Tuesday, September 17, 2013

Buaya Senyulong Langka Ditemukan di Hutan Harapan



 
Melepas kembali buaya Senyulong ke habitatnya. Ini buaya langka yang baru pertama kali ditemukan di sungai di dalam kawasan Hutan Harapan. Keberadaan reptil langka ini semakin menunjukkan bahwa Hutan Harapan memang sangat perlu tetap dilestarikan dan dilindungi dari penghancuran sistematis oleh orang-orang serakah yang hanya mau mengeksploitasi lahan hutan,  
                     
Batanghari, Jambi - Hari Minggu, 1 September 2013, menjadi catatan penting bagi keberadaan hutan restorasi ekosistem Hutan Harapan. Seekor buaya besar berhasil ditemukan dan ditangkap oleh Solimin (40) warga suku anak dalam (SAD) setelah menggigit betis rekannya, seorang warga SAD lain,  bernama Nurdin (50) yang sedang mencari labi-labi di Sungai Bungin, di dalam lokasi Hutan Harapan yang berada di bagian wilayah Jambi.

Oleh Solimin, hasil tangkapannya itu kemudian dilaporkan ke petugas di Hutan Harapan. Temuan baru yang sangat istimewa ini kemudian diukur, ditimbang dan dicatat untuk keperluan penelitian. Panjang individu spesies ini  dari kepala sampai ekor adalah 2,25 m  dengan berat badan 35 kg, berjenis kelamin betina.  Diperkirakan buaya ini masih berumur remaja dan masih ada lagi buaya dewasa yang hidup bebas di dalam Sungai Bungin.    Setelah dilakukan pencatatan dan pengukuran serta pengambilan foto, buaya ini kemudian dilepaskan kembali ketempatnya semula ditemukan.

Sebelum ini, memang pernah ada  cerita dari beberapa orang warga  SAD di dalam Hutan Harapan  tentang keberadaan buaya Senyulong, seperti di Sungai Kapas, Sungai Lalan, Sungai Badak, Sungai Beruang, Sungai Penyerukan dan Sungai Bungin.  Namun, semua cerita itu belum ada yang dapat diverifikasi kebenarannya. 

Berdasarkan hasil pencatatan dan identifikasi, dapat dipastikan temuan ini adalah jenis buaya Senyulong Sumatra T. schlegelii yang sudah dianggap langka.

Buaya Senyulong atau dikenal juga dengan sebutan julong-julong (Tomistoma schlegelii) merupakan salah satu spesies dari 7 spesies buaya yang ada di Indonesia.  Spesies ini tersebar di Pulau Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Perbedaan yang cukup kentara  dari jenis-jenis buaya lainnya adalah moncongnya yang relatif sempit (rahangnya menyempit secara gradual), pipih dan panjang, mirip buaya gavial yang ditemukan di sungai Gangga, India.  Karena bentuk moncongnya yang khas ini, kadang-kadang disebut juga buaya ikan.  Umumnya ditemukan di  sungai-sungai besar dan kecil, perairan rawa air tawar dan lahan basah dataran rendah.  Pada umur dewasa, spesies ini dapat mencapai panjang  hingga 3-4 meter.

Spesies buaya Senyulong ini dilindungi oleh undang-undang perlindungan fauna dan flora Indonesia, sedangkan secara internasional  sudah termasuk kategori genting (Endangered) yang terdaftar dalam daftar merah International Union and Conservation Nature (IUCN).

“Hingga saat ini, data dan status keberadaan populasi spesies buaya Senyulong ini masih sangat miskin,” kata Achmad Yanuar, PhD, kepala departemen Riset dan Pengembangan Hutan Harapan.  “Dikhawatirkan spesies ini semakin terancam keberadaannya karena habitatnya yang sudah semakin rusak. Ke depan, akan ada survei populasi buaya Senyulong di kawasan hutan Harapan untuk mengetahui status konservasinya.”




PROFIL HUTAN HARAPAN (HARAPAN RAINFOREST)

Hutan Harapan adalah eks kawasan pengusahaan Hutan Produksi yang kini sudah dialihkan kepada Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) untuk dikelola dan dipulihkan kembali  ekosistemnya (restorasi). Izin pengelolaan Hutan Harapan ini berdasarkan SK Menhut No 293/Menhut-II/2007:28 Agustus 2007 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 52.170 ha di Provinsi Sumatera Selatan. SK Menhut No 327/Menhut-II/2010 25 Mei 2010 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 46.385 ha di Provinsi Jambi.

Hutan Harapan dikelola secara non-profit, kegiatannya dibantu oleh lembaga donor dan dikelola sepenuhnya oleh warga Indonesia. Program restorasi Hutan Harapan ditujukan agar hutan yang terletak di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan ini bisa dikembalikan menjadi hutan alam seperti semula. Diharapkan, Hutan Harapan akan menjadi tempat di mana suku asli bisa hidup damai di dalamnya dan memanfaatkan hasil hutan non-kayu, sambil tetap menjaga dan mempertahankan ekosistem Hutan Harapan. Kehancuran Hutan Harapan berarti kehancuran kehidupan bagi penduduk asli yaitu, Suku Bathin Sembilan, yang secara turun temurun hidup berpindah dan mencari penghidupan di dalam hutan.

Hutan Harapan adalah hutan dataran rendah terakhir yang masih tersisa di Pulau Sumatera. Program restorasi Hutan Harapan merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dan juga yang pertama di Indonesia. Bila  restorasi Hutan Harapan berhasil, maka Hutan Harapan akan menjadi model positif yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan hutan alam di Indonesia dan dunia. Keberhasilan restorasi Hutan Harapan juga sedikit banyak akan memperbaiki citra Indonesia di mata internasional, yang saat ini reputasinya dikenal sebagai salah satu negeri dengan laju kehancuran hutan tercepat  di dunia.

Saturday, July 20, 2013

Hutan Harapan Kecam Perburuan Satwa Langka



Tapir langka yang dijerat pemburu liar dan kemudian mati mengenaskan. Para pemburu ini biasanya memasang jerat untuk menangkap harimau yang punya daya jual tinggi, tapi kadang yang masuk perangkap mereka justru hewan lain yang juga dilindungi tapi tidak bernilai komersial di pasar gelap. (FOTO: RISET REKI)   

Batanghari, Jambi – Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) selaku pengelola  Hutan Harapan mengecam keras ulah segelintir orang yang terus melakukan perburuan satwa langka di dalam kawasan hutan restorasi ekosistem. Satwa terakhir yang menjadi korban jerat pemburu gelap adalah seekor tapir (tapirus indicus), yang ditemukan oleh tim Riset Hutan Harapan tapi kemudian tidak dapat diselamatkan karena kondisi tubuhnya sudah terlalu lemah.

Anggota staf Riset Hutan Harapan menemukan tapir tersebut saat sedang melakukan pengecekan camera trap di dalam kawasan hutan yang mendekati wilayah Kabupaten Sarolangun pada 24 Juni 2013.  Tapir tersebut ditemukan dalam keadaan kaki kanan depannya terjerat tali sling (kabel baja) dan sedang berjuang melepaskan diri dari jerat. Jerat diyakini dipasang pemburu gelap yang bermaksud menangkap Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae). Model jerat ini didesain secara khusus di mana hewan yang masuk jerat akan sulit melepaskan diri bahkan bisa berakibat kematian.

Tim Riset berusaha keras membantu melepaskan kawat baja dari kaki tapir tersebut. Tapir muda berjenis kelamin betina dengan berat sekitar 150 kg kemudian hanya bisa terbaring sekarat karena mengalami luka cukup parah pada bagian kaki depan. Karena kondisi lukanya, tapir tersebut kemudian menemui ajal di lokasi. Seluruh bukti dan fakta lapangan kemudian disimpan tim Riset Hutan Harapan untuk tindak lanjut dan pelaporan.

Jerat harimau terbuat dari tali baja  yang dipasang pemburu gelap.

“Kami sangat menyesalkan peristiwa ini dan mengecam keras aktifitas perburuan satwa di dalam kawasan hutan,” kata manajer Public Relations Hutan Harapan, Surya Kusuma. “Kami mengimbau agar masyarakat tidak saja turut serta menjaga kelangsungan hutan, tapi juga ekosistem yang ada di dalamnya, termasuk banyak satwa langka Sumatra yang kini sudah terancam punah.”

Populasi tapir Sumatra cenderung menuju kondisi terancam punah. Manusia menjadi faktor utama ancaman bagi kehidupan  tapir, antara lain karena kegiatan perburuan liar, perambahan dan illegal logging yang menghabisi hutan, hingga perdagangan satwa ilegal.

“Ke depan, kami akan semakin meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah jatuhnya lagi korban hewan  yang dilindungi mati sia-sia akibat jerat pemburu gelap. Kami juga mempersilakan masyarakat untuk melaporkan temuan yang mencurigakan atau melaporkan aktifitas  orang-orang tertentu terkait perburuan satwa yang dilakukan di dalam hutan,” kata Surya Kusuma.
  


PROFIL HUTAN HARAPAN (HARAPAN RAINFOREST)

Hutan Harapan adalah eks kawasan pengusahaan Hutan Produksi yang kini sudah dialihkan kepada Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) untuk dikelola dan dipulihkan kembali  ekosistemnya (restorasi). Izin pengelolaan Hutan Harapan ini berdasarkan SK Menhut No 293/Menhut-II/2007:28 Agustus 2007 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 52.170 ha di Provinsi Sumatera Selatan. SK Menhut No 327/Menhut-II/2010 25 Mei 2010 mengenai IUPHHK Restorasi Ekosistem Hutan seluas 46.385 ha di Provinsi Jambi.

Hutan Harapan dikelola secara non-profit, kegiatannya dibantu oleh lembaga donor dan dikelola sepenuhnya oleh warga Indonesia. Program restorasi Hutan Harapan ditujukan agar hutan yang terletak di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan ini bisa dikembalikan menjadi hutan alam seperti semula. Diharapkan, Hutan Harapan akan menjadi tempat di mana suku asli bisa hidup damai di dalamnya dan memanfaatkan hasil hutan non-kayu, sambil tetap menjaga dan mempertahankan ekosistem Hutan Harapan. Kehancuran Hutan Harapan berarti kehancuran kehidupan bagi penduduk asli yaitu, Suku Bathin Sembilan, yang secara turun temurun hidup berpindah dan mencari penghidupan di dalam hutan.

Hutan Harapan adalah hutan dataran rendah terakhir yang masih tersisa di Pulau Sumatera. Program restorasi Hutan Harapan merupakan salah satu yang terbesar di dunia, dan juga yang pertama di Indonesia. Bila  restorasi Hutan Harapan berhasil, maka Hutan Harapan akan menjadi model positif yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan hutan alam di Indonesia dan dunia. Keberhasilan restorasi Hutan Harapan juga sedikit banyak akan memperbaiki citra Indonesia di mata internasional, yang saat ini reputasinya dikenal sebagai salah satu negeri dengan laju kehancuran hutan tercepat  di dunia.



Friday, May 31, 2013

Restorasi Hutan Harapan Terancam Jalan Angkut Batubara

Peta rencana jalan lalu lintas  truk  angkut batubara setiap hari melalui Hutan Harapan dari wilayah Sumatera Selatan hingga Jambi. Garis merah adalah rencana jalur pembukaan jalan untuk angkutan batubara PT MMJ. Bisa dipastikan, dampak dari pembukaan jalan untuk aktivitas pertambangan batubara ini akan semakin menghancurkan upaya pemulihan hutan terdegradasi yang sedang dilakukan Hutan Harapan. 


Jambi, Kompas - Restorasi ekosistem Hutan Harapan di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan terancam oleh rencana pembangunan jalan angkut batubara oleh salah satu anak usaha perusahaan terbuka di Jambi. Pemegang konsesi kawasan tersebut menolak rencana pembangunan jalan tersebut. Alasannya untuk menjamin kelestarian ekosistem dataran rendah Sumatera tersebut.

”Kami dua kali menyampaikan surat penolakan atas rencana pembangunan jalan itu kepada Kementerian Kehutanan. Namun, hingga kini belum ada tanggapan,” ujar Urip Wiharjo, Kepala Divisi Perlindungan Hutan PT Restorasi Ekosistem selaku pengelola Hutan Harapan, Minggu (26/5).

Surat tersebut menolak rencana pembangunan jalan angkut batubara sepanjang 48 kilometer di kawasan itu. Alasannya, pembukaan hutan restorasi mengancam ekosistem seluas 98.000 hektar. Apalagi, jalur jalan yang bakal dibuka merupakan kawasan inti dengan tutupan vegetasi untuk ruang jelajah 26 jenis satwa langka, seperti harimau sumatera, gajah sumatera, dan burung rangkong.

Menurut Urip, pembangunan prasarana untuk kepentingan pertambangan di kawasan terebut melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2013 tentang Perubahan Aturan atas Pedoman Pinjam Pakai Hutan. Sebab, berdasarkan Pasal 10B kawasan hutan produksi yang memiliki izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu restorasi ekosistem di hutan alam tidak dapat diberikan izin untuk tambang.

Surya Kusuma dari bagian Humas PT Restorasi Ekosistem mengatakan, upaya pemulihan Hutan Harapan akan terganggu jika jalan dibuka. ”Minimal 154 hektar vegetasi hutan bakal hancur kalau kawasan itu dilalui jalan. Ini berarti merusak jalur jelajah satwa,” ujarnya.

Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Batanghari Suhabli mengatakan, izin pinjam pakai hutan untuk pembangunan jalan tambang menjadi otoritas Kementerian Kehutanan. Untuk mengecek kelayakan lokasi pembangunan jalan, pihaknya mengirim tim ke lokasi.

Jalan ditutup

Sementara itu, untuk mencegah rusaknya infrastruktur jalan ke Pelabuhan Bagendang, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang berencana menutup jalan tersebut. Rencana itu akan direalisasikan jika truk-truk dengan muatan berlebihan masih melintasi jalan menuju pelabuhan.

Sesuai pantauannya, beban truk-truk ke Bagendang minimal 11 ton. Padahal, jalan hanya mampu menahan beban delapan ton. Setiap hari tercatat ada 580 angkutan truk menuju pelabuhan. Jika dihitung bolak-balik, jalan itu setiap hari dilalui truk sebanyak 1.160 kali. 

Sumber:  Kompas, Senin, 27 Mei 2013  
 

Friday, May 10, 2013

Perambahan Liar Marak di Taman Nasional di Provinsi Jambi



Seperti di Taman Nasional Jambi lainnya, perambah dan illegal logger juga masuk ke dalam kawasan hutan restorasi Hutan Harapan. Perambah dari Jawa, Sumatera Utara dan daerah lainnya berduyun-duyun masuk ke Provinsi Jambi dan menguasai lahan hutan secara brutal dengan menebangi pohon, membakar hutan, dan menguasai lahan serta menanaminya dengan kelapa sawit dan tanaman non-hutan lain. Ironisnya, seringkali mereka melakukan perambahan dan mengaku sebagai suku anak dalam (SAD) yang warga asli di hutan Jambi.



Jambi, Kompas – Perambahan liar semakin marak hingga ke dalam kawasan sejumlah taman nasional di Jambi. Jual-beli lahan untuk pembukaan kebun sawit tersebar di sepanjang pinggir Taman Nasional Bukit Duabelas. Sementara pembukaan kebun kopi telah membabat Taman Nasional Kerinci Seblat.

Berdasarkan pantauan Kompas dalam dua pekan terakhir, perambahan du ataman nasional itu kian meluas dibandingkan tiga atau empat tahun silam. Kawasan penyangga hingga ke pinggir kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Kabupaten Sarolangun, sudah diselimuti tanaman sawit berusia dua-tiga tahun. Padahal, perkebunan dalam kawasan ini sebelumnya merupakan hunian dan sumber penghidupan komunitas Orang Rimba.

“Kami pun tidak tahu siapa yang menjual lahan ini, tiba-tiba orang menanaminya dengan sawit,” ujar Basemen, pemangku adat Orang Rimba kelompok Kedundung Muda, Senin lalu.

Basemen mengetahui tanah di dalam kawasan taman nasional itu dijual oleh sejumlah oknum dengan harga Rp4 juta-Rp 5 juta per hektar.  Menurut Basemen,  areal yang  kini berubah menjadi kebun sawit sebelumnya merupakan hutan primer sebagai ruang berburu, melangun, dan hunian kelompok adat rimba.

Basemen mengatakan, orang-orang rimba telah menerapkan denda adat bagi pelaku yang diketahui merambah hutan. Namun, upaya itu tak serta-merta menghentikan praktik jual-beli lahan dalam kawasan taman nasional karena aktivitasnya menyebar. Pihaknya berharap otoritas setempat lebih tegas dalam menegakkan hukum bagi pelaku.

Di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), perambahan masih marak untuk penanaman kopi jenis robusta. Para perambah adalah kaum migran dari wilayah Sumatera Selatan dan Bengkulu. Jumlah pendatang yang merambah penyangga  hingga dalam kawasan taman nasional sudah lebih dari 15.000 orang. “Setiap minggu belasan bus datang mengangkut ratusan pendatang baru untuk membuka lahan menjadi kebun kopi. Kondisi ini sudah sangat meresahkan kami,” ujar Ishak, tetua adat desa tua Rantau Kermas, yang menempati kawasan TNKS.

Dia melanjutkan, maraknya kedatangan perambah sejak 10 tahun lalu turut memicu konflik sosial dengan penduduk asli. “Selama ini warga sekitar tidak merusak hutan, tetapi malah para pendatang yang membabat hutan ini jadi kebun,” ujarnya.

Kepala Balai TNKS Arief Toengkagie terus mengupayakan penegakan hukum dalam kawasan. Selain melalukan pemasangan papan larangan menebang pohon dan membuka kebn dalam kawasan  taman nasional, pihaknya juga melaksanakan operasi.

Sumber: Kompas, Kamis 2 Mei, 2013

Sunday, April 7, 2013

Tragis: Perambah Bacok Dua Petugas Keamanan PT LAJ di Jambi (UPDATE)



Sebagaimana di Kab. Tebo, Kelompok perambah terorganisir yang mengatasnamakan  SPI juga beramai-ramai masuk ke Hutan Harapan  dan menguasai lahan semau mereka. Hutan ditebangi dan dibakari lalu lahannya dikuasai (Lihat foto). Di Hutan Harapan mereka melakukan penyanderaan staf REKI, menyerang pos jaga berkali-kali dan seringkali mengancam akan menyerbu ke kamp Hutan Harapan. Kelompok ini juga kerap membentuk opini menyesatkan terhadap Hutan Harapan.


Warga dan Pengusaha HTI Bentrok, 4 Terluka



JAMBI, KOMPAS.com  Bentrokan antara warga pendatang dan petugas keamanan PT Lestari Asri Jaya, anak usaha Grup Barito Pasifik, mengakibatkan empat korban terluka karena dibacok. Mes dan dua alat berat perusahaan di Kecamatan Tujuh Koto Ilir, Kabupaten Tebo, Jambi, itu juga dibakar massa.

Hinggu Minggu (7/4), korban dirawat terpisah. Dua korban dari perusahaan, Yanto yang dibacok pada kepalanya dan Riki yang yang terluka pada bagian punggung, dirawat di Puskesmas Tebo. Dua korban dari massa, yang mengatasnamakan Serikat Petani Indonesia (SPI) Jambi, Sinaga dan Guntur, dirawat di Rumah Sakit Umum Raden Mattaher Jambi.

Kepala Polres Tebo Ajun Komisaris Besar Zainuri Anwar menemui massa, Minggu. Warga sepakat untuk tidak melakukan tindak anarki dan tak melanjutkan pembangunan pondokan untuk sementara. Polisi akan mempertemukan pihak perusahaan dan warga, Rabu lusa.

Menurut Zainuri, konflik yang berlangsung Sabtu pukul 16.00 itu bermula dari maraknya aktivitas pembukaan lahan dalam konsesi hutan tanaman industri (HTD) PT Lestari Asri Jaya (LAJ). Kelompok warga itu mulai membangun pondokan. Bermaksud menghentikan pembangunan dalam areal konsesinya, karyawan PT LAJ mendatangi warga. Massa SPI menolak larangan dari PT LAJ sehingga terjadi adu mulut. Dalam situasi yang memanas, kedua pihak pun saling serang.


Tak Tahu Persis

Ketua SPI Jambi Sarwadi mengaku tidak mengetahui persis yang lebih dahulu menyerang. Namun, dalam peristiwa itu, dua warga luka dibacok dengan kapak. Warga membuka dan menggarap lahan untuk ditanami karet dan sawit. Sebagian warga (mengklaim) sudah sudah menempati lahan itu sebelum perusahaan masuk tahun 2010.

Sebaliknya, dari PT LAJ menyebut serangan lebih dahulu dilakukan massa yang marah karena dilarang petugas keamanan. Tidak hanya itu, massa yang berjumlah sekitar 30 orang langsung membakar mes karyawan yang berada sekitar 1 kilometer dari lokasi, serta dua alat berat.

Manajer Lahan PT LAJ Haris Hutapea mengatakan, perusahaan mengungsikan sementara 30 karyawannya ke luar lokasi untuk memastikan keamanan mereka. Sekitara 50 anggota polisi dan TNI turun mengamankan lokasi itu.

“Kami minta aparat untuk memastikan keamanan karena ini terkait investasi yang harus dijaga,” tuturnya. PT LAJ adalah perusahaan HTI. Perusahaan itu tengah membuka lahan yang juga dikuasai warga.


Sumber: Kompas, Senin, 8 April, 2013.

Wednesday, March 13, 2013

Hutan Harapan Tanggapi Surat Hasan Badak, Kepala Keluarga Simpang Macan Luar

Berikut adalah tanggapan surat dari manajemen Hutan Harapan terhadap surat yang disampaikan seorang kepala keluarga kelompok SAD yang berdiam di Simpang Macan Luar, dekat perbatasan Hutan Harapan dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Kelompok keluarga ini didampingi LSM lokal yang biasa mendampingi kelompok perambah di dalam kawasan Hutan Harapan.



Kepada Yth.
Bapak Hasan B, Kepala Keluarga SAD Bathin 9, Kelompok Simpang Macan Luar
di.
Desa Bungku

Dengan hormat,
Kami mengucapkan terima kasih atas surat bapak tertanggal 11 Februari 2013.  Tanggapan kami:

1. Tidak ada bukti manajemen REKI melakukan peracunan terhadap tanaman sawit, komoditi perkebunan yang sebenarnya aturannya jelas diketahui dan dilarang ditanam di dalam kawasan hutan. Meski demikian, mengingat hubungan baik yang sudah terjalin selama ini antara manajemen REKI dengan kelompok keluarga bapak di Simpang Macan Luar, kami tetap membuka pintu selebarnya untuk bekerja sama pada tanaman lain yang lebih sejalan dengan pelestarian hutan.
Mengenai masalah penanaman bibit pohon untuk penghutanan kembali di lokasi belukar, Bapak Dulhadi telah sepakat menyatakan bahwa ini hanya masalah komunikasi antara manajemen REKI dengan beliau. Masalah ini sudah dianggap selesai oleh kedua belah pihak (pertemuan ini direkam).

2. Perlu kami informasikan, setelah pertemuan pada 12 Desember 2012, manajemen REKI telah berupaya menindaklanjuti dengan menghubungi Yunus sebagai pendamping dari LSM CAPPA dan penghubung LSM pendamping lain.  Kami sudah hubungi Yunus pada 8, 9 dan 11 Januari 2013 untuk menanyakan jadwal pertemuan selanjutnya. Tetapi hingga saat ini, Yunus belum  memberi kepastian kapan pelaksanaannya. Jika bapak tetap ingin melanjutkan pertemuan dengan manajemen REKI tanpa kehadiran pendamping, atau sebagai alternatif ingin menghadirkan perwakilan dari perhimpunan lembaga adat SAD Bathin Sembilan, Batanghari, kami selalu siap kapan saja.

3. Kami sangat menyesalkan dimulainya aktivitas perintisan pengkavlingan dan pembukaan lahan baru di kawasan hutan. Ini merupakan pelanggaran kesepakatan bersama. Kami juga menyesalkan didatangkannya massa dari luar dan rencana mendatangkan massa lebih banyak lagi dari luar untuk kegiatan pembukaan lahan hutan.  Manajemen REKI dan bapak telah membuat kesepakatan pada 12 Desember 2012, bahwa setiap kegiatan di lapangan harus dikomunikasikan kepada kami lebih dulu. Dengan demikian, kegiatan melibatkan semua pihak dari keluarga bapak, LSM pendamping dan dari REKI. Kami tegaskan, bahwa manajemen REKI tetap ingin bekerja sama dengan semua kelompok masyarakat SAD di dalam kawasan Hutan Harapan, termasuk dengan kelompok keluarga bapak.

4. Sebagaimana dibuktikan selama ini, manajemen REKI  tidak pernah dan tidak akan pernah melakukan intimidasi, apalagi kekerasan, terhadap keluarga kelompok bapak di Simpang Macan Luar, ataupun masyarakat SAD di lokasi Hutan Harapan lainnya. Seluruh masyarakat SAD Bathin Sembilan di dalam Hutan Harapan merupakan bagian dari kami dan memainkan peran penting dalam upaya menjaga hutan agar tetap bisa dinikmati hingga anak dan cucu kelak. Terima kasih.
    
     Hormat kami,

Yulius
Kepala Divisi Kemitraan

Friday, March 8, 2013

Indonesia Fights for Harapan Rainforest in Jambi & South Sumatra Provinces



Hutan Harapan or Harapan Rainforest is one of the last lowland rain forests left in Sumatra island, Indonesia. It is the first ecosytem restoration project in Indonesia and one of the biggest in the world, managed by international consortium led by Burung Indonesia, RSPB and Birdlife International. While most of the forests in Sumatra are converted into oil palm plantations and timber production forest for exploitation, Harapan Rainforest offers a new hope of reforestation which can improve the livelihood of the indigenous people of the forest and provides  a sanctuary for Sumatran tigers, elephants and other unique wildlife. Harapan Rainforest has become the centre of attention of the world due to its ambitious mission which could be one of the most resourceful tropical lowland rainforests for research, science and hopefully a global benchmark of  successfull reforestation. Help us to make it happen!