikan, kebahagiaan, informasi, dan jika mungkin berbagi rezeki. Namun, sematang apapun rencana mereka siapkan, seindah apapun perjumpaan mereka bayangkan, Allah-lah yang akhirnya menentukan, tak semuanya berwujud menjadi kenyataan. Satu hal yang mereka pertahankan, ketidakhadiran mereka di rumah tetangga dan juga kerabat, bukan karena tak peduli dengan silaturrahim atau karena merasa tak punya dosa, jauh berbeda dengan yang ada dalam benak Fulan.

Bagaimana dengan lebaran yang anda dan keluarga rayakan? Maksimalkah silaturrahim yang anda lakukan? Andai tidak semuanya tercapai , semoga saja bukan karena anggapan bahwa selama kita tidak pulang kampung, tidak bertemu muka dengan tetangga dan keluarga berarti tak ada sedikit pun dosa dan kesalahan dalam diri, tapi karena keterbatasan waktu dan mungkin juga tenaga. Hati-hatilah dengan anggapan semacam ini, sebab merasa diri bersih dan tidak memiliki salah adalah sebuah kesombongan. Dan waspadalah ketika silaturrahim dikesampingkan, ditinggalkan dengan berbagai dalih yang sebenarnya hanya untuk membenarkan diri sendiri sehingga menyebabkan renggang atau bahkan putusnya silaturrahim, sesungguhnya adalah sebuah kesalahan. Bahkan bisa menjadi dosa pertama di hari yang suci.

*Gambar dipinjam dari sini

Cinta

Posted by Abi Sabila on Rabu, Oktober 06, 2010

Cinta
Cipt.: Anang
Dipopulerkan oleh: Anang & Krisdayanti

Berlabuh ku di pantai indah hatimu
Terkurung ku di damai putih cintamu

Duka sirnalah duka
Suka berbalut cinta

Usai sudah sendiriku
Menangis ku di pelukanmu

*Cintaku tak akan jauh darimu
Cintaku menyatu balut kasihmu
Cintaku cintamu tak akan pudar
O.. o.. untuk selamanya

Bahagia dirasakan berdua
Kesedihan dinikmati bersama

Cinta rangkulah cinta
Asa raih bahagia


Sahabat, mungkin sahabat merasa heran dengan postingan kali ini karena sedikit berbeda dengan postingan biasa atau sebelumnya. Memang, postingan kali ini disengaja beda, bukan untuk narsis-narsisan tapi sebagai sebuah ikhtiar untuk mendapatkan tali asih berupa modem atau langganan hosting + domain selama setahun + buku, atau langganan hosting + domain selama setahun atau paling tidak sebuah buku menarik dan bermafaat. Hadiah-hadiah tersebut disediakan oleh Pak Dhe Cholik sebagai tali asih atas kontes Lagak dan Lagu di BlogCamp.

Sahabat ingin mendapatkan salah satu dari tali asih di atas? Segera ikuti kontes ini sebelum 30 Oktober 2010. Keterangan lebih lengkap mengenai kontes ini bisa dilihat langsung di BlogCamp.

Bismillahirrohmanirrohim, semoga ikhtiar ini membawa hasil. Amin.

Catatan Lebaran 1: Persiapan Lebaran

Posted by Abi Sabila on Kamis, September 30, 2010
Bulan suci Ramadhan, bulan penuh kemuliaan telah berakhir, ditandai dengan hadirnya Idul Fitri atau lebaran, hari penuh kemenangan. Dan perlahan lebaranpun berlalu, menyisakan banyak kenangan, pengalaman sekaligus pelajaran. Di antaranya yang pertama adalah tentang persiapan yang dilakukan menjelang datangnya hari lebaran.

Putri misalnya. Remaja modis ini melakukan persiapan menyambut datangnya lebaran dengan berburu pakaian ke pasar Tanah Abang. Lebaran kurang seminggu, lima setel baju baru telah berpindah ke dalam lemari pakaiannya. Putri begitu semangat menyambut lebaran, apalagi lebaran kali ini adalah lebaran pertama semenjak ia memutuskan untuk berjilbab. 

Begitupun Putra. Meski koleksi celana jeansnya sudah berjejal di lemari, dengan uang THR yang diterimanya Putra membeli dua buah celana jeans, satu baju batik, kaos dan sebuah jacket warna hitam, warna kesukaannya. Tak lupa pula, Putra membeli sepasang sepatu baru, sama seperti Putri yang juga melengkapi koleksi sepatu sendalnya khusus untuk lebaran.

Bila Putra dan Putri serta anak-anak remaja lainnya sibuk dengan baju dan sepatu baru untuk lebaran, maka berbeda halnya dengan bu Siti. Sejak pertengahan Ramadhan, bu Siti mulai membuat aneka kue kering untuk lebaran. Tak kurang dari sepuluh toples kue hasil buatannya sendiri tersimpan rapi dalam lemari. Selain itu, beberapa kaleng biscuit dengan merk-merk terkenal dan beberapa botol sirup aneka rasa juga telah menjadi penghuni baru di dalam lemari, siap untuk dijadikan kepada para tamu yang bersilaturahmi di hari lebaran. 

Tak mau ketinggalan, pak Anto juga melakukan persiapan menyambut datangnya hari lebaran dengan mengecat ulang tembok rumahnya agar terlihat lebih cerah. Beberapa perabot seperti sofa dan lemari hias dijemur dan dibersihkan. Bahkan pak Anto membeli lagi satu setel sofa baru untuk memastikan bahwa semua tamunya yang datang bisa mendapatkan tempat duduk. Setiap tahun, keluarga mereka memang selalu mengadakan open house, dan tamu-tamu yang datang bukan saja para tetangga, tapi juga rekan bisnis dan kerabat mereka yang tinggal di lain kota. 

Berbeda dengan persiapan yang dilakukan oleh si Adi. Bujangan yang setiap harinya berkerja sebagai operator di sebuah perusahaan ini tidak begitu repot dengan baju baru atau juga sepatu. Baginya baju dan sepatu baru tidaklah begitu penting. Begitupun dengan makanan, minuman dan juga perabotan, tak masuk dalam daftar yang ia persiapkan. Jauh lebih penting baginya adalah memastikan bahwa sepeda motornya siap untuk dibawa mudik ke kampung halaman, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Ketika ia bekerja sore, pagi-pagi sekali ia sudah pergi ke bengkel, ikut antri dengan puluhan orang yang menservice motornya untuk mudik lebaran. 

Persiapan mudik juga dilakukan oleh bu Ani dan keluarganya. Sebagai keluarga yang sangat sederhana, mereka memilih mudik dengan naik kereta api. Awal sepuluh hari ketiga, bu Ani mengajak anak-anaknya pulang kampung untuk menghindari kemacetan dan tingginya ongkos perjalanan. Resiko anak-anak bolos sekolah dan tertinggal pelajaran terpaksa mereka abaikan, yang terpenting bagi mereka adalah bisa berlebaran dengan keluarga di kampung dengan biaya yang terjangkau kantong mereka yang tipis. 

Hampir senada dengan persiapan yang dilakukan oleh keluarga pak Karyo. Suami istri yang berstatus karyawan kontrak sebuah perusahaan kecil, jelas tidak bisa pulang lebih awal sebelum hari libur perusahaan tiba. Sebagai solusinya, mereka rela antri tiket sejak subuh guna mendapatkan tiket bus ekonomi yang paling murah. Tak apalah berdesakan asalkan anggaran mudik dan balik nanti bisa mereka selamatkan. 

Kesibukan-kesibukan seperti di atas dengan mudah kita dapati di masyarakat menjelang datangnya hari lebaran. Bahkan, barangkali kita salah satu yang melakukannya. Meski tak ada tuntunan atau ketentuan agama yang mengharuskan melakukan itu, namun begitulah faktanya. Orang-orang begitu berantusias, bersemangat melakukan berbagai persiapan untuk menyambut datangnya Idul Fitri, hari yang sangat dinanti-nanti. Hari penuh ampunan, hari kemenangan setelah sebulah penuh melakukan puasa, menahan dan mengendalikan hawa nafsu. 

Semakin mendekati hari lebaran, persiapan yang dilakukanpun semakin terlihat nyata. Hampir setiap orang, di setiap tempat melakukan aktifitas yang berkaitan dengan hari lebaran. Seolah-olah, apapun yang dilakukan bisa dipastikan untuk lebaran. Apa-apa untuk lebaran, semuanya untuk lebaran. Bagitulah nyatanya. Namun semestinya persiapan yang dilakukan janganlah sampai dipaksakan, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan.

Tanpa mengecilkan makna serta keagungan hari lebaran, perlu diingat bahwa kemeriahan hari lebaran hanya akan berlangsung satu atau dua hari saja. Hari ketiga dan selanjutnya, kemeriahan lebaran akan terus berkurang, berganti dengan kelelahan dan juga kesibukan baru seperti persiapan balik ke kota dan tempat kerja masing-masing. Begitulah adanya. Berhari-hari persiapan dilakukan, beratus ribu bahkan berjuta uang dibelanjakan, semua untuk melengkapi kebahagiaan di hari lebaran. Tidak sepenuhnya salah, selama dilakukan dalam batas wajar dan tidak melanggar aturan agama. 

Melihat ‘kehebohan’ orang-orang dalam melakukan persiapan menjelang lebaran, timbul sebuah pertanyaan yang agak menghawatirkan. Bagaimana dengan persiapan untuk masa depan di akhirat kelak, apakah ‘seheboh’ persiapan ketika menyambut hari lebaran. Kita tentunya tidak ingin mendapatkan kemenangan, kebahagiaan di dunia saja, tapi di akhirat kelak kita ingin mendapatkan kemenangan, kebahagiaan yang abadi. Semestinya persiapan yang kita lakukan jauh lebih matang dibanding dengan persiapan untuk kebahagiaan sesaat di dunia. 

Sangat disayangkan jika persiapan yang dilakukan masihlah berorientasi pada kenikmatan dunia saja. Sangat rugi bila kita hanya sibuk dengan sesuatu yang terlihat oleh mata, sesuatu yang dapat dirasakan di dunia, padahal sifatnya hanya sementara. Untuk meraih kemenangan, kebahagiaan di akhirat yang kekal, sangat dibutuhkan persiapan yang matang bahkan juga panjang. Bukan pakaian, makanan, minuman dan bukan pula perabot serta kendaraan, tapi amal ibadah yang harus dibenahi dan dicukupi. Semestinya, di tengah-tengah kesibukan persiapan lebaran tidak kemudian menjadikan lupa akan persiapan dan perbekalan untuk kemenangan di akhirat kelak. 

Jika sudah cukup pakaian, makanan dan minuman, untuk apa harus menambah lagi, membeli lagi. Dengan rizki yang kita miliki, semestinya kita berbagi dengan dengan orang lain. Jika kendaraan kita masih lega, mengapa tidak mengajak saudara yang terpaksa berebut tiket, berdesakan dalam kendaraan umum yang jauh dari rasa aman dan nyaman. Alangkah indahnya bila persiapan menyambut datangnya lebaran juga diorientasikan sebagai persiapan untuk menyambut kemenangan, kebahagiaan di akhirat. 

Bagaimana dengan persiapan yang anda lakukan kemarin, masihkah sebatas untuk yang terlihat mata, terasa di dunia saja, ataukah sudah mengarah pada persiapan untuk sebuah kemenangan dan kebahagiaan yang abadi di akhirat kelak? Jika bisa dua-duanya, mengapa hanya mengambil salah satunya? Jika yang diambil hanya untuk dunia saja, tentu sangatlah rugi. Semoga kita bisa meraih kemenangan, merasakan kebahagian bukan saja di dunia, tapi juga di akhirat, di dalam syurga selamanya. Amin.

Catatan: nama-nama di atas bukanlah nama yang sebenarnya.

Gambar dipinjam dari sini

Kembali

Posted by Abi Sabila on Selasa, September 21, 2010
Assalamu’alaikum, apa kabar sahabat dan juga kerabat?

Alhamdulillah wa syukurillah, puji syukur tiada hentinya kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas seluruh nikmat dan karunia Nya. Sholawat serta salam tiada putus kita persembahkan kepada junjungan alam Rusululloh SAW, keluarga, para sahabat dan semoga syafaatnya mengalir kepada seluruh pengikutnya sampai akhir zaman, termasuk kita. Insya Allah, amin.

Masih dalam suasana Idul Fitri, perkenankan kembali saya menghaturkan Selamat Idul Fitri 1431 H. Taqobbalallohu minna wa minkum, semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT. Mohon maaf lahir dan batin, semoga kita bisa meraih dan mempertahankan ke-fitri-an ini, fitri dalam arti benar-benar kembali kepada kesucian layaknya bayi yang baru dilahirkan, bukan fitri dalam arti sekedar kembali makan pagi. Insya Allah, amin.

Alhamdulillah, mulai hari ini saya bisa kembali melaksanakan tugas dan pekerjaan saya. Juga menyambung silaturahim dengan sahabat dan kerabat melalui dunia maya. Banyak pelajaran, pengalaman dan kenangan yang saya dapatkan selama mudik lebaran. Namun, sebelumnya saya mohon maaf karena untuk saat ini saya belum bisa terlalu banyak berbagi kisah ataupun hikmah kepada sahabat dan juga kerabat.

Sebaliknya, jika tidak memberatkan saya atas nama pribadi dan juga keluarga, kembali mohon doa dari sahabat dan kerabat semua untuk kesembuhan istri saya ( Sunarsi binti Sunar ) yang kembali menjalani perawatan di rumah sakit sejak 16 September 2010. Hasil pemeriksaan medis menyebutkan bahwa kadar HB istri saya hanya 4.4 , kadar ureum : 338, dan kadar creatinin: 19.8. ( Data pada akhir bulan Juli lalu, ketika pertama kali dirawat di rumah sakit, kadar HB : 4.0, ureum: 208, creatinin : 8.77 ). Inalillahi wa inna ilaihi rojiuun. Sebuah fakta yang sangat berat, namun bagaimanapun harus kami terima dengan ikhlas dan kami hadapi dengan sabar dan tabah. Insya Allah

Secara medis, dokter mengatakan tidak ada pilihan lain kecuali segera dilakukan HD atau cuci darah. Namun saya, seluruh keluarga dan terutama pasien sendiri tidak ingin menempuh jalan ini. Bukan mengecilkan saran dan anjuran dokter - toh pada kenyataannya kami tetap mendatangi rumah sakit untuk pertolongan pertama - namun kami berdua dan juga seluruh keluarga dari kedua belah pihak, berharap dengan ijin Allah, dengan kuasa Allah, dengan kehendak Allah, dan dengan kasih sayang Allah akan mendapatkan kesembuhan dengan jalan lain.  

Bismillahirrohmairrohiim, kami sepakat untuk mencari pengobatan yang lain dengan prioritas pengobatan yang sesuai syariah Islam. Mohon doa dari sahabat dan juga kerabat, semoga Allah berkenan mengabulkan ikhtiar kami, membimbing kami, melindungi kami dan memberikan kesembuhan pada orang yang sangat kami cintai. Amin.

Terima kasih kembali kami haturkan, mohon maaf bila dianggap merepotkan. Bukan, bukan bermaksud melibatkan sahabat dan kerabat dalam setiap ujian yang kami hadapi, tapi kami sadar bahwa kami hamba yang lemah, kami membutuhkan do’a kalian semua. Dalam kepanikan, terkadang kami khawatir do’a kami kurang khusyuk. Insya Allah, semakin banyak yang mendoakan dan dengan doa yang tulus ikhlas dari sahabat dan kerabat semua, Allah berkenan mengabulkan. Amin ya Allah ya robbal ‘alamin.

Selamat Idul Fitri 1431 H

Posted by Abi Sabila on Senin, September 06, 2010



catatan:
Postingan ini sengaja dilakukan lebih awal karena saya khawatir akan terlambat melakukan, mengingat beberapa tugas yang harus saya selesaikan sebelum lebaran dan juga persiapan mudik lebaran ke kampung halaman ( Kebumen ). Mohon maaf apabila saya tidak sempat berkunjung balik ke blog saudara-saudari semua.  Insya Allah, saya akan berusaha semaksimal mungkin, namun apabila ternyata tidak semua blog saudara dan saudari saya kunjungi, semoga tidak mengurangi kebahagiaan di hari kemenangan ini.

Mari saling mendoakan, semoga puasa kita, amal ibadah kita di bulan Ramadhan diterima Allah SWT, dan saatnya tiba Idul Fitri kita benar-benar kembali menjadi suci dan gelar muttaqin menjadi milik kita. Semoga pula, usai libur lebaran nanti kita bisa kembali menjalin silaturahmi, saling berbagi, berbagi kebahagiaan, kebaikan, ilmu dan juga informasi. Insya Allah, amin ya Allah ya robbal 'alamin.

Sebab Cinta Tak Harus Berkata

Posted by Abi Sabila on Jumat, September 03, 2010
Novel Sebab Cinta Tak Harus Berkata karya Akhi Dirman plus tanda tangan asli sang penulis ini, insya Allah tidak lama lagi akan berada di tanganku, karena tulisan berjudul Dirgahayu Negeriku, Diberkahi Bangsaku terpilih sebagai salah satu pemenang kontes menulis bertema “Kerupuk Tujuh Belasan” yang diadakan oleh mbak Anaz, blogger Indonesia yang kini tinggal di Malaysia. 

Ada tiga buah novel yang disediakan oleh mbak Anaz, bekerja sama dengan Akhi Dirman ( sang penulis novel, juga juri dalam kontes Berbagi Kisah Sejati beberapa waktu lalu ). Sebuah anugerah besar bila kemudian aku bisa mendapatkan salah satunya. Alhamdulillah.

Ada tiga tulisan yang sebelumnya sudah kupersiapkan untuk menyambut HUT RI ke 65 kemarin sekaligus untuk ‘mengantisipasi’ ajakan posting bersama / kolaborasi dalam rangka peringatan HUT RI tanggal 17 Agustus, seperti ajakan Pak Iwan untuk posting bersama dalam rangka peringatan hari Anak Nasional , 23 Juli lalu. Pertama, tulisan berjudul Semerah Agustusan, Seputih Ramadhan. Tulisan ini rencananya akan dikirim ke eramuslim.com dan kotasantri.com , sekaligus diposting di abisabila.multiply.com . Kedua, tulisan berjudul Anugerah Ramadhan, Amanah Kemerdekaan. Tulisan ini dipersiapkan untuk diposting di abisabila.wordpress.com sesuai dengan format tulisan yang merupakan dialog antara Pa’e dan Bu’e. Dan tulisan ketiga adalah Dirgahayu Negeriku, Diberkahi Bangsaku. Tulisan ini dipersiapkan khusus untuk diposting di abisabila.blogspot.com

Manusia boleh berencana dan berusaha, tapi Allah lah yang menentukan hasil akhirnya. Tiga tulisan sudah dipersiapkan namun belum satupun datang ajakan untuk melakukan posting kolaborasi ( ternyata sebenarnya ada ajakan dari  Trimatra, tapi terlambat kuketahui ). Tak mungkin tulisan yang meski tidak berkualitas ini disia-siakan. Sesuai rencana, ketiganya aku posting di tempat tujuan masing-masing, Alhamdulillah, tulisan berjudul Semerah Agustusan, Seputih Ramadhan berhasil dipublikasikan di  eramuslim  pada tanggal 16, sedang di  kotasantri  pada tanggal 17 nya. Terbayar sudah usahaku. 

Dan rupanya Allah masih memberikan bonus untukku. Secara tidak terencana, aku mampir di blog mbak Anaz yang ternyata bukan mengajak posting bersama, tetapi mengadakan kontes menulis. Acara ini konon dilatar belakangi ketidakmungkinan mengadakan lomba makan kerupuk seperti tahun-tahun sebelumnya. Secara sedang puasa, begitu katanya. Sedikit nekat ( benar-benar nekat malah ), akhirnya aku coba untuk ikut kontes ini, dan kepalang tanggung, nekat aku daftarkan ketiga-tiganya. 

Dua kali mengikuti kontes di blog mbak Anaz, dua kali pula aku mendapatkan hadiah buku. Alhamdulillah, semoga ini diberikan bukan sekedar karena rasa kasihan, tapi karena dianggap layak menerima. Semoga yang menyediakan, yang memberikan, dan yang menerima hadiah ini sama-sama diberkahi Allah SWT dan bisa mengambil hikmah serta kebaikan dari kegiatan ini. Amin, insya Allah.

Terima kasih untuk mbak Anaz, juga untuk  Akhi Dirman. Sebuah penghargaan besar bagi saya menerima hadiah ini.

Lebaran = Bermaafan, Silaturahmi = Berbagi

Posted by Abi Sabila on Rabu, September 01, 2010
Berlama-lama di dalam pusat perbelanjaan bagiku bukanlah hal yang selalu menyenangkan, tapi malah menguji kesabaran dan juga keimanan. Betapa tidak, hanya untuk membeli satu dua kebutuhan, terkadang harus berdiri dalam antrian panjang dan memakan waktu yang cukup lama. Kalau soal hemat - konon harga di pusat perbelanjaan lebih murah dibanding harga di warung sekitar rumah - rasanya tidak terlalu bisa dipastikan, sebab seringkali justru terpancing promosi hingga membeli sesuatu yang sebenarnya tidak atau belum terlalu dibutuhkan. Alasan yang sebenarnya mengapa kami sesekali berbelanja di supermarket hanyalah karena tidak perlu berpindah-pindah tempat untuk mendapatkan aneka macam kebutuhan.

Tapi, saat itu aku bersyukur sekali berada diantara para calon pembeli yang berdiri dalam antrian panjang di depan kasir. Sebuah pelajaran berharga kudapat dari seorang laki-laki yang sederhana dan bersahaja.

“ Belanjanya banyak sekali Pak, persiapan untuk mudik ?” tanyaku berbasa-basi pada laki-laki berbaju biru yang berdiri di depanku. 

Sebelum menjawab, laki-laki itu tersenyum padaku. “ Tidak kok, Mas. Tahun ini kami tidak mudik “ jawabnya ramah. Di akhir jawaban, sebuah senyum ramah dan bersahabat kembali ia berikan. 

“ Kenapa Pak?” tanyaku spontan. Sesaat kemudian aku merasa menyesal dengan kelancanganku menanyakan hal ini pada seseorang yang baru pertama kali bertemu, bahkan namanyapun aku belum tahu. Sungguh, aku tiada bermaksud memasuki area privacinya, pertanyaanku hanya reflek saja. 

Aku ingin buru-buru meminta maaf, tapi laki-laki itu sudah lebih dulu menjawab. Dengan suara yang tak berubah – tetap ramah – laki-laki itu bercerita mengapa tahun ini dia dan keluarganya tidak merayakan lebaran bersama keluarga besarnya di kampung. 

Semula laki-laki yang menurut perkiraanku umurnya belum sampai empat puluh tahun ini berencana merayakan Idul Fitri di kampung halamannya, sebuah kota kecil di Jawa Tengah seperti tahun sebelumnya. Namun, indah yang mereka bayangkan sepertinya kali ini tidak akan menjadi kenyataan. Sebuah ujian hidup baru saja mereka jalani. Ujian yang erat kaitannya dengan biaya, hingga rencana yang sudah dipersiapkan berubah semuanya. Dan keputusan untuk tidak mudik adalah keputusan yang terbaik bagi keluarga mereka. Aku mendengar penuturan laki-laki ini seperti mendengarkan ceritaku sendiri. Ada kesamaan antara aku dan dia. Ada kemungkinan tahun ini aku dan keluargaku juga batal merayakan idul fitri bersama keluarga di kampung, dengan alasan yang senada.

“ Kalau tidak mudik, tapi kok belanja kuenya banyak banget. Apa mau dikirim lewat pos? “ Aku kembali bertanya, dan lagi-lagi bukan maksudku untuk tahu terlalu jauh tentang laki-laki ini. Pertanyaanku muncul karena aku melihat dua kardus biscuit dalam trolley yang didorongnya. 

Laki-laki itu mendorong kerangjang belanjaannya, merapat pada calon pembeli di depannya. Aku mengikuti apa yang ia lakukan. Posisi kamipun kembali berdekatan. Dengan tutur kata seramah yang pertama, laki-laki ini menceritakan untuk apa ia membeli biskuit sebanyak itu. Bukan untuk dikirim kepada keluarganya di kampung, melainkan untuk dibagi dengan saudara-saudaranya sebagai buah tangan saat mereka bersilaturahmi lebaran nanti. Selain keluarga besarnya di kampung, laki-laki ini juga mempunyai banyak saudara sepupu yang kebetulan tahun ini tidak mudik. Ada juga yang sudah beberapa tahun tidak pernah lebaran di kampung karena mereka sudah menetap di sini.

Ada satu yang menarik perhatianku saat laki-laki ini mengatakan bahwa kue-kue itu akan ia bagi-bagikan kepada saudaranya sambil bersilaturahmi nanti. Bukankah alasan dia tidak mudik karena masalah biaya, mengapa dia memaksakan diri membeli kue sebanyak itu? Bukankah silaturahmi tidak harus dengan membawa kue atau apapun sebagai buah tangan? Pastilah laki-laki ini seorang yang murah hati, senang berbagi.

“ Kami memang tidak mudik tahun ini karena biaya yang tidak mencukupi, atau kalau sedikit dipaksakan sebenarnya sih bisa saja, hanya kami memiliki pertimbangan lain. Insya allah, kami akan mudik setelah lebaran, segera setelah kondisi keuangan kami normal kembali. Dan kalau untuk sekedar membeli kue-kue ini, dengan rezeki yang ada kami masih bisa membelinya. Kami ingin sekali-sekali tangan kami berada di atas “ jawab laki-laki ini tanpa ada kesan sombong sedikitpun.

“ Ada beberapa saudara sepupu kami yang tahun ini juga merayakan lebaran di sini. Mereka mempunyai anak yang masih kecil-kecil. Tak tega rasanya kalau kami datang tanpa membawa sesuatu buat mereka. Kalau dengan membawa buah tangan bisa membuat silaturahmi menjadi lebih berkesan, mengapa tidak? Bagaimanapun kami juga ingin berbagi rezeki, insya Allah kami ikhlas “ dia melanjutkan.

Aku menyimak semua yang dikatakan laki-laki ini dengan rasa kagum. Tak kusangka, dibalik kesederhanaanya, jiwa dan semangat berbaginya begitu tinggi. Jarang ada orang yang memikirkan orang lain sampai sejauh itu, apalagi ketika rencana-rencananya sendiri gagal karena masalah biaya.

Aku teringat dengan pak Karim dan istrinya yang berkeliling kampung demi mendapatkan sesuatu yang pantas mereka jadikan buah tangan saat silataurahmi lebaran. Saat itu hari terakhir puasa, tapi mereka belum memiliki apapun yang bisa mereka bawa saat bersilaturahmi esok hari. Sebenarnya bisa saja mereka bersilaturahmi tanpa membawa apapun, toh silaturahmi tidak mengharuskan itu dan saudara-suadara merekapun paham dengan kondisi keluarganya. Namun pak Karim dan sang istri bersikeras untuk membeli kue ala kadarnya, meski harus mendatangi beberapa toko hingga ke pelosok kampung. Kalau mereka punya uang lebih, tentunya mereka tidak perlu mendatangi toko hingga ke sudut kampung. Mereka tinggal datang ke minimarket atau supermarket, pilih kue mana yang diinginkan. Tapi masalahnya adalah uang yang mereka miliki tidak cukup untuk kue berkelas semacam itu. Dalam keterbatasan, mereka tetap ingin berbagi, dengan cara mereka, sesuai dengan uang yang mereka miliki. 

Bukan, sama sekali bukan karena gengsi. Apa yang mereka lakukan adalah sama, ingin sesekali merasakan tangan di atas. Mereka tidak mau keterbatasan ekonomi menghalangi mereka untuk memberikan rasa bahagia pada orang lain. Mereka memaknai lebaran sebagai saat yang tepat untuk saling memaafkan sekaligus mempererat silaturahmi. Dan silaturahmi yang mereka inginkan adalah silaturahmi yang berkesan, salah satunya dengan memanfaatkan silaturahmi sebagai momen untuk berbagi. Berbagi kebahagiaan, kebaikan dan juga berbagi rezeki. Bagaimana menurut anda?

Gambar dipinjam dari sini

Berat Ringan Tergantung Ilmu

Posted by Abi Sabila on Senin, Agustus 30, 2010
Pa’e dan Bu’e baru saja selesai sholat tahajud ketika jam weker di atas meja berbunyi. Kriiiiing............jeritan weker tua itu semakin lama semakin nyaring. Bu’e beranjak mematikan jam weker bulat bergambar burung hantu, kemudian melangkah ke dapur untuk menyiapkan makan sahur.

Setiap malam sebelum tidur, Pa’e tak lupa menyetel jam weker kesayangannya agar berbunyi tepat jam 03.30. Tapi selalu saja Pa’e dan Bu’e bangun lebih dulu, setengah jam sebelum jam weker menjalankan tugasnya. Mereka sudah terbiasa bangun malam dan sholat tahajud. Kalaupun Pa’e tetap menyetel jam weker, itu hanya sekedar untuk berjaga-jaga agar mereka tidak melewatkan makan sahur yang penuh barokah.

“ Tumben suasana malam ini sepi, apa tetangga sudah pada sahur? Jangan-jangan mereka belum bangun Bu’e?” tanya Pa’e sambil meminum teh manis yang sudah disiapkan Bu’e sebelum mereka sholat. Teh panas itu kini sudah menjadi hangat-hangat nikmat.

“ Si Tono malam ini kerja malam, dia sahur di tempat kerjanya. Kalau si Tini jam dua tadi aku dengar dia sudah bangun, dan mungkin sekarang sudah tidur lagi. Kalau si Toni belakangan memang jarang makan sahur, dia lebih mberatin tidur ketimbang sahur, katanya dia kuat puasa tanpa harus sahur “ jawab Bu’e sambil menata makan sahur mereka.

“ Lho, kalau kuat sih aku rasa banyak orang yang kuat puasa tanpa harus sahur. Tapi sahur itu kan sunnah rosululloh. Anggota tubuh kita masing-masing memiliki hak. Ketika ngantuk, mata kita berhak untuk ditidurkan. Begitupun perut kita memiliki hak untuk diisi makanan dan minuman. Insya Allah, sahur itu banyak membawa manfaat dan barokahnya. Misalnya, sebelum sahur kita bisa sholat malam dulu. Ini kesempatan untuk melatih kita yang masih sulit bangun malam untuk sholat. 

Kemudian rosululloh mencontohkan kita untuk mengakhirkan sahur, ini juga ada hikmahnya. Dengan mengakhirkan sahur mendekati waktu shubuh, kita bisa melaksanakan sholat shubuh tepat pada waktunya. Sambil menunggu waktu shubuh tiba, kita bisa gunakan untuk membaca Al Quran. Berbeda ketika kita sahur masih terlalu malam, biasanya kita akan tidur lagi dan jarang yang bisa bangun untuk sholat shubuh tepat waktu. Selain itu juga, kalau kita mengakhirkan makan sahur, ketika siang kita tidak cepat merasa lapar dan lemas, sehingga kita bisa melaksanakan aktifitas kita dengan badan lebih segar. Dan kondisi seperti ini jelas membuat ibadah kita bisa lebih khusyuk lagi. 

Jadi sahur itu bukan sekedar urusan makan dan minum saja, ada banyak manfaat dan keberkahan jika kita tahu hikmahnya “ panjang lebar Pa’e menjelaskan, tapi kenyataanya memang masih banyak orang yang seperti ‘mengecilkan’ manfaat sahur. Banyak alasan, padahal seandainya tahu betul rahasia dari sunah nabi ini rasanya tak seorangpun akan melewatkan makan sahur.

Bu’e kini telah selesai menyiapkan hidangan. Nasi, sayur kangkung kesukaan Pa’e, beberapa potong tahu dan tempe goreng, serta irisan timun kini siap mereka santap. Ketika Pa’e mulai menyendok nasi, tiba-tiba datang salah satu tetangga mereka. Bu’e beranjak menemui sang tamu yang hanya berdiri di depan pintu. Sepertinya sang tamu terburu-buru karena dia juga belum makan sahur. Sesaat kemudian Bu’e kembali dangan doa potong ayam goreng di tangan kanan dan semangkuk sayur sop di tangan kirinya. Alhamdulillah, rupanya sang tamu datang membawakan rejeki untuk Pa’e dan Bu’e.

“ Siapa yang ngasih sayur sop dan ayam goreng ini Bu’e? “ tanya Pa’e sambil mengambil sepotong ayam goreng. Sepertinya sang tetangga tahu betul kalau Pa’e sangat suka dengan paha ayam.

“ Mbak Tina, Pa’e “ jawab Bu’e sambil menyendok sayur sop dan mengambil ayam goreng. Bu’e merasa sangat bersyukur karena sang tetangga seolah tahu kalau Bu’e paling suka dengan ayam bagian sayapnya.

“ Mbak Tina yang pengantin baru itu?”

“ Iyo Pa’e. Semalam waktu Pa’e masih tadarusan di mushola, mbak Tina silaturahmi ke sini. Dia nanya soal.....”

“ Seperti yang dulu kita alami? “ Pa’e memotong kalimat Bu’e. Pa’e mengerling genit ke arah Bu’e.

“ Iyo Pa’e “ jawab Bu’e sambil tersipu. Tebakan Pa’e tepat, dan ini membuat Bu’e tersenyum malu.

Sebelas tahun silam, ketika Pa’e dan Bu’e baru menikah, mereka pernah mengalami masalah yang sebenarnya tidak berat namun karena kurangnya ilmu mereka tentang agama, seolah masalah yang mereka hadapi adalah masalah yang besar dan berat. Sebagai pengantin baru, Pa’e dan Bu’e menjadi bingung karena hampir setiap malam, sebelum sahur mereka ‘harus’ mandi besar dulu. Dingin dan malu dengan tetangga, itu yang menjadi masalahnya. Sebenarnya tak ada satupun tetangga yang membicarakan mereka, semuanya maklum dengan pengantin baru, tapi tetap saja mereka merasa tidak nyaman. Maklum, Pa’e dan Bu’e tinggal di rumah kontrakan dimana kamar mandinya berada di luar dan dipakai bersama-sama. Tak mungkin tak ada yang tidak tahu kalau mereka mandi, apalagi malam hari, suara cipratan air terdengar jelas hingga ke kamar tetangga. Beruntung pas pertengahan puasa, Pa’e memberanikan diri bertanya kepada seorang ustadz, dan akhirnya Pa’e dan Bu’e mendapatkan solusinya. Pa’e dan Bu’e bisa tetap menikmati masa-masa pengantin barunya dan tetap menjalankan puasa dengan aman dan nyaman.

“ Itulah pentingnya kita belajar agama. Tak ada ajaran Islam yang memberatkan dan mendzolimi umatnya, asal tahu ilmunya. Mandi besar setelah berhubungan suami istri itu wajib dilakukan ketika akan sholat atau membaca Al Quran, tapi tidak menjadi syarat ketika orang akan berpuasa. Tidak seperti sholat, puasa tidak mewajibkan sesorang suci dari hadas kecil atau besar. Puasa kita insya Allah tetap sah meskipun kita belum sempat mandi besar, asalkan persetubuhan dilakukan malam hari sebelum datang waktu subuh. Jadi tak harus kita mandi junub malam-malam sebelum sahur. Untuk menghilangkan makruh, sebelum makan dan minum disunahkan kita wudhu dulu. Mandi bisa kita lakukan setelah sahur, bahkan setelah datang waktu shubuhpun tidak masalah, asalkan kita hati-hati agar tidak ada air yang masuk ke dalam tubuh kita. Tapi agar lebih aman dan nyaman, mandi janabah bisa kita lakukan setelah sahur sebelum masuk waktu shubuh. Selain tidak terlalu dingin, bagi yang masih merasa malu dengan tetangga, hal ini bisa teratasi. Tapi sebenarnya sih kita tidak perlu malu, toh setiap orang yang sudah berkeluarga memaklumi hal ini. Berhubungan suami istri dengan pasangan yang sah adalah halal dan mandi wajib adalah aturan agama untuk mensucikan diri, lakukan semuanya karena Allah “ Pa’e mengulang apa yang didengarnya dari pak ustadz sebelas tahuh silam.

“ Harus diakui bahwa kurangnya ilmu sering membuat seseorang merasa berat melakukan ibadah, ibadah kita tidak maksimal, tidak sempurna atau bahkan bisa jadi apa yang kita lakukan sama sekali tak bernilai ibadah bahkan paling parah justru bisa menjadikan kita sesat. Meninggalkan sahur dengan sengaja, menggunjingkan orang lain, menunda-nunda berbuka puasa adalah karena kurangnya ilmu dan pemahaman tentang puasa. Memang, tidak sampai membatalkan puasa, tapi bisa mengurangi nilai puasa kita “ Pa’e menambahkan

“ Betul Pa’e. Aku juga sudah jelaskan sama mbak Tina. Alhamdulilah, mbak Tina bisa mengerti dan merasa senang sekali karena dia bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri, menikmati bulan madunya dan menjalankan puasa tanpa rasa ragu lagi. Barangkali, sayur sup dan ayam goreng ini sebagai ucapan terima kasihnya “ timpal Bu’e.

“ Alhamdulillah, Bu’e sudah berbagi ilmu dengan mbak Tina, dan kita jadi makan sahur dengan lauk istimewa. Semoga mbak Tina dan suaminya bisa menjalankan ibadah puasa dengan lebih mantap lagi. Tapi Bu’e nda lupa tho mengingatkan ke mbak Tina kalau melakukan hubungan suami istri siang hari di bulan puasa itu haram hukumnya, bahkan bisa kena kifarat ?”

“ Sudah, sudah aku jelaskan semua yang aku tahu tentang hal-hal yang bisa membatalkan, mengurangi pahala puasa dan sunah-sunah selama kita menjalankan puasa. Insya Allah, mbak Tina bisa memahami dan katanya dia dan suaminya akan lebih rajin lagi mengikuti pengajian. Dia baru sadar bahwa kebingungan mereka selama ini karena mereka kurang belajar agama, apa yang sebenarnya kecil mereka anggap besar dan sebaliknya masalah besar justru mereka anggap kecil “

“ Syukurlah kalau mereka sadar bahwa belajar agama itu sangat penting, disamping belajar ilmu dunia. Belajar dan menuntut ilmu adalah kewajiban, sejak kita masih dalam buaian hingga masuk ke liang kubur. Selama nyawa masih dikandung badan, wajib hukumnya kita belajar dan menuntut ilmu. Ilmu Allah tidak akan pernah habis kita pelajari, bahkan ketika lautan dijadikan tinta, daun-daun dijadikan kertas, dan ditambah lagi sebanyak itu, ilmu Allah tidak akan habis ditulis dan dipelajari “ Pa’e menutup percakapan mereka bertepat dengan terdengarnya tanda imsak dari masjid.

Bu’e segera merapihkan bekas makan sahur mereka, sementara Pa’e menggosok gigi dan siap-siap ke mushola. Pa’e sholat subuh berjamaah di mushola dilanjutkan dengan tadarus hingga matahari mulai meninggi sedangkan Bu’e sholat subuh di rumah dan tadarus hingga Pa’e pulang dari mushola. 

Gambar dipinjam dari sini

Tiket Mudik, Tiket Balik

Posted by Abi Sabila on Jumat, Agustus 27, 2010
Tak terasa bulan Ramadhan yang penuh nikmat dan barokah ini telah kita lewati setengah perjalanan. Bagaimana dengan puasa anda? Semoga tetap lancar dan makin sempurna, bukan sekedar tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan badan di siang hari saja. Amin, insya Allah.

Meski masih di pertengahan bulan Ramadhan, sebagian orang mulai mengumpulkan makanan, minuman dan juga pakaian untuk menyambut datangnya hari lebaran, hari kemenangan. Bagi mereka yang berencana merayakan lebaran di kampung halaman, persiapan sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari bahkan ada yang menyiapkan sebelum datang bulan Ramadhan. Mendatangi bengkel untuk memastikan kelayakan kendaraan yang akan dipakai untuk mudik atau ‘berburu’ tiket kendaraan umum bagi calon pemudik yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Salah satu yang melakukan hal itu adalah Ahmad. Dia sudah menyiapkan tiket bis untuk balik, jauh sebelum ia dan keluarganya berangkat mudik. 

“ Tiket balik? Mungkin yang dimaksud tiket mudik kali!” protes Anto saat itu. Anto mengira Ahmad salah menyebut tiket mudik dengan tiket balik.

“ Benar, tiket balik!” Ahmad meyakinkan. “ Aku baru saja nelpon kakakku di kampung agar memesankan tiket bus untuk kami balik ke sini usai lebaran nanti “ lanjutnya. 

Anto semakin heran.

“ Tiket untuk mudik, kamu sudah punya kan? “ tanya Anto memastikan.

“ Belum! “ jawab Ahmad santai. Dan kami semua yang mendengar pembicaraan mereka jadi tertawa melihat Anto kebingungan, sementara Ahmad justru tenang-tenang saja.

Apa yang dilakukan Ahmad sebenarnya tidaklah berlebihan. Aku pernah melakukan hal yang sama saat akan mudik lebaran tahun lalu. Di awal-awal puasa, aku sudah meminta kakakku memesankan tiket bus untuk kami kembali ke Tangerang. Alasannya hanya satu, kami ingin berlebaran di kampung halaman dengan suasana yang benar-benar tenang dan nyaman, tanpa terbebani masalah tiket untuk balik. 

Bagi calon pemudik yang memiliki kendaraan pribadi, jelas tidak ‘mengerti’ dengan persoalan ini. Juga bagi calon pemudik yang berkantong tebal, tiket kendaraan bukanlah hal yang terlalu mencemaskan. Mereka bisa memesan kendaraan kelas VIP atau eksekutif atau ikut rombongan tanpa harus berdesak-desakan. Konsekuensinya mereka harus membayar harga tiket berlipat-lipat dibanding harga tiket kendaraan umum lainnya. Tapi itu bukan masalah, kalau duit di dompet habis, tinggal datangi ATM, tarik duit dan semua masalah teratasi.

Tapi bagi calon pemudik yang memiliki dana terbatas, tiket kendaraan adalah hal yang perlu dipersiapkan dengan matang. Tiket mudik dan tiket balik, pentingnya sama. Memang, banyak agen bus atau panitia rombongan yang sudah menawarkan tiket jauh sebelum datang bulan Ramadhan. Tapi ya itu, harganya bisa dua hingga tiga kali lipat dibanding tiket kendaaraan umum kelas ekonomi. Bagi Ahmad dan termasuk aku tentunya, kendaraan untuk mudik yang kami cari adalah yang mengutamakan keselamatan. Soal kenyamanan bonus sifatnya. Tak masalah mudik dengan bus kelas ekonomi yang panas, penuh bahkan berdesakan, asal bisa sampai tujuan dengan selamat, merayakan hari kemenangan bersama keluarga di kampung halaman.

Bagi kami, para pemudik yang memiliki dana terbatas, memikirkan tiket mudik dan tiket balik jauh lebih penting dan menarik ketimbang memikirkan kue-kue lebaran, minuman atau pakaian. Sebelum berangkat, kami harus memperhitungkan biaya untuk mudik, biaya hidup selama mudik dan biaya untuk kembali setelah lebaran. Semua biaya itu biasanya sudah dipisah-pisahkan sejak uang THR diterima.

Berburu tiket mudik bagiku sedikit lebih mudah dibanding mencari tiket balik setelah lebaran. Jelas keduanya berkaitan dengan uang yang ada di tangan. Untuk mudik kami bisa sedikit memilih bus mana yang akan kami naiki, maklumlah saat itu dompet di kantong masih cukup tebal. Tapi ketika hendak balik, dimana dompet sudah semakin menipis, maka kesempatan memilih sudah tak ada lagi. Bus kelas ekonomi jadi satu-satunya pilihan kami. Dan selain identik dengan panas, penuh, pengap dan berdesakan, resiko lainnya adalah kami harus bersaing mendapatkan tiket dengan sesama calon penumpang lainnya jika kami membeli tiket setelah lebaran di hari atau beberapa hari sebelum tanggal keberangkatan.

Berdasarkan pengalaman mudik tahun sebelumnya, lebaran tahun kemarin aku sengaja meminta kakakku yang di kampung untuk memesan tiket balik sejak awal puasa. Aku tak mau mengulang pengalaman tahun sebelumnya, dimana aku harus balik ke agen bus dua hari berturut-turut karena di hari pertama aku hanya mendapatkan satu tempat duduk, sedang dua lainnya hanya tiket cadangan. Tiket cadangan dalam suasana lebaran adalah kata ganti untuk tiket berdiri. Akhirnya tiket aku batalkan, tak kuat rasanya harus berdiri selama sepuluh hingga dua belas jam. Hari kedua aku kembali mendatangi agen bus sebelum subuh, kali ini dengan mengajak dua orang ponakan karena pemilik agen bus membuat peraturan satu orang satu tiket tempat duduk. Boleh membeli lebih dari itu asal rela mendapatkan tiket cadangan alias berdiri. 

Mengapa kami harus berangkat sepagi itu? Karena kami harus mengambil nomor antri, beradu cepat dengan calon pembeli tiket lainnya. Sebenarnya agen bis itu bukanlah satu-satunya. Tapi agen bus yang menjual tiket dengan harga terjangkau kantongku hanya itu. Selain itu harapan untuk mendapatkan tempat duduk lebih besar asal kita mau datang lebih awal. Ada banyak agen bus yang menjual tiket, tapi kalau bukan karena tempat duduknya sudah habis ya harganya jauh lebih mahal karena menggunakan bus carateran. Dan agen bus di pinggir rel kereta api inilah yang menjadi pilihanku. Agen ini tidak melayani pemesanan, hanya menjual tiket untuk keberangkatan sore harinya. Siapa cepat dia dapat. Dan meski saat menjalani terasa pahit, namun pengalaman ini justru menambah kesan mudik lebaran, menjadi kenangan yang tak mudah terlupakan. 

Berdasarkan pengalaman itulah, maka tahun berikutnya aku menyiasati persoalan tiket dengan cara memesan tiket balik sejak awal bulan Ramadhan. Alhamdulillah persoalan tiket bisa kami atasi. Dan strategi inilah yang kini diikuti Ahmad.

“ Ternyata mudik lebaran itu repot banget ya?” Anto berkomentar.

“ Dibilang repot, ya memang repot. Tapi repotnya tak seberapa bila dibanding dengan apa yang kami dapatkan, yang kami rasakan “ jawab Ahmad. Angannya melayang pada kampung halamannya, pada keluarga yang sudah sangat dirindukannya.

Ada dua hal yang menyebabkan Anto tidak bisa merasakan serunya mudik sehingga yang terbayang olehnya hanya repotnya saja. Pertama, Anto adalah warga asli Tangerang dan dia berasal dari keluarga yang berada. Kalau mudik diartikan pulang ke rumah atau kampung halaman, setiap hari Anto mudik dari tempatnya bekerja. Dan kalaupun Anto berminat mudik ke tempat saudaranya, dia tak memiliki masalah dengan biaya. Dengan uang jajannya dia bisa membeli tiket bis atau kereta eksekutif. Atau bahkan dia bisa mengajak sekalian teman-temannya mudik dengan mobilnya. Yang kedua, Anto adalah non muslim sehingga dia tidak bisa merasakan indahnya silaturahmi saat Idul Fitri. Bagaimanapun mudik lebaran berbeda suasana dan rasanya dengan mudik-mudik di bulan biasa. Silaturahmi di hari lebaran jauh lebih berkesan dibandingkan hari-hari biasa. 

Mudik lebaran memang repot, tapi jarang orang yang merasa kapok. Mudik lebaran memang capek dan menguras tenaga, tapi badan cepat kembali segar setelah berkumpul dengan keluarga. Mudik lebaran memang banyak menghabiskan uang, tapi sungguh menyenangkan. Waktu, tenaga, uang menjadi kecil bila dibandingkan dengan keindahan merayakan hari lebaran, bersilaturahmi dengan keluarga, tetangga, kerabat dan juga sahabat. 

Bagaimana, apakah anda sudah memutuskan tahun ini akan merayakan lebaran di mana, dengan siapa? Sekedar mengingatkan, bagi anda yang berencana mudik, merayakan lebaran bersama keluarga di kampung halaman, persiapkan segala sesuatunya dengan matang agar mudik dan liburan anda menjadi nyaman. Tetap berhati-hati dan waspada serta utamakan keselamatan. Dan yang tak kalah penting adalah gunakan mudik dan liburan ini untuk menyambung silaturahmi. Silaturahmi bukan ajang untuk pamer kekayaan, kesuksesan, jangan sampai melukai perasaan orang lain. Tapi silaturahmi adalah kesempatan untuk berbagi kebaikan, kebahagiaan , informasi dan lebih bagus lagi kalau bisa berbagi rejeki. Dan bagi yang tidak bisa mudik lebaran tahun ini, semoga tidak mengurangi kebahagiaan di hari kemenangan. Jangan terlalu dirasa sedih sebab masih banyak sahabat, kerabat, tetangga dan saudara seagama. Jangan merasa sendiri di dunia ini, karena teman kerjapun sesungguhnya adalah keluarga.

* Postingan ini akhirnya diikutkan juga dalam kontes mudik ke blogor dalam rangka ulang tahun Blogor yang ke dua.

Gambar dipinjam dari sini

Reuni SMP

Posted by Abi Sabila on Rabu, Agustus 25, 2010
Pa’e baru pulang dari sholat Ashar di mushola dan belum sempat mengucapkan salam ketika sekonyong-konyong Bu’e sudah berdiri di depan pintu dengan senyum ‘Monalisa’ nya.

“ Assalamu’alaikum “ ucap Pa’e agak gugup. Pa’e tak menyangka kalau Bu’e akan muncul secepat itu, padahal Pa’e belum membaca mantranya. Hihihi…

“ Waalaikum salam “ jawab Bu’e masih dengan senyum yang konon telah sukses membuat Pa’e muda tak enak makan dan tak nyenyak tidur hingga berhari-hari lamanya. “ Tadi waktu Pa’e masih di mushola, ada yang nelpon. Namanya Zacky, dia nyariin Pa’e “ Bu’e melanjutkan. Rupanya kemunculan Bu’e di depan pintu adalah untuk menyampaikan kabar penting ini sebelum Bu’e lupa, seperti kemarin Bu’e lupa memasukkan gula ke dalam kolak pisangnya.Hehehe

“ Zacky….?” Pa’e terlihat asing dengan nama yang disebut Bu’e.

“ Teman SMP “ Bu’e memberikan klue untuk membantu ingatan Pa’e. Bu’e tak tega membiarkan Pa’e kerepotan mengurutkan nama teman-temannya dari abjad A sampai Z. Bisa-bisa pas Adzan Maghrib berkumandang, Pa’e belum menemukan siapa sosok yang bernama Zacky yang mengaku teman SMP nya.

“ Teman SMP…?” Pa’e terlihat serius mencari-cari nama Zacky dalam daftar memorinya. 

Dengan sabar Bu’e memberi kesempatan kepada Pa’e untuk melacak nama Zacky apakah benar nama itu pernah tercatat sebagai teman SMP nya. Sesaat kemudian wajah Pa’e berubah menjadi cerah dan bergairah. “ Alhamdulillah, akhirnya Pa’e inget juga “ Bu’e membatin.

“ Mau ngajak buka puasa bersama ya ?!” tuduh Pa’e tanpa malu dan ragu.

“ Musyawarah acara reuni SMP. Katanya lebaran nanti teman-teman SMP Pa’e mau mengadakan reuni !” jawab Bu’e rada-rada mangkel. Apa yang ada dalam benak Bu’e ternyata tak sama dengan apa yang diucapkan Pa’e.

“ Tapi sambil buka puasa bersama juga kan ?” Pa’e ngotot dengan tebakannya.

“ Iya juga sih !” akhirnya Bu’e pasrah. Sejak puasa naluri Pa’e memang lebih tajam, hampir semua tebakannya selalu tepat, khususnya yang berkaitan dengan undangan buka puasa bersama. Hihihi….

“ Kapan Bu’e ?” tanya Pa’e bersemangat.

“ Besok !” jawab Bu’e ikut-ikutan semangat. Pasti Bu’e mulai berhayal bahwa dia juga akan diajak Pa’e ikut buka puasa bersama.

“ Jam berapa ?” Pa’e semakin bersemangat.

Bu’e tak langsung menjawab. Agak bingung juga Bu’e menjawab pertanyaan Pa’e. Setahu Bu’e namanya buka puasa bersama ya pasti maghrib. Iya tho?! 

“ Jam berapa Bu’e?” Pa’e pura-pura tak sabar. Padahal Pa’e sedang ingin mengajak Bu’e bercanda.

“ Ya Maghrib lah Pa’e ! “ jawab Bu’e mencoba sabar, barangkali Pa’e ini jelmaan malaikat yang datang untuk menguji kesabaran Bu’e. Hehehehe

Berbeda dengan semenit sebelumnya, semangat Pa’e terlihat menurun. 

“ Ya, kok maghrib sih? Apa nda bisa dimajuin jam empat atau jam empat lewat dua menit gitu! “ Pa’e bicara layaknya orang linglung bahkan orang linglung juga ga gitu-gitu amat kali! Hihii Sst…! Jangan bilang ke Bu’e kalau ini hanya akal-akalan Pa’e untuk meledek Bu’e. Sejak awal Pa’e merasa gemes karena Bu’e tahu-tahu nongol sebelum dibacakan mantra. Hihihi

Bu’e merasa bahwa Pa’e yang baru pulang dari mushola ini di’susupi’ malaikat yang sengaja datang untuk menguji seberapa besar kesabaran Bu’e.

“ Memangnya besok Pa’e ada undangan di tempat lain? Kalau ada dan berbarengan waktunya mendingan Pa’e telpon Zacky sekarang, minta acara buka puasa di rumahnya di majuin saja wakatunya. Jadi nanti Pa’e eh kita maksudnya masih bisa ikut acara buka puasa di tempat lain “ kali ini Bu’e yang bicara kayak orang bingung. Hihihi….

Pa’e agak terkejut juga dengan saran Bu’e. Dia nda nyangka kalau jurus becandanya sudah ditebak Bu’e bahkan Bu’e mengeluarkan jurus maboknya pula. 

Merasa jebakannya diketahui lawan, akhirnya Pa’e kembali ke pribadi aslinya yang wibawa dan romantis.

“ Insya Allah, besok kita berangkat. Kebetulan aku sudah lama nda ngumpul dengan teman-teman SMP ku. Kamu harus ikut ya Bu’e “ Pa’e bicara dengan nada yang berbeda, jauh dengan skrip sebelumnya.

“ Insya Allah Pa’e “ jawab Bu’e menahan rasa bahagianya. Sebenarnya Bu’e menganggap kata harus yang diucapkan Pa’e adalah sebuah pemborosan, kesannya kayak Bu’e nda mau gitu loh, pake di harus-harusin segala. Padahal nda diajakpun Bu’e dah menyiapkan proposal tak tertulis biar diajak Pa’e. Ingin selalu berdua di manapun, kapanpun, bagaimanapun, baik suka maupun duka, begitu alasan Bu’e agar Pa’e mau mengajak Bu’e terutama untuk acara yang ada embel-embel gratisnya. Hihihi…nda ding! Fitness itu!

“ Besok kita berangkat bada’ Ashar. Kita mampir ke pasar dulu, kita beli kurma sama sirup atau buah “ ujar Pa’e saat mereka sudah masuk ke dalam ruang serba guna mereka. ( Masih inget dengan ruang serba guna Pa’e dan Bu’e? Baca postingan berlabel Pa’e dan Bu’e edisi berikutnya. Agak sedikit maksa dot com )

“ Loh, kan mereka yang ngundang kita. Apa perlu kita membawa makanan dan minuman sendiri. Bukannya kita tinggal terima beres saja. SMP, sudah makan pulang “ sisi hitam Bu’e mulai mempengaruhi omongan Bu’e. 

“ Bu’e, memang benar kita yang diundang di acara buka puasa besok. Logikanya, mereka pasti sudah siap dengan segala hidangan buka puasanya. Tapi kan besok ada acara musyawarah reuni SMP juga, mestinya temen-temen SMP yang diundang juga banyak. Kasihan kan kalau semua hidangan ditanggung tuan rumah sendiri. Lagian memberi makan orang yang berpuasa itu kan pahalanya besar, selain pahala puasa kita sendiri, kita juga bisa mendapatkan tambahan pahala sebesar pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut” ujar Pa'e bijak

“ Iyo Pa’e, wong aku cuma becanda kok! Tapi ngomong-ngomong uang belanjaku tinggal sedikit je, Pa’e yang mbayarin kurma, sirup sama buahnya kan?” tuduh Bu’e tanpa memberi kesempatan pada Pa’e untuk berpikir apalagi bilang tidak. Hehehe…
 
“ Wis, tenang wae, aku sing nanggung!” jawab Pa’e meyakinkan. Dan Bu’e pun tersenyum sumringah. Siapa tahu nanti ada lebihan, bisa buat nambah-nambah uang belanja, Bu’e membatin. 

“ Satu lagi Pa’e” Bu’e hampir lupa bahwa sejak tadi Bu’e penasaran dengan orang yang mengaku bernama Zacky. Apa iya ada orang seangkatan Pa’e yang namanya sekeren itu.

Opo meneh ?” tanya Pa’e was-was.Pa’e khawatir Bu’e minta dibeliin baju dan sandal baru, padahal acaranya hanya sekedar buka puasa bersama. Tapi Pa’e tahu persis karakter Bu’e, tak mungkin dia meminta itu. Bu’e adalah wanita yang sederhana dan tahu diri. Pa’e beristighfar dalam hati karena sempat berfikir jahat tentang Bu’e. 

“ Aku penasaran, kayaknya aku baru denger temen SMP Pa’e yang bernama Zacky. Zacky siapa tho?” tanya Bu’e penasaran. Bu’e berharap teman SMP Pa’e adalah si Teuku Zacky. Hihihi…dari mana ketemunya ya?

“ Zackimin !” jawab Pa’e singkat, seperti menahan sesuatu.

****

Tulisan ini sengaja diposting dalam rangka ambil bagian dalam sertakan Gerakan SEO positif SMP dan Anak SMA dari bang Atta dan juga atas tag dari mbak Nyun-nyuN. Semoga niat baik ini membuahkan hasil yang nyata. Amin.

Mari, kepada semua nara blog yang peduli dengan moral anak bangsa untuk mendukung gerakan ini dengan cara membuat postingan menggunakan keyword SMP sebanyak-banyaknya. Selamat bergabung!

Puasa Itu Menahan, Bukan Menunda

Posted by Abi Sabila on Senin, Agustus 23, 2010
Hari terus berganti, waktupun berlalu. Tak terasa puasa kita sudah memasuki putaran sepuluh hari yang kedua. Alhamdulillah, Allah masih memberikan kepada kita nikmat umur, nikmat sehat, dan terutama nikmat iman, islam dan hidayah sehingga kita bisa meneruskan puasa hingga genap sebulan, insya Allah.

Sebagai bekal menjalani sepuluh hari kedua dan ketiga, penting kiranya kita menginterospeksi, mengukur diri, seberapa sukses puasa kita di sepuluh hari pertama. Apakah di mata Allah puasa kita bernilai ibadah, ataukah hanya sekedar mendapatkan lapar dan dahaga saja.

Adalah sangat rugi bila perjuangan menahan lapar, haus dan tidak berhubungan badan sepanjang siang tidak bernilai ibadah. Banyak orang yang benar-benar hanya mendapatkan lapar dan dahaga karena ketika berpuasa anggota tubuh mereka lainnya melakukan hal-hal yang bisa mengurangi bahkan menghilangkan pahala sama sekali. Mata, telinga, mulut, tangan, kaki dan juga hati mungkin tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, tapi melakukan hal dan perbuatan yang bisa membakar pahala puasa.

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta, dan pengamalannya, serta amal kebodohan, maka Allah tidak butuh pada amalannya meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Bukhari).

Kita memang tidak bisa mengetahui secara pasti seberapa besar nilai ibadah puasa kita di mata Allah. Tapi kita bisa mengusahakan agar puasa kita mendekati sempurna, bukan sekedar tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan badan di siang hari. Kita bisa mengoreksi diri sendiri, seberapa banyak dan seberapa jauh kemampuan kita menahan nafsu, mengendalikan emosi sepanjang hari - siang dan malam - dari hari ke hari. Apakah puasa kita di siang hari telah membawa perubahan di malam hari? Ataukah keduanya masih berjalan berlawan arah, berpuasa di siang hari namun tetap bermaksiat di malam hari?

Prihatin rasanya, ketika satu waktu sepulang dari mushola mendapati sepasang muda-mudi sedang asyik berduaan. Meski bukan di tempat sepi, tapi tetap saja yang mereka lakukan tidak dibenarkan agama. Sepertinya sholat taraweh di mushola hanya dijadikan alasan untuk melegalkan agenda keluar rumah. Rencana yang sebenarnya adalah janji bertemu dengan pujaan hati. Bila diingatkan, mereka berkilah. “Kita juga tahu kalau orang puasa tidak boleh pacaran, bisa mengurangi pahala puasa. Tapi ini kan malam, kita tidak sedang berpuasa kok!” begitu alasan mereka. Astaghfirulloh! Larangan berpacaran itu bukan saja ketika sedang berpuasa, di dalam bulan puasa. Tapi berlaku sepanjang masa, baik siang maupun malam, baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan. Tak ada alasan yang bisa digunakan untuk membenarkan apa yang kalian lakukan.

Juga sedih rasanya ketika mendapati orang-orang yang asyik bergunjing selesai tarawih atau mengakses situs-situs porno di warnet dan hp. Mana, kemana efek puasa yang telah mereka jalani sepanjang hari tadi? Astaghfirulloh! Hampir tak terlihat sama sekali. Seakan-akan puasa dan segala hal yang dijaganya berakhir ketika datang waktu berbuka.

Puasa itu menahan, mengendalikan, bukan menunda. Sehingga ketika waktu berbuka telah tiba, semestinya kita tetap mampu menahan dan mengendalikan nafsu, bahkan hingga ketika bulan Ramadhan telah berlalu. Puasa bukanlah menggeser waktu, dari siang menjadi malam. Siang berpuasa, malam hari puas-puasin. Siang di tahan-tahan, ketika malam layaknya orang balas dendam.

Kata “puasa” dalam bahasa Arab, adalah “Ash-Shaumu” atau “Ash-Shiyaamu”. Sedangkan kata “Ash-Shiyaamu” menurut bahasa Arab adalah semakna dengan “Al-Imsaku” artinya : menahan dari segala sesuatu, seperti menahan makan, menahan bicara, menahan tidur, atau dengan kata lain: mampu mengendalikan diri dari segala sesuatu (Al-Imsaaku wal-kaffu ‘anisy-syai) Sedangkan puasa (Ash-shiyaamu) menurut istilah (syari’at) agama Islam ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan (membukakan) selama satu hari penuh, sejak dari terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahari dengan niat mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. ( Dari berbagai sumber )

Mari kita jaga dan hormati bulan Ramadhan yang suci dan mulia ini. Kita manfaatkan bulan penuh barokah dan ampunan ini untuk mendidik diri kita menjadi pribadi yang taqwa. Puasa memang di siang hari, tapi Ramadhan bukan hanya siang, termasuk juga malam. Sayang sekali jika selama dua belas jam lebih kita menahan lapar, haus dan dorongan nafsu yang ketika di luar puasa halal kita lakukan, tapi ketika waktu berbuka datang, kita seolah lupa dengan segalanya. Kita seperti seorang pendendam yang bertemu setelah sekian lama menunggu. Meski makan, minum dan berhubungan suami istri halal di malam hari, tapi semestinya tetap dilakukan dengan terkendali.

Puasa yang sukses semestinya membawa perubahan sikap dan kepribadian seseorang. Ketika puasa dijalankan sebulan penuh, seharusnya cukup untuk mendidik kita dalam menghadapi sebelas bulan berikutnya. Sangat sayang jika puasa yang kita kerjakan tidak menghasilkan apa-apa. Puasa perut dan syahwatnya, tapi mata, telinga, tangan, kaki dan hatinya berlaku seperti biasa, mengikuti nafsu belaka. Jangankan sebelas bulan berikutnya, sehari-harinya saja tak lebih dari sekedar perubahan gaya hidup, pengalihan waktu dari siang ke malam saja. Astaghfirulloh! Sungguh, semoga kita tidak termasuk golongan yang demikian. Amin.

Gambar dipinjam dari sini